Pagi itu langit tampak cerah, tapi kepala Erde terasa berat, seolah sebagian dirinya masih tertinggal di malam sebelumnya. Ia melangkah pelan menyusuri koridor sekolah yang mulai ramai—mencari tempat untuk bernaung dari riuh yang tak memberinya ruang bernapas.
Udara pagi yang hangat terasa menekan di tengkuknya. Ia menarik napas panjang, mencoba menepis sisa kantuk dan gelisah yang belum juga hilang. Langkahnya berbelok melewati taman, tempat sinar matahari menembus celah pepohonan dan memantul di permukaan air kolam.
Suasana itu sempat membuatnya terhenti. Untuk sesaat, ia hanya berdiri diam, membiarkan pikirannya kosong—hingga sebuah suara memecah keheningan.
“Pagi, Kak Erde!”
Erde menoleh pelan. Lyra berdiri tak jauh darinya bersama Krista, seragamnya rapi, wajahnya cerah seperti biasa—kontras dengan matanya yang sembap karena kurang tidur. Sekilas, ia hanya menatap tanpa ekspresi sebelum kembali melangkah.
“Eh, Kak…” Lyra sedikit mempercepat langkahnya, meninggalkan Krista di belakang. “Gimana kondisi Kak Himm sekarang? Gue denger, kemarin dia drop, ya?”
Nada suaranya lembut, tulus—namun di telinga Erde terdengar seperti pisau kecil yang mengusik sesuatu dalam hatinya.
Langkahnya terhenti. Ia sempat ingin menjawab dengan tenang, tapi entah kenapa, emosi justru lebih dulu mengambil alih.
“Ngapain nanyain dia segala? Sok peduli banget. Suka, lo sama dia?” Nadanya dingin, tajam, seperti tamparan yang tak terlihat.
Wajah Lyra seketika berubah. Sekilas ia menunduk, bibirnya bergetar menahan sesuatu.
“Kak… gue kan cuma nanya… lo kenapa, sih, jadi marah terus sama gue? Emang gue salah apa?”
Erde terdiam. Napasnya terasa berat, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam dadanya. Ia tahu Lyra tak bermaksud buruk, tapi entah kenapa kata-kata itu justru memancing amarah yang tak bisa ia jelaskan.
“Gak usah ikut campur urusan keluarga gue! Urus aja hidup lo sendiri.” Suara itu keluar lebih keras, lebih tajam dari yang ia kira—seolah ia sendiri tak sadar telah mengucapkannya.
Lyra tertegun sejenak. Ekspresinya berubah, tak lagi lembut. Ia mengangkat wajahnya, menatap balik dengan tatapan penuh kekecewaan.
“Gue nanya karena gue peduli, bukan karena pengin ikut campur.” Suaranya bergetar, tapi tetap tegas.
“Lo pikir cuma lo yang capek? Semua orang juga punya beban, Kak! Tapi gak lebay kayak lo. Si paling ngerasa menderita.”
Ia menelan ludah, matanya mulai memerah.
“Lo cowok yang gak punya hati.”
Hening sejenak—dan di sela napas yang bergetar, keluar kalimat yang terdengar seperti pecahan kaca.
“Gue nyesel pernah suka sama lo!”
Kata-kata itu menampar lebih keras dari suara mana pun. Erde tak sanggup membalas, bibirnya terasa kaku, seolah kehilangan tenaga untuk sekadar bicara.
Lyra sempat menatapnya sebentar, pandangan singkat tapi sarat makna—lalu berbalik. Langkahnya cepat, namun belum terlalu jauh ketika Krista melangkah maju, mencoba menahannya.
“Ra, tungguin!”
Tapi Lyra tak berhenti. Ia terus berjalan dengan kepala tertunduk, bahunya sedikit bergetar, matanya berkaca-kaca. Dalam hitungan detik, sosoknya lenyap di ujung koridor yang perlahan diselimuti keheningan.
Krista menatap punggung Lyra sebentar sebelum berbalik ke arah Erde.