Pagi itu ruang makan terasa tenang, hanya terdengar bunyi sendok yang beradu pelan dengan mangkuk.
Himmel duduk di kursinya dengan seragam yang sudah rapi meski dasinya sedikit miring. Di depannya, semangkuk bubur mulai mendingin, menunggu untuk dihabiskan.
Julian berdiri di sisi meja, merapikan kancing di pergelangan kemejanya. Pandangannya sesekali terarah pada putra sulungnya, namun ia tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Di samping Himmel, Sekar duduk sambil menggenggam cangkir teh hangat. Uapnya naik pelan, membentuk garis tipis di udara. Tatapannya lembut, meski ada kekhawatiran yang tak bisa ia sembunyikan.
Himmel menunduk, mengaduk bubur di mangkuknya tanpa berniat memakannya. Sendok itu hanya berputar pelan, menimbulkan suara samar yang memecah keheningan.
Sekar memperhatikan sejenak, lalu meletakkan cangkir teh di atas meja.
“Kamu yakin mau berangkat sekolah hari ini?” tanyanya lembut.
Himmel mengangguk pelan tanpa menatap ibunya. “Aku baik-baik aja, Mam.”
Julian menghentikan gerak tangannya. Ia menatap putranya dengan ekspresi datar, tapi sorot matanya menyimpan keraguan.
“Tapi dokter bilang kamu masih harus banyak istirahat, Himm.”
“Aku udah banyak istirahat, kok, Pap.” Himmel menatap mereka bergantian. Ada permohonan halus di suaranya. “Aku cuma pengin sekali aja… ngerasain hidup normal kayak anak lain.”
Sekar menarik napas pelan, seolah ingin berkata sesuatu tapi menahannya. Ia tahu, tak ada gunanya memaksa.
Julian sempat menatap istrinya sebelum berkata pelan, “Ya sudah, kalau gitu, biar Papa yang antar kamu sampai sekolah, ya?”
“Gak usah, Pap. Aku mau bareng Erd aja.” Senyumnya tipis, tapi matanya sempat menunduk sesaat sebelum kembali menatap ayahnya.
Ruangan kembali tenggelam dalam hening sebelum suara langkah pelan terdengar menuruni tangga.
Tak lama, Erde muncul dengan rambut yang masih agak berantakan dan ransel tersampir di bahu. Tatapannya datar, nyaris tanpa ekspresi.
Himmel menoleh. Ada senyum tipis yang coba ia paksakan. “Tuh, Erd udah siap,” katanya pelan, berusaha terdengar ceria meski napasnya sedikit berat.
Sekar memiringkan kepala, tatapannya mengarah ke kaki Erde. “Lho, Erd, naik motor? Kakimu udah beneran kuat?”
Erde menunduk sebentar lalu mengangguk tipis.
“Kalau cuma naik motor, masih bisa,” jawabnya pendek.
Beberapa menit kemudian, suara mesin motor terdengar dari halaman depan. Udara pagi masih lembap, sisa embun menempel di pagar besi dan dedaunan. Langit mulai terang, tetapi nuansanya masih sunyi—seperti detik-detik sebelum kota benar-benar bangun.
Erde menurunkan standar motor, lalu menoleh pada kakaknya yang berjalan pelan menghampiri.
“Ngapain lo maksa banget berangkat bareng? Biasanya juga sama supir,” ujarnya ketus sambil mengaitkan helm, gerakannya cepat seperti menutupi rasa canggung.
Himmel terkekeh kecil, suaranya lirih tapi tetap hangat.
“Sekali-sekali, Erd. Siapa tau nanti lo malah kangen boncengin gue.”
Ia menepuk kepala adiknya yang sudah tertutup helm, sentuhan singkat yang nyaris seperti ritual lama, sebelum akhirnya naik ke motor.
Erde hanya mendengus, lalu memutar gas perlahan. Motor melaju melewati jalanan kompleks yang masih sepi. Langit di atas mereka berwarna abu pucat, dan udara pagi masih menyisakan lembap embun di udara.
Dari spion, ia menangkap bayangan kakaknya yang duduk sedikit condong ke depan, tangan kirinya bertumpu pada ujung jaket Erde. Genggamannya tampak kaku, namun sesekali melemah, seolah menahan letih yang tak ingin ia tunjukkan.
Erde memperlambat laju motornya. Angin pagi terasa lebih lembut saat mereka melewati deretan pohon di sepanjang jalan. Keheningan di antara mereka terasa janggal, seolah ada sesuatu yang ingin diucapkan tapi tertahan di udara.
“Erd…” suara Himmel terdengar pelan di belakangnya.
“Hm?”