Suara hair dryer bercampur tawa memenuhi ruang ganti, sementara aroma lotion dan parfum melayang di udara, menempel di seragam dan kulit.
Clara berdiri di depan cermin, merapikan ikatan rambutnya yang ditarik tinggi. Di belakangnya, beberapa siswi sibuk berganti seragam sambil mengobrol ringan.
“Eh, lo udah pada tau belum?” Suara Clara terdengar santai, tapi cukup tajam untuk memotong keributan. “Si Lyra, akhir-akhir ini deket banget, deh, sama si bayangan.”
Salah satu dari mereka spontan menoleh. “Serius? Maksud lo Erde?”
Clara menatap pantulannya di cermin, pura-pura enggan menanggapi. Tangannya sibuk merapikan poni, tapi senyum tipis muncul di sudut bibirnya. “Gue juga sempet kaget, sih. Waktu itu gue liat dia perhatian banget ke Erde. Manggilnya aja ‘Kak’—mesra banget, kan.”
Beberapa siswi saling pandang sebelum tawa pelan pecah, memenuhi ruang ganti sempit dengan bisik-bisik menggigit.
Salah satu siswi langsung menimpali, “Iyalah. Siapa sih yang gak mau deket sama Erde? Lumayan, kan, bisa sekalian nyolek Himmel juga.”
Siswi lain ikut menambahkan, suaranya diturunkan seolah sedang berbagi rahasia.
“Tapi sumpah, deh, vibe-nya Erde tuh nyeremin gak, sih? Kayak... lo salah ngomong dikit aja udah langsung disamber.”
Clara mengangguk pelan sambil memutar jepit rambut di jarinya.
“Iya, sih kalian bener. Tapi yang bikin gue heran...”
Ia menatap bayangannya di cermin, ekspresinya setengah prihatin, setengah puas. “Katanya, sih Lyra ngefans banget sama Himmel, tapi kok malah nyari jalan lewat adenya, ya? Kayak… aneh aja. Gak tau malu banget. Gue gak nuduh sih, tapi keliatannya ada yang direncanain, deh.”
Ucapan itu meluncur ringan, tapi efeknya cepat menyebar—seperti percikan api di rerumputan kering.
Dalam hitungan jam, hampir separuh tim cheerleader sudah mendengarnya.
Di kantin, di lorong, bahkan di grup chat sekolah—nama Lyra disebut dengan nada yang sama: setengah bercanda, setengah menyindir.
❖❖❖
Bel pulang sudah lama berhenti, tapi lorong tetap ramai oleh bisik-bisik kecil—semuanya menyebut nama yang sama.
Lyra baru melangkah keluar kelas ketika Krista berlari kecil menghampirinya. Napasnya terengah, matanya membulat cemas.
“Ra!” panggilnya sedikit keras.
Lyra menoleh, keningnya mengernyit. “Kenapa? Lo kayak abis dikejar setan.”
Krista menatap sekeliling, memastikan tak ada yang mendengar, lalu berbisik pelan.
“Lo sadar gak? Semua orang lagi ngomongin lo, tau.”
“Ngomongin apa, sih?” Lyra mengerutkan alis, suaranya datar tapi sorot matanya mulai menegang.
Krista menggigit bibir, ragu-ragu. “Katanya lo… sengaja manfaatin Erde supaya bisa deket sama Himmel.”
Lyra terdiam. Kelopak matanya berkedip pelan seolah menahan sesuatu yang naik ke dada.