Pagi itu matahari menembus tirai ruang makan, menebar cahaya hangat ke dalam rumah yang terasa tenang, namun menyisakan kekosongan yang tak bisa ditutupi cahaya mana pun.
Sekar sibuk menyiapkan sarapan sambil melirik putra sulungnya. “Obatnya udah Mama siapin, ya. Jangan lupa diminum habis makan,” ucapnya lembut tapi dengan kekhawatiran yang hampir selalu menempel di suaranya.
Himmel hanya mengangguk kecil sambil tersenyum. “Iya, Mam. Nanti aku minum.”
Namun senyum itu cepat pudar. Di sela helaan napasnya, dadanya naik sedikit lebih cepat dari biasanya—gerakan kecil yang nyaris tak terlihat. Ia sempat menyentuh dada kirinya sebentar, seperti mengusir denyut yang terlalu cepat, lalu menegakkan punggungnya agar Sekar tak curiga.
Sinar pagi jatuh di wajahnya yang pucat, menorehkan bayangan gelap di bawah matanya yang tampak lelah.
Di seberang meja, Erde sibuk menatap ponsel. Setiap ucapan Sekar terdengar seperti gema yang tidak ditujukan kepadanya.
“Erd,” suara Sekar beralih—nada lembutnya tak berubah, tapi ada tekanan halus di ujungnya. “Akhir-akhir ini Mama dapat laporan nilai kamu makin turun… dan kamu juga sering bolos.”
Tatapannya berpindah dari Himmel ke Erde, sorot matanya menajam perlahan.
“Kenapa, Erd? Kasihan, lho, Papa udah kerja keras. Masa anaknya malah nambah beban?”
Erde tak langsung menjawab. Ia meneguk air, menatap kosong ke arah meja. “Iya,” ujarnya datar. Tapi di dadanya, sesuatu bergerak pelan—getir, iri, dan rasa malu yang ia telan dalam diam.
Sekar menarik napas panjang. Ada gurat lelah di wajahnya—bukan marah, hanya pasrah yang menumpuk dari hari ke hari. Ia melirik jam di tangannya, lalu meraih tas yang tergantung di kursi.
“Mama pergi dulu. Papa minta ditemenin ke cabang, ada laporan yang mesti dicek.”
Langkahnya menggema ringan. Ketika hendak keluar, ia menoleh. “Himm, jangan ke mana-mana, ya. Cuaca di luar lagi gak enak, istirahat aja di rumah.”
Himmel mengangguk pelan, berusaha menyembunyikan napas yang terdengar berat. “Iya, Mam.”
Tatapan Sekar lalu berpindah ke Erde. “Erd, tolong jaga kakakmu. Sama ingetin obatnya. Jangan main terus, nanti malam Mama mau bicara lagi sama kamu.”
Erde hanya mengangguk, tanpa menoleh.
Himmel menunduk sedikit, jemarinya mengepal di pangkuan. Napasnya panjang, ditahan, tapi ia berusaha tampak tenang—menutupi sesak yang perlahan merayap di dadanya.
Sekar berhenti di ambang pintu. Tatapannya sempat jatuh pada dua anaknya. Ada kalimat yang ingin ia ucapkan, namun yang keluar hanya helaan napas panjang. Ia pun berbalik, melangkah pergi.
Kini, ruang makan kembali sunyi. Erde menatap roti yang tak tersentuh, sementara Himmel menunduk, mencoba menata ulang napas yang sejak tadi terasa kacau.
Keheningan itu menjalar, menjadi jarak yang tak terlihat—antara yang terluka karena tak dianggap, dan yang terluka karena tak berdaya.
❖❖❖
Beberapa jam setelah Sekar pergi, rumah tetap terasa sejuk. Tapi bagi Erde udara itu justru terasa menekan. Ia duduk di sofa, menggulir layar ponsel tanpa arah—layar redup, notifikasi kosong, dan detik yang berjalan pelan membuat kepalanya makin penuh.
Semua terasa terlalu tenang. Hingga keheningan itu terdengar bising di telinganya.
Detik-detik terasa panjang dan hambar. Akhirnya ia bangkit, mengambil jaket tipis, dan membuka pintu.
“Lo mau ke mana?” suara Himmel terdengar dari belakang, pelan tapi jelas.