Suara bola memantul di lantai kayu, berpadu dengan derit sepatu dan napas berat yang sesekali terputus. Sisa sore menembus jendela tinggi, memantul di lantai mengilap dan meninggalkan kilau keemasan di udara yang berdebu.
Erde berdiri di ambang pintu, tak langsung masuk. Ia menatap rekan satu timnya yang masih berlatih, seolah tak ada yang berubah. Padahal ia tahu: ada sisa kecewa menggantung di udara—gema halus dari beban yang menekan dadanya sejak kemarin.
“Oi, jagoan!”
Suara itu memecah lamunannya. Riyo melambai dari tengah lapangan, senyum lebarnya tak berubah. “Ke mana aja lo, tiga hari ngilang?”
Erde tersentak kecil. Ia menurunkan tas ke lantai dan melangkah mendekat. Tangannya berhenti di sisi celana—ragu apakah harus membalas senyum Riyo atau tidak.
“Di rumah,” ujarnya pelan, menunduk sedikit. Jemarinya saling meremas tanpa sadar. “Sorry buat yang kemaren.”
Riyo tertawa pendek, menepuk bahunya ringan. “Udahlah, jangan dipikirin. Permainan lo bagus kok. Dwisakti aja yang emang bre*ngsek, mainnya licik.”
Ia mengambil bola di dekat kaki Erde, memantulkannya sekali. “Santai. Di turnamen berikutnya, kita hajar balik.”
Erde menatapnya. Senyum santai Riyo tidak mengubah situasi, tapi ada keyakinan yang sulit ia abaikan.
Untuk sesaat, tekanan di dadanya tidak menghimpit sekeras tadi.
❖❖❖
Lapangan sudah kosong—hanya suara pantulan bola dan dengus napas Erde yang tersisa. Keringat menetes di pelipis, bercampur dengan udara sore yang mulai lembap.
Bola terakhir berhenti menggelinding, memantul sekali sebelum diam di tengah lapangan. Erde menatapnya sebentar, lalu mengusap wajah pelan.
Dari langit-langit, terdengar rintik pertama. Lalu hujan turun deras, mengetuk kaca tinggi di sisi lapangan—gaungnya memenuhi ruangan yang kini sunyi.
Ia mengambil tasnya dan berjalan keluar.
Di koridor, tirai air menutup pandangan. Erde berdiri di sana menatap hujan yang kian deras. Angin dingin menerpa, membuat ujung jarinya perlahan memerah.
“Masih di sini juga?”
Suara itu memecah hening. Lyra berdiri beberapa meter darinya, bersandar di tiang koridor sambil mengunyah permen karet.
“Mau gak?” ucapnya santai, menyodorkan sebungkus kecil. “Tapi tinggal rasa mint.”
Erde menatap bungkus itu sekilas. Tanpa pikir panjang, tangannya terulur—spontan, nyaris tanpa sadar.
Begitu jarak tangan mereka dekat, Lyra menangkap warna kemerahan dan bengkak samar di punggung tangannya.
Refleks, ia langsung menggenggamnya.
“Eh, ini kenapa?!” suaranya meninggi, terdengar cemas.
Erde kaget, buru-buru menarik tangan dan menyembunyikannya di saku jaket. “Gak apa-apa.”
“Tapi merah banget, lho.” gumam Lyra pelan. Matanya tak lepas dari tangan Erde yang kini tersembunyi.
“Udah biasa,” ujar Erde datar. Bahunya menegang, sementara jemarinya di dalam saku mengepal perlahan—seolah berusaha menahan sesuatu yang tak ingin ia tunjukkan.
Lyra mencondongkan tubuh sedikit, alisnya berkerut. “Biasa apanya, kayaknya parah tuh. Alergi, ya?”
Erde diam sejenak, pandangannya bergeser ke koridor yang basah. “Cuma gatel biasa, nanti juga ilang,” katanya akhirnya.
Lyra masih menatapnya, tak puas dengan jawaban itu. “Serius, nih, Kak Erde beneran gak apa-apa?”
“Tch… berisik banget.” Erde mendengus pelan. “Lo pikir semua kulit yang merah itu alergi?” ucapnya datar, tanpa menoleh.
Lyra mengerjap, lalu tersenyum tipis—kikuk, mencoba mencairkan suasana. “Sorry… gue,
kan cuma nanya.” Ia menunduk, menarik permen karet dari mulutnya dan membungkusnya dengan tisu.
Di luar, hujan masih deras—suara ritmisnya menggema di dinding dan lantai, menciptakan keheningan yang justru terasa semakin nyata.
Lyra menarik napas kecil, seolah sedang menimbang sesuatu sebelum akhirnya bersuara. “Kak Erde, tuh selalu kayak gini, ya,” ucapnya pelan, tanpa menatapnya. “Ngomongnya ketus, tapi… kayak lagi nahan sesuatu.”