Angin sore berdesir lembut di sela helm saat Erde memacu motornya di jalan yang mulai sepi. Langit di atasnya separuh jingga, separuh kelabu—seolah ragu ingin bertahan atau tenggelam bersama matahari. Suara mesin meraung, memecah keheningan kota yang kian meredup menjelang senja.
Ia tak punya tujuan pasti. Yang jelas, diam di rumah hanya akan membuat dadanya semakin sesak. Jadi ia terus melaju, membiarkan suara mesin menenggelamkan pikirannya yang riuh, sampai akhirnya motor itu berhenti di depan Hemart.
Rem berdecit pelan, dan tubuh Erde masih tegang bahkan setelah mesin dimatikan. Begitu kakinya menjejak aspal, nyeri tajam merambat dari lutut hingga betis. Ia meringis kecil, menahan diri agar tidak tampak limbung. Sejenak saja, lalu ia menarik napas pelan dan berdiri tegak, seolah rasa sakit itu tidak pernah ada.
Udara sore masih menyimpan kehangatan, membawa samar bau aspal dan debu jalanan. Bunyi klakson jauh terdengar sebentar sebelum hilang tertelan senja. Erde melangkah menuju pintu kaca dan masuk ke dalam tanpa ekspresi.
Lampu neon bergetar samar di langit-langit, memantulkan bayangan dingin di wajahnya.
Genta yang sedang menata rak menoleh dan tersenyum lebar.
“Eh, Mas Erd… tumben ke sini?” katanya sambil merapikan bungkus snack di depannya. Lolipopnya abis lagi, ya?” godanya ringan seperti biasa.
Erde menatapnya datar. Tatapannya kosong, tapi suaranya tajam. “Gak usah basa-basi. Ambilin gue rokok yang itu, tuh,” ujarnya singkat sambil menunjuk rak di belakang kasir.
Genta sempat terpaku, tangannya berhenti di atas rak yang sedang ia tata. Erde yang ia tahu memang pendiam, dan sering bicara ketus. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda—sosoknya terasa asing.
“Rokok buat siapa, Mas?” tanyanya hati-hati, mencoba tetap tersenyum meski ada keraguan yang tak bisa ia sembunyikan.
Erde diam. Tatapannya masih kosong, nyaris tak berkedip.
Genta menelan ludah sebelum akhirnya mengambilkan rokok yang ditunjuk dan meletakkannya di atas meja kasir.
“Lo ngerokok, Mas? Sejak kapan?” tanyanya ragu, mencoba memecah hening yang mulai terasa berat. “Gak ngemut lolipop lagi?”
“Bacot. Gak usah sok ikut campur,” potong Erde datar—ketus, seperti tiap katanya menahan amarah yang tak terucap. Ia melempar uang ke meja, lalu berbalik pergi tanpa menunggu kembalian.
Pintu otomatis menutup di belakangnya, meninggalkan Genta yang masih terpaku—kaget, sekaligus tak percaya, bahwa bocah yang dulu menggilai rasa manis kini mulai menggantinya dengan yang pahit.
❖❖❖
Malam itu, udara terasa berat. Dari jendela ruang tamu, cahaya lampu jalan menembus tirai tipis, menorehkan bayangan samar di lantai.
Sekar duduk di sofa, memandangi jam dinding yang berdetak pelan. Rumah terasa terlalu sunyi.
Tak lama, terdengar langkah pelan dari luar. Pintu terbuka perlahan, dan Erde masuk tanpa suara.
Sekar refleks menoleh, lalu berdiri.
“Erd, kok baru pulang?” tanyanya lembut, meski nada cemasnya sulit disembunyikan.
Erde hanya menggumam dan berjalan melewatinya. Dari jaketnya tercium aroma asap samar—asing, tapi entah kenapa terasa familiar. Ia menurunkan tas dari bahu, meletakkannya di kursi, lalu ke dapur mengambil minum tanpa berkata apa pun.
“Kamu udah makan belum, Nak?” tanya Sekar lagi, suaranya ragu.