Bumi Tanpa Langit

fotta
Chapter #11

BAB 5 - Bayangan di Balik Cahaya (Bagian II)

Langit di luar mulai kelabu, menggantung rendah di atas gedung olahraga yang sunyi. 

Bola terus memantul di lantai lapangan yang nyaris gelap. Hanya satu lampu sorot di sudut ruangan yang masih menyala, menyorot tubuh Erde yang bergerak cepat di tengah keheningan. Napasnya berat, ritmis, berpadu dengan suara bola dan hentakan sepatunya di lantai.

Setiap lemparan, setiap pantulan, seperti pelampiasan pada sesuatu yang tak sanggup ia ucapkan. Tangannya memukul bola lebih keras dari seharusnya, gema kasar itu memantul ke seluruh ruangan.

Keringat menetes di pelipisnya, tapi ia tak berhenti. Bayangan wajah Himmel terus muncul di benaknya—tawa ringan, ucapan lembut yang terasa tajam, dan tatapan belas kasihan yang selalu menusuknya.

Erde menggigit bibir bawah, melempar bola keras ke papan ring. Pantulannya menghantam dadanya. Sakit. Tapi entah kenapa, rasa sakit itu justru membuatnya tetap berdiri.

“Sekali-sekali pengin ngerasa normal, boleh, kan?”

Suara Himmel terngiang di kepala, samar tapi tajam, menyusup di sela pantulan bola. Bersamaan dengannya, muncul juga gema suara lain yang lebih menusuk.

“Emang lo ga capek apa jadi bayangan? Gue saranin, sih mending lo ilang aja, deh dari sini.”

Ucapan Clara—yang tadi ia coba abaikan—kini bergema lebih keras, menembus sela pantulan bola.

Tangannya kembali memukul bola dengan keras, seolah bisa membungkam semua suara itu. Tapi gema di kepalanya tak mau berhenti.

Cahaya lampu menyorot dari atas, memantulkan siluet tubuhnya di lantai yang licin—memanjang, terdistorsi, seolah ikut menanggung beban amarahnya.

Erde menatap bayangan itu lama. Bayangan yang tak pernah benar-benar pergi, selalu mengikutinya ke mana pun, tak peduli seberapa jauh ia mencoba berlari menjauh.

Urat di pelipisnya menegang. Jemarinya mengepal, tapi tak ada teriakan. Hanya helaan napas berat yang terlepas di antara gigi yang terkatup rapat.

Ia menunduk, membiarkan keringat jatuh membasahi lantai. Lalu, tanpa menoleh lagi, ia berbalik dan melangkah keluar dari lapangan.

Udara di luar terasa sedikit lebih dingin, tapi tak cukup untuk meredakan panas di dadanya.

Baru beberapa langkah dari pintu, terdengar tawa ringan dari ujung lorong—kontras dengan panas yang masih mendidih di dadanya.

Lyra muncul bersama Krista. Ia masih mengenakan seragam tim cheerleader, rambutnya sedikit kusut oleh keringat, namun wajahnya tetap berseri, memantulkan sisa semangat latihan barusan.

Di sisi lain, Krista sibuk mengikat ulang rambutnya sambil terkikik kecil, membicarakan sesuatu yang hanya mereka berdua tahu. Tawa keduanya menggema samar di koridor lenggang—kontras dengan langkah Erde yang berat, yang justru semakin terasa sunyi.

Mereka berpapasan di tengah lorong. Lyra sempat menoleh cepat, matanya berbinar begitu melihat Erde. Tapi Erde hanya menunduk sedikit dan terus berjalan, seolah tak ada siapa pun di sana.

“Eh, itu… Erde, kan?” bisik Lyra pelan, tapi suaranya terdengar bersemangat. “Ganteng banget, ih…”

Krista ikut menoleh, rautnya seketika berubah. “Ra, sumpah… jangan mulai, deh.”

Lyra tertawa kecil. “Mulai apaan, sih? Gue cuma mau nyapa doang.”

Krista menghela napas panjang, “Nyapa? Lo pikir gampang? Dia tuh kayak gunung es, Ra. Semua orang aja minggir kalo dia lewat.”

Tapi Lyra tak menghiraukan. Ada sesuatu di punggung Erde yang membuatnya ingin menyapa—mungkin karena terlihat begitu sepi di tengah keramaian yang baru saja mereka tinggalkan.

Ia menepuk pelan lengan Krista dan tersenyum kecil. “Tenang aja, deh. Cuma sebentar, kok.”

Krista menarik napas berat. “Ra, gue serius. Entar lo nyesel.”

Namun Lyra sudah melangkah, meninggalkan temannya di belakang. Langkahnya ringan tapi mantap—seperti sudah yakin dengan keputusannya. Dari jauh, Krista hanya bisa menatap dan menggeleng pelan, setengah pasrah.

Lyra mempercepat langkahnya. “Kak Erde!” serunya riang.

Erde menghentikan langkah, menoleh sekilas. Tatapannya datar, seolah sekadar memastikan siapa yang memanggil.

“Abis latihan, ya?” tanya Lyra, masih dengan nada cerah.

Erde tak menjawab. Ia kembali melangkah, meninggalkan Lyra yang berdiri di belakangnya dengan senyum yang nyaris lenyap. 

Lyra mengerutkan dahi, tapi tak menyerah. Ia mempercepat langkah, menyusul di sisi Erde.

“Sendirian aja, gak kesepian?” Lyra mencoba tersenyum, lalu mengulurkan sebungkus permen karet. “Nih, buat nemenin Kak Erde.”

“Gak butuh,” sahutnya pendek, suaranya terdengar kasar dan menolak.

Lihat selengkapnya