Suara sepatu masih berdecit di lantai kayu, namun langkah Erde mulai melambat.
Dari sisi lapangan, pelatih mengangkat tangan—memberi isyarat. Satu pemain berlari ke tepi lapangan. Erde menunduk sebentar, rahangnya mengeras. Ia tahu—itu tanda pergantian.
Langkahnya terasa berat saat meninggalkan lapangan. Napasnya tersengal, bukan karena lelah—melainkan amarah yang mengendap dan belum menemukan jalan keluar. Ia duduk di bangku, lalu menghempaskan handuk ke lutut, menunduk, menatap ujung sepatunya.
Tangan kirinya mengepal, menekan pelipis, seolah berusaha menahan letupan yang tadi nyaris meledak.
Peluh di pelipisnya menetes pelan, menyatu dengan napas berat yang belum juga stabil.
Sorakan penonton kembali menggema, tapi di kepala Erde, semuanya meredam—menghilang, menyisakan dengung kesal dan sesal yang terus berputar dalam pikirannya.
Di sisi lapangan, Lyra menatap ragu, tapi tak berani mendekat.
Dari tribun, Himmel turun perlahan dan berhenti di balik pembatas. Setelah berbicara singkat dengan petugas, ia diizinkan masuk ke arena. Langkahnya pelan hingga berhenti tepat di depan bangku cadangan.
“Erd…”
Nada lembut itu justru membuat dada Erde semakin sesak.
Himmel menunduk sedikit, menyesuaikan tinggi tubuhnya dengan sang kembaran yang masih tertunduk.
“Lo gak apa-apa? Jangan terlalu dipaksain,” ucapnya pelan sambil menepuk kepala Erde—kebiasaan lama yang selalu ia lakukan.
Erde mendongak, menepis tangan kakaknya dengan kasar. Pandangannya tajam, nadanya ketus.
“Ngapain lo di sini? Mau liat langsung kalau gue cuma beban?”
“Bukan gitu—” Himmel menarik napas pelan, menatap wajah adiknya yang merah oleh amarah dan frustrasi.
“Gue cuma mau dukung lo. Biar lo tenang.”
Erde tertawa pelan, getir. “Sejak kapan sih lo pernah bikin gue tenang?” Ia menghela napas pendek, sorotnya meredup. “Kalau lo pengin gue tenang…” suaranya turun, nyaris bergetar. “Tinggalin gue sendiri.”
Ia bangkit, mengambil handuk dari lutut, lalu melemparkannya asal sebelum berjalan ke arah pintu tanpa menoleh. Beberapa pemain hanya menatap—tak ada yang mencoba menahan. Bunyi langkah sepatunya memudar, menggema di antara sorak yang belum sepenuhnya reda.
Himmel menatap punggung kembarannya yang menjauh. Rahangnya mengeras, menahan sesuatu yang tak terucap. Ruang di sekelilingnya mendadak terasa kosong.
Ketika akhirnya menoleh, pandangannya berhenti pada sosok Lyra di sisi lapangan.
Gadis itu berdiri diam, pompom di tangannya nyaris jatuh, matanya tak lepas dari pintu tempat Erde baru saja menghilang.
Sorot itu menyimpan sesuatu—campuran cemas dan iba—yang entah kenapa terasa familiar di dada Himmel.
Ia melangkah mendekat. “Sorry, lo... yang tadi kasih minum buat Erd, kan?” suaranya ragu.
Lyra tersentak kecil, menoleh padanya. “Iya…” jawabnya pelan.
Himmel mengembuskan napas panjang, jemarinya mengusap tengkuk seolah menahan penat yang menumpuk. Pandangannya sempat jatuh ke lantai sebelum kembali pada gadis itu.
“Gue… boleh minta tolong, gak?” katanya—lembut tapi berat, seperti ada sesuatu yang tertahan di napasnya.
❖❖❖