Bumi Tanpa Langit

fotta
Chapter #20

BAB 10 - Di Antara Dua Cahaya (Bagian I)

Langit siang tampak pucat, diselimuti awan tipis yang melayang di atas taman belakang sekolah. Suara tawa dan langkah kaki saling bersahutan, berpadu dengan aroma masakan kantin yang terbawa angin—mengisi udara dengan riuh khas jam istirahat.

Di bangku dekat kolam kecil, Lyra dan Krista duduk berdampingan, masing-masing memegang minuman kotak yang mulai mengembun.

Krista menatap Lyra lama sebelum akhirnya bertanya pelan, “Lo serius mau cabut dari cheers, Ra? Padahal dulu lo yang paling semangat.”

Lyra tersenyum miring, menggigit ujung sedotannya. “Ya mau gimana… sekarang pangeran gue udah gak main basket lagi.”

Suaranya terdengar ringan, tapi matanya menyimpan lelah yang tak sempat ia tutupi.

Krista mendesah panjang, setengah bercanda.

“Yah, berarti misi kita gagal total dong.”

Belum sempat Lyra membalas, suara tawa kecil terdengar dari belakang—terlalu tajam untuk disebut bercanda.

“Makanya,” suara itu menyela santai tapi menusuk, “kalau dari awal niatnya udah busuk, ya ujungnya begini, nih. Ironis, kan?”

Lyra spontan menoleh. Rahangnya menegang saat pandangannya bertemu Clara yang berdiri di belakang bersama dua temannya.

“Kasian banget, deh. Gue denger, kemaren lo dibentak terus diusir, ya, sama si bayangan? Miris banget, sih, nasib lo.” Nadanya terdengar manis, tapi tiap katanya menusuk seperti duri halus.

Lyra mendesis pelan. “Ngomong apa sih lo? Siapa yang diusir?”

“Tuh kan, denial,” lanjut Clara, mencondongkan tubuh sedikit. “Lo pikir si bayangan itu bakal ngelirik lo? Jangan ngarep deh. Lagian, ngapain juga deketin dia? Dia tuh gak pantes dapet perhatian.”

Kata-kata itu terdengar seperti cambuk. Lyra seketika berdiri, napasnya tertahan di tenggorokan.

“Maksud lo apa sih ngomong kayak gitu?!” serunya, mendorong bahu Clara dengan mata yang berkilat panas.

Clara tertawa pendek, pura-pura kaget.

“Ups. Gila juga ya, nih cewek. Bucin akut ternyata.”

Tawa teman-temannya pecah—tajam dan riuh, menyayat telinga. 

Lyra menatap mereka dengan napas memburu—wajahnya merah, menahan amarah dan malu.

Krista segera berdiri, menahan lengan Lyra pelan, khawatir situasinya meledak.

Di tengah riuh itu, suara berat memotong udara.

“Ra!”

Semua kepala sontak menoleh hampir bersamaan.

Himmel berdiri di ujung taman, sweater kremnya sedikit kusut, rambutnya berantakan tertiup angin. Tatapanya langsung jatuh pada Lyra—lalu perlahan bergeser ke Clara.

“H–Himmel?” Clara buru-buru merapikan rambutnya, senyum manis langsung merekah. “Kita cuma bercanda, kok. Gak serius.”

Tapi Himmel hanya menatapnya sekilas. Pandangannya datar, nyaris tanpa emosi. 

Ia menarik napas pelan. “Lo pikir lucu?” suaranya tenang, tapi dingin. “Bercanda itu kalau semuanya ketawa.”

Wajah Clara menegang. Dua temannya saling pandang, lalu menunduk, seolah nyalinya mendadak ciut. 

Himmel melangkah mendekat, langkahnya tenang tapi mantap. Ia berhenti di depan Lyra, menatapnya sejenak, lalu menepuk kepala gadis itu lembut.

“Lo gak apa-apa, kan?” suaranya merendah, hangat—kontras dengan ketegangan tadi.

Lihat selengkapnya