Malam itu terasa lengang. Udara masih menyimpan sisa panas siang, tapi angin yang lewat membawa sedikit kesejukan. Lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan di aspal, membingkai bayangan dua pemuda yang berjalan berdampingan. Erde melangkah lebih dulu dengan jaket tersampir di bahu, sementara Rafka mengikuti di belakang, kedua tangannya di saku hoodie, menatap langit malam yang berdebu.
“Ngapain kita ke sini?” suara Rafka terdengar datar saat papan bercahaya Hemart mulai tampak di ujung jalan.
“Beli minum,” jawab Erde singkat. “Haus.”
Begitu sampai di depan, pintu otomatis terbuka, tapi langkah Rafka berhenti. Tatapannya menengang melihat logo biru-kuning di atas kaca, seperti ada sesuatu yang mengganjal.
“Lo gak ikut masuk?” tanya Erde, heran.
Rafka menggeleng cepat. “Enggak.”
Erde mengerutkan kening. “Kenapa? Lo alergi minimarket?”
Rafka tak menjawab. Ia berdiri di sana, seperti menahan sesuatu yang enggan diungkapkan. Erde mendengus kecil lalu menarik lengan Rafka dengan santai. “Udah, ikut aja. Gue cuma mau beli minum, bukan ngerampok.”
Pintu otomatis terbuka, membiarkan udara dingin dari pendingin ruangan mengalir keluar. Musik ringan terdengar samar dari speaker. Erde melangkah lebih dulu, mengambil dua botol minuman isotonik dari rak terdekat.
Rafka mengikuti dari belakang. Udara yang menusuk membuatnya refleks menarik tudung hoodie, menutup kepala dan menyembunyikan sebagian wajah di balik bayangan kain.
Genta yang duduk santai di balik meja kasir tersenyum begitu melihat mereka.
“Mas Erd, tumben bareng temennya. Biasanya solo player.”
Erde hanya mengangkat alis tanpa menanggapi. Ia meletakkan dua botol minuman di meja kasir, sedikit menghentak, lalu menyandarkan satu siku di konter sambil melirik malas ke arah Genta.
Sementara itu, Rafka mengekor di belakangnya dengan ekspresi datar dan tangan yang tetap di saku.
“Lolipop-nya gak sekalian?” goda Genta sambil menegakkan badan dan mulai men-scan barang.
Erde mendengus pelan, sudut bibirnya sempat bergerak tapi urung. “Gak,” jawabnya singkat.
Genta terkekeh usil menatap Erde. “Udah gak galau lagi, nih?”
Namun saat pandangannya bergeser pada Rafka, senyumnya perlahan memudar. Ada sesuatu di wajah itu yang menggelitik ingatannya.
“Eh… kayaknya gue pernah liat lo?” tanyanya sambil memicingkan mata.
Rafka hanya mengangkat bahu. “Gue baru pertama ke sini.”
Mereka membayar lalu melangkah keluar. Genta masih memandangi punggung keduanya sampai pintu otomatis menutup. Baru kemudian matanya membulat, dan ia menepuk dahinya pelan.
“Anj*ir, itu… kan? Bocah tengil yang dulu—” gumamnya tanpa menyelesaikan kalimatnya.
Di luar, angin malam menyapu lembut. Erde menenggak minumannya dan menatap Rafka yang tampak gelisah.
“Lo kenapa sih, dari tadi aneh?” tanyanya datar, tapi sedikit penasaran.
Rafka menunduk. Suaranya terdengar lebih pelan. “Kenapa harus beli di sana?”
“Emang kenapa?” Erde memiringkan kepala, bingung. “Itu toko keluarga gue.”
Rafka spontan mendongak—kaget. “Serius? Jadi lo anak pemilik Hemart?”
“Iya.” Erde meneguk minumannya lagi dengan santai. “Kenapa, sih?”