Hari itu lapangan basket masih kosong. Lampu sorot di langit-langit menyala pucat, memantulkan cahaya tipis di lantai kayu yang licin. Udara di dalam ruangan terasa kering, dan dengung mesin pendingin terdengar samar dari sudut ruangan.
Di tengah lapangan, Erde berdiri diam sambil menggenggam bola. Tatapannya kosong, menembus ring di ujung sana.
Cahaya dari atas menyorot tubuhnya, membentuk bayangan panjang di lantai.
Jemarinya mengepal di permukaan karet bola yang dingin, seakan berusaha menahan sesuatu yang telah hilang.
Dari sudut matanya, ia melirik garis putih di bawah kakinya—garis yang dulu terasa seperti rumah. Kini, ia hanya bisa berdiri di sana, tanpa tahu ke mana harus melangkah.
Kakinya belum pulih sepenuhnya. Sisa nyeri dari kecelakaan itu muncul tiap kali ia menapak—sebagai pengingat kalau sementara, ia belum boleh bermain, melompat, atau berlari seperti dulu.
Erde menarik napas pendek, lalu melempar bola keras ke papan ring. Dentumannya menggema di seluruh ruangan, sebelum tenggelam kembali dalam keheningan.
Bola itu jatuh, memantul dua kali, lalu berhenti di garis tiga poin.
Erde menunduk. Napasnya berat, bahunya naik-turun pelan. Tatapannya kosong, menyimpan amarah yang tak pernah sempat keluar, bercampur frustrasi dan kehilangan yang menekan dada.
Sebuah tepukan ringan menyentuh bahunya.
Erde tersentak kecil lalu menoleh.
Riyo berdiri di sampingnya—mengenakan jaket tim yang warnanya mulai pudar. Wajahnya tampak serius, tapi ia coba menyamarkannya di balik senyum tipis.
“Hey, jagoan. Gimana kabar lo?” sapanya pelan.
Erde diam saja. Pandangannya kembali jatuh ke lantai, seolah kata-kata itu tak mampu menembus pikirannya.
Riyo maju selangkah, berdiri tepat di depan Erde.
“Gue turut prihatin, Erd,” ucapnya pelan, tangannya menepuk bahu Erde dengan hati-hati. “Tapi lo gak boleh nyerah.”
Ia menunduk sedikit, mencoba menangkap sorot mata Erde yang redup. “Inget, kita masih harus bikin perhitungan sama Dwisakti. Lo bakal balik lagi ke lapangan, kan?”
Erde tetap diam. Tatapannya kosong, seperti orang yang kehilangan arah—seolah kata-kata Riyo hanya lewat tanpa menyentuh apa pun di dalam dirinya.
Keheningan menggantung beberapa detik sebelum Erde akhirnya melangkah pergi—pelan, sedikit pincang.
Riyo hanya bisa menatap punggung sahabatnya yang menjauh dalam cahaya lapangan yang redup.
Ia terdiam beberapa saat sebelum pandangannya jatuh pada bola yang tergeletak di lantai. Perlahan, ia mendekat, menunduk, lalu meraih bola itu. Genggamannya erat—seolah lewat benda itu, ia masih bisa merasakan sisa semangat yang dulu mereka bagi.
Namun kini yang tersisa hanyalah hening, bersama gema langkah Erde yang semakin menjauh.
❖❖❖