Bumi Tanpa Langit

fotta
Chapter #12

BAB 6 - Lawan yang Tak Terlihat (Bagian I)

Peluit pertandingan nyaris terdengar ketika Erde menatap telapak tangannya yang bergetar halus. Matanya berat—kurang tidur membuat pandangannya sedikit buram. Ia mengusap wajah perlahan, menarik napas panjang, mencoba menghapus sisa kantuk yang bercampur gelisah.

Suara ayahnya masih bergema—berat, dingin, dan mustahil dihapus meski berkali-kali ia coba mengalihkan pikiran.

“Kalau gak bisa jadi yang lebih baik, jangan malah jadi beban.”

Bahunya menegang. Dunia seolah menyempit, menyisakan hanya gema kalimat itu yang memantul tanpa henti. Ia terpaku sesaat, sampai sebuah tepukan di bahu membuyarkan lamunannya.

“Erd, fokus. Lawan kita Dwisakti, suara Riyo tegas, meski ada kecemasan samar di baliknya. “Semua tau mereka itu licik, dan bakal ngelakuin apa pun buat menang.” 

Erde menoleh singkat, lalu mengangguk pelan. Ia menegakkan tubuh, menarik napas dalam, mencoba mengembalikan fokusnya yang sempat buyar. 

Peluit pendek menggema. Sorak penonton meledak, memenuhi udara dengan riuh yang bergetar di dada. Spanduk besar bertuliskan Turnamen Antar SMA se-Jakarta bergoyang perlahan diterpa angin pendingin ruangan.

Di sisi kiri lapangan, SMA Harapan Bangsa bersiap menghadapi SMA Dwisakti—tim unggulan yang cepat dan agresif.

Di tepi lapangan, tim cheerleader bersorak kompak. Pom-pom berayun mengikuti musik, menciptakan gelombang semangat yang menular ke tribun.

Di antara mereka, Lyra tampak paling menonjol—bersuara paling lantang, melompat paling tinggi, seolah semangatnya hanya ditujukan pada satu orang di lapangan itu.

Di sampingnya, Clara berdiri kaku. Tatapannya menajam ke arah Lyra, sementara senyum di wajahnya perlahan memudar.

Peluit panjang terdengar—pertandingan resmi dimulai.

Dua pemain tengah dari masing-masing tim maju ke lingkaran, termasuk Erde. Napasnya berat, tapi matanya tajam menatap bola di tangan wasit.

Bola dilempar tinggi ke udara. Refleks, Erde melompat—telapak tangannya menyentuh bola lebih dulu, lalu mengarahkannya ke Riyo.

Sorak penonton langsung pecah, menggema ke seluruh arena. Bola berpindah cepat ke tangan Erde lagi. Ia menggiring melewati garis tengah, matanya fokus pada ring lawan.

Gerakannya tajam dan terukur—setiap pantulan bola seirama dengan detak jantung yang semakin cepat.

Di sisi lawan, dua pemain Dwisakti mulai mempersempit ruang gerak Erde. Mereka tak langsung merebut bola—hanya menempel rapat, saling bertukar pandang. Ada senyum tipis di sudut bibir mereka, seperti merencanakan sesuatu.

Erde menilai celah di antara keduanya. Ia tahu pola seperti ini: bukan pertahanan, tapi permainan pikiran. Kali ini, ia tak terpancing. Dengan satu gerakan cepat, ia memutar tubuh, menembus celah sempit di antara dua pemain, terus menggiring bola ke depan.

Slow dulu, Erd!” seru Riyo, suaranya tenggelam di antara gemuruh penonton.

Erde mengangguk sekilas tanpa menoleh. Gerakannya cepat—terlalu cepat hingga membuat Riyo mengumpat pelan. 

“Tahan dulu! Tunggu posisi!”

Tapi Erde tak menghiraukan. Ia sudah melompat—bola melesat dari ujung jarinya.

Swish

Suara itu menggema di seluruh arena, disambut sorakan membahana.

Di sisi lapangan, Lyra ikut berteriak antusias. Pompomnya terangkat tinggi, bergoyang seirama dengan tubuhnya yang ikut berjingkrak.

“Kak Erde! Keren banget!”

Sementara itu, Riyo mendesah, lalu berlari menghampiri Erde saat mereka kembali ke posisi bertahan.

“Lo kenapa sih? Gak pernah mau denger aba-aba!” nadanya setengah kesal.

Erde menatapnya datar, napasnya masih terengah. “Kelamaan,” ujarnya pendek.

Riyo hanya bisa menggeleng sambil tersenyum miring. “Iya, gue akuin lo emang paling jago. Tapi inget, kita ini tim, bukan one man show.”

Erde tidak menjawab. Pandangannya kosong menembus garis lawan, tapi pikirannya melayang entah ke mana. Dadanya bergetar—bukan karena adrenalin, tapi sesuatu yang menekan dari dalam: berat, panas, menunggu waktu untuk meledak. Tapi entah kenapa, ia masih menahannya.

Dari seberang lapangan, salah satu pemain Dwisakti mengamati sambil menyeringai. “Liat tuh, si singa lapangan” bisiknya sinis. “Sok jago banget, bentar lagi juga gue ancurin.”

Rekannya tertawa pendek. “Gak sekalian bikin dia di kick aja?”

“Boleh juga,” balas yang pertama, suaranya merendah tapi tajam. “Gue yakin dia gampang ke-trigger. Apalagi kalau kembarannya disenggol, pasti langsung kebakaran.”

Mereka saling tukar pandang, senyum licik terlukis di wajah keduanya. Ini bukan lagi tentang skor, tapi tentang bagaimana menjatuhkan mental seseorang.

Riyo mendengar. Alisnya mengerut, mulutnya mengeras. Ia melangkah cepat, menahan bahu Erde.

Lihat selengkapnya