Siang itu udara terasa panas. Matahari menyorot tajam ke halaman rumah keluarga Weiss. memantul lembut di kaca jendela dan pagar besi yang mulai kusam.
Aroma tanah yang menguap bercampur dengan wangi samar bunga cempaka yang gugur di sudut taman, menghadirkan ketenangan aneh—seolah rumah itu menyimpan rahasia kecil di balik sunyinya.
Langkah Lyra terdengar pelan di jalan setapak berlapis batu, tiap pijakannya seperti menahan gugup yang belum reda. Di tangannya, sebuah kotak kecil berisi kue, dibungkus rapi dengan pita putih.
Ia berhenti di depan pintu besar bercat putih, menatap pantulan wajahnya sendiri di gagang pintu—mencoba memastikan senyumnya tidak terlalu canggung sebelum akhirnya menekan bel.
Suara bel terdengar nyaring, memecah kesunyian yang menggantung di rumah itu.
Beberapa detik berlalu sebelum pintu terbuka perlahan.
Erde muncul di ambang pintu. Rambutnya berantakan, kaos putihnya kusut, dan tatapannya sayu—seolah baru ditarik dari mimpi yang belum selesai. Ia sempat terpaku, lalu sorot matanya menegang melihat siapa yang datang.
“Hai…” suara Lyra pelan, nyaris ragu. Senyum cerianya muncul, tapi tampak sedikit kaku.
Erde hanya mengangkat alis. Napasnya pendek, suaranya dingin, nyaris tanpa intonasi. “Mau ngapain lo—”
Langkah pelan terdengar dari dalam rumah, memotong kalimat itu.
“Eh, Ra, udah dateng?” Himmel muncul dari balik lorong. Rambutnya masih basah, handuk kecil melingkar di bahunya. Ia mengusap rambutnya cepat-cepat lalu tersenyum lebar—senyum yang seketika mencairkan suasana sebelumnya.
“Sorry, ya, tadi abis mandi,” ujarnya ringan sambil mempersilakan Lyra masuk.
Lyra mengangguk kecil. Melihat Himmel membuatnya sedikit lega, tapi canggung itu tetap tertahan di dadanya—tatapan Erde barusan masih ada, membuat napasnya sempat goyah tanpa ia mengerti alasannya.
Erde tak mengucap sepatah kata pun. Pandangannya hanya melintas singkat ke arah Lyra dan kakaknya sebelum ia berbalik dan pergi begitu saja.
Lyra menelan ludah, matanya mengikuti punggung Erde yang menjauh sebelum akhirnya mencoba memaksakan senyum kecil.
“Jangan dimasukin hati, ya, Ra. Erd emang suka gitu kalau lagi bad mood,” ujar Himmel ringan sambil menyampirkan lengannya di bahu Lyra. “Yuk, ke atas, ada yang mau gue tunjukin.”
Begitu masuk, aroma lembut lavender langsung menyambut Lyra. Rumah keluarga Weiss terasa hangat namun sunyi, seolah menyimpan gema percakapan yang belum selesai. Cahaya matahari menembus tirai tipis dan menorehkan bayangan lembut di lantai marmer yang berkilau samar.
Udara di dalam rumah terasa lebih sejuk, tapi entah kenapa justru membuat dadanya mengerut pelan.
“Kok sepi banget, Kak?” tanyanya akhirnya, mencoba memecah hening.
“Iya… biasa. Orang tua gua lagi ke cabang,” jawab Himmel ringan.
Lyra menggenggam kotak kue lebih erat, matanya menelusuri setiap sudut ruangan yang mereka lewati.
“Rumahnya… artistik banget,” ujarnya, tersenyum kecil.
Himmel terkekeh lalu menepuk bahu Lyra pelan. “Ah, masa? Katanya dulu bokap cita-citanya mau jadi arsitek, tapi entah kenapa malah nyasar jadi businessman.”
Nada suaranya ringan, hangat—kontras dengan udara yang beberapa saat lalu masih kaku. Ia berjalan lebih dulu, memimpin Lyra menaiki tangga. Langkah mereka beradu pelan di anak tangga parket yang mengeluarkan bunyi lembut setiap kali diinjak.
Di lantai dua, suasana terasa lebih tenang. Lyra menatap sekeliling, memperhatikan deretan pintu berwarna putih gading di sepanjang dinding.
Himmel berhenti di depan salah satunya, lalu menoleh sambil tersenyum. “Ini kamar gue,” katanya ringan.
Lyra sempat melirik ke pintu di sebelahnya. Warnanya lebih gelap dari yang lain, cat di tepinya sedikit terkelupas, dan gagangnya tampak kusam. “Kalau yang itu?” tanyanya, menunjuk pintu di samping.
“Oh, itu kamarnya Erd,” jawab Himmel singkat. Suaranya datar, tapi ada jeda kecil di antara katanya—seolah menahan sesuatu yang enggan diucapkan.
Lyra terdiam. Sekilas, bayangan wajah Erde melintas di benaknya—tatapan dingin, kalimat ketus, dan jarak yang selalu terasa terlalu jauh. Ia mengembuskan napas perlahan, mencoba menepis pikirannya sendiri.
“Yuk, Ra,” suara Himmel memecah lamunannya.
Lyra sedikit terkejut, hampir menjatuhkan kotak kue yang masih digenggamnya. “Eh—iya,” sahutnya gugup. Ia melangkah masuk, mengikuti Himmel.