Bumi Tanpa Langit

fotta
Chapter #17

BAB 8 - Retakan Bumi (Bagian II)

Udara rumah sakit terasa dingin, seolah ruangan ini menolak jejak kekacauan yang baru saja terjadi. Cahaya lampu di atas kepala memucatkan segalanya—dinding, tirai, bahkan wajah Erde yang terbalut perban. Bau obat dan disinfektan menusuk hidungnya, memancing mual tipis di tengah kesadaran yang masih  buram.

Dunianya mengambang saat kesadaran perlahan kembali. Setiap tarikan napas terasa menusuk, menekan dadanya yang masih nyeri. 

Kakinya dibalut perban tebal, ditahan oleh pen besi yang membuatnya tak bisa bergerak.

Rasa nyeri merambat pelan dari tumit sampai pinggul, membuat tubuhnya sesekali bergetar di bawah selimut.

Dalam kabut pandangan itu, ia menangkap siluet seseorang di tepi ranjang. Jemari hangat menggenggam tangannya erat. 

Himmel duduk di sana dengan kepala tertunduk. Matanya sembap, wajahnya kusut oleh rasa bersalah. Napasnya berat dan bergetar, seperti menahan sesuatu agar tidak pecah.

Erde ingin bicara, tapi mulutnya terasa kaku. Satu-satunya suara yang terdengar hanya detak jam dinding. 

Dunia di sekitarnya terasa jauh, sementara kesadarannya menggantung di antara rasa sakit dan kantuk yang berat. 

Langkah tergesa terdengar dari arah pintu. Tirai kamar bergerak pelan saat Sekar dan Julian masuk.

Sekar langsung menghampiri Himmel, memeluknya erat seolah ingin memastikan anak sulungnya baik-baik saja.

“Ya Tuhan, Him… kamu gak apa-apa, kan, Nak?” suaranya bergetar, panik. Julian menepuk punggung istrinya pelan, mencoba menenangkan, tapi wajahnya juga tegang.

Erde menelan ludah dan mencoba membuka suara. “M-Mam…” bisiknya pelan.

Namun suaranya tenggelam di tengah gema kepanikan yang memenuhi ruangan. Ia hanya bisa diam, menatap pemandangan itu dari ranjang—napasnya berat, tapi yang menyakitkan justru bukan luka di tubuhnya.

Sekar beralih menatap ke arahnya sekilas. “Udah Mama bilang, kan? jangan keluar rumah. Kalian ini kenapa sih gak pernah nurut? Kamu juga Erd, kenapa malah keluyuran? Begini, kan akibatnya.” Nada suaranya tajam, seperti pisau yang menembus sesuatu di dalam diri Erde.

Himmel menunduk, bahunya gemetar, entah karena rasa bersalah atau karena masih shock.

Erde memandangi mereka, pandangannya mulai berkabut. Bukan oleh luka, melainkan kenyataan yang tak lagi bisa ia tampik—setiap kata ibunya terdengar seperti bukti bahwa kasih sayang di rumah itu tak pernah terbagi rata.

Sunyi perlahan menyelinap di antara napas dan detak jam. Erde memejamkan mata, mencoba menelan rasa getir yang seakan menumpuk di tenggorokannya.

Tak lama kemudian, Sekar menggenggam lengan Himmel pelan. “Him, kita pulang dulu, ya. Kamu juga harus istirahat,” ucapnya lembut, meski suaranya bergetar halus. 

Himmel menggeleng cepat. “Gak, Mam, Aku mau di sini dulu, nemenin Erd,” ucapnya lirih. Ia tetap berdiri di sisi ranjang, menggenggam tangan adiknya seolah itu satu-satunya hal yang membuatnya tetap tenang.

“Tapi, Nak, kalau kamu kecapekan, nanti malah drop,” Sekar berusaha membujuk. Tangannya membelai pundaknya pelan. “Kita pulang dulu, ya.  Nanti biar Papa yang temenin Erd di sini.”

Namun Himmel tetap diam. Tatapannya tak lepas dari wajah Erde—ada ketakutan halus di sana, khawatir kalau saat ia pergi, sesuatu akan hilang.

Julian melangkah mendekat, suaranya tenang tapi sarat kelelahan. “Erd, kamu gak apa-apa kan, Papa tinggal dulu sebentar?” tanyanya sambil mengusap rambut anak bungsunya. “Papa anter Mama sama Himm pulang dulu. Nanti Papa balik lagi ke sini.”

Erde menatap mereka satu persatu—ibunya yang menahan tangis, ayahnya yang berusaha tegar, dan kakaknya yang masih menggenggam jemarinya seakan takut kehilangan. Ia membuka mulut, tapi tak ada kata yang keluar. Akhirnya ia hanya mengangguk pelan. 

Himmel menggigit bibirnya, lalu perlahan melepaskan genggamannya. “Kalau ada apa-apa… kabarin gue, ya, Erd,” ucapnya lirih, suaranya nyaris pecah.

Pintu menutup perlahan, menyisakan dengung samar dari lorong yang kembali sepi. Erde terdiam, menatap langit-langit—cahaya lampu bergetar lembut di matanya yang berkabut—tanpa setetes pun air mata jatuh.

Semuanya terasa sunyi. Bahkan napasnya sendiri terdengar asing, seperti gema kecil di ruangan yang terlalu sepi.

Ia memalingkan wajah ke arah jendela, seolah mencari langit. Entah siang atau malam, semuanya terlihat sama—abu-abu dan jauh.

“Gue udah biasa sendiri,” bisiknya—suara yang pecah di antara detak waktu dan napas yang tersendat.

Keheningan kembali mengambil alih ruangan. Jarum jam bergerak pelan, seolah mencatat sesuatu yang perlahan retak di dalam dirinya.

❖❖❖

Langkah kaki terdengar pelan menyusuri koridor rumah sakit. Suara sepatu dan gema obrolan samar mengiringi mereka hingga berhenti di depan pintu berwarna putih.

Himmel menoleh ke Lyra dan tersenyum kecil.

Lihat selengkapnya