Sore itu, udara lantai dua terasa lebih pengap. Dari celah pintu kamar Erde, bau asap samar merayap keluar.
Himmel berhenti di depan pintu, lalu mengetuk dua kali. “Erd?” panggilnya pelan. Tak ada jawaban.
Ia ragu sejenak sebelum mendorong pintu perlahan.
Asap tipis langsung menyambutnya—menari di udara yang diterpa cahaya lampu kamar. Bau rokok menusuk hidung, membuatnya terbatuk kecil.
“Erd…” suaranya serak nyaris tak percaya, “lo ngerokok?”
Di tepi jendela, Erde duduk bersandar, setengah tenggelam dalam cahaya senja yang mulai pudar. Ujung rokok di jarinya menyala redup, lalu padam diembus perlahan.
“Keluar,” ucapnya datar tanpa menoleh.
Himmel mengerutkan alis. “Lo kenapa sih?”
“Gue bilang keluar.” Suaranya tetap dingin, meski ada getar halus yang nyaris tak bisa disembunyikan.
Himmel tak menggubris. Ia malah mendekat, menatap rokok di tangan Erde.
“Gue juga mau coba,” katanya pelan, tanpa ragu.
Sebelum Erde sempat bereaksi, Himmel sudah meraih pergelangan tangannya dan merebut rokok itu. Asap tipis menari di antara mereka, nyala kecil di ujungnya bergoyang, nyaris padam.
“Jangan—!”
Terlambat—rokok itu sudah menyentuh bibirnya. Seketika wajah Himmel menegang. Ia batuk keras, tubuh membungkuk, satu tangan menekan tenggorokan yang perih. Suara batuknya memecah keheningan kamar yang penuh asap dan jarak di antara mereka.
Erde terbelalak. Ia tak menyangka Himmel akan nekat.
“Ngapain sih lo, bang*sat!” serunya refleks, nada suaranya meninggi. Ia buru-buru merebut kembali rokok itu dan menekannya ke asbak. Api padam disertai bunyi desis pendek, menyisakan bau hangus yang tajam di udara.
Wajah Erde memerah, rahangnya menegang. “Lo mau bikin gue disalahin lagi?!”
Himmel masih terbatuk, matanya sedikit berair. Di sela batuk yang belum reda, ia memaksa tersenyum kecil.
“Gue cuma mau tau… yang lagi lo rasain.”
Erde terdiam sesaat. Napasnya berat, jemarinya mengepal di sisi tubuh.