Malam turun perlahan, menelan langit malam yang gelap tanpa bintang.
Waktu sudah lewat tengah malam ketika Erde tiba di rumah. Langkahnya gontai, kepalanya berat, dan matanya hampir tertutup oleh lelah yang menumpuk.
Ia membuka pintu tanpa suara. Tak ada siapa pun yang menyambut—hanya dingin yang menggantung di udara, menyelinap masuk bersama langkahnya.
Tanpa benar-benar melihat ke sekeliling, ia melempar tas ke sofa, menendang sepatunya sembarangan, lalu menuju kamarnya.
Begitu punggungnya menyentuh kasur, dunia seperti memudar. Kelopak matanya berat, pikirannya kosong.
Malam itu, tanpa sadar, Erde tertidur di rumah yang diam-diam telah kehilangan separuh jiwanya.
❖❖❖
Pagi datang tanpa suara. Cahaya matahari menerobos tirai kamar, jatuh menimpa wajah Erde yang masih terlelap. Ia terbangun perlahan, kelopak matanya berat, tubuhnya masih diselimuti sisa lelah yang menggendap di dada.
Dengan langkah malas, ia turun ke bawah. Rumah terasa sepi—sepi yang tidak biasa.
Ia membuka kulkas, mengambil sebotol air, lalu meneguknya pelan. Pandangannya sekilas melirik ke meja makan—kosong. Tak ada piring, tak ada aroma roti panggang, tak ada suara Himmel memanggil ibunya.
Biasanya pagi seperti ini Julian, Sekar, dan Himmel sudah duduk di sana.
Tapi hari ini, hening—hening yang terasa salah.
Erde mengernyit. Belum sempat menebak apa yang janggal, suara pintu depan tiba-tiba terbuka.
Julian masuk bersama Sekar. Wajahnya kusut, langkahnya tergesa. Tatapannya langsung tajam ketika melihat Erde berdiri di ruang makan.
“Ke mana aja kamu semalaman?” suaranya berat, kasar. “Seharian keluyuran, gak pulang-pulang.”
Ia mendekat selangkah, rahangnya mengeras. “Kamu pikir Papa gak tau kamu bolos kemarin? Mau jadi apa, hah? Berandalan?!”
Erde tidak menjawab. Ia menunduk, tapi jemarinya mencengkeram leher botol erat-erat. Air di dalamnya ikut bergetar, mengikuti dadanya yang bergejolak menahan emosi.
Napas Julian makin berat, menahan emosi yang hampir pecah. Ia memejam sebentar, tapi saat membuka mata, tatapannya lebih tajam.
“Kamu tau,” lanjutnya, suaranya bergetar oleh frustrasi. “Himm koma. Dan kamu malah enak-enakan di luar. Bukannya bantu mikir, malah nambah beban!”
Tubuh Erde menegang seketika. Tatapannya yang semula kosong mendadak bergetar. Botol di tangannya nyaris terlepas, tapi ia buru-buru menggenggamnya lebih erat.
“Sabar, Pap,” ucap Sekar. “Kita dengerin dulu penjelasan Erd…” suaranya bergetar, menatap suaminya cemas.
“Aku udah cukup sabar, Mam!” bentak Julian. “Anak ini udah keterlaluan! Harus dikasih pelajaran!”
Keheningan menegang di antara mereka. Erde mengangkat wajah perlahan. Tatapannya dingin, tapi ada sesuatu yang retak di dalamnya.
“Gak bisa ya,” suaranya rendah tapi tajam, “sekali aja perhatiin aku… bukan cuma pas aku bikin masalah?”
Julian terdiam beberapa detik—cukup lama untuk melihat bahu putranya yang bergetar halus, tapi tetap terlalu singkat untuk menahan amarahnya.
“Apa maksud kamu?” suara Julian meninggi, alisnya mengerut.
Ucapan itu membuat Erde kembali menunduk, jemarinya mencengkeram botol begitu erat hingga plastiknya berderit. Napasnya naik turun, menahan sesuatu yang akhirnya pecah.
“Bisa gak sih kalian jadi orang tua yang bener?” suaranya meledak, pecah oleh kemarahan yang terlalu lama dipendam.
“Selama ini kalian cuma mikirin Himm, gak pernah liat aku, kecuali pas kalian kecewa! Kalian gak adil—egois!”
Sekar terpaku, wajahnya pucat. Julian melangkah maju, nadanya meninggi.
“Jaga mulut kamu, Erd! Berani kamu ngelawan orang tua, hah?!”
Erde mendongak, matanya berkilat tajam, napasnya memburu.
“Gue capek!” teriaknya. “Capek pura-pura baik-baik aja di rumah sialan ini!”
Erde membanting botol di tangannya. Botol itu terempas ke lantai, penyok, tutupnya terpelanting, airnya memercik. Suara benturannya memecah ruangan, menyalakan sesuatu di dada Julian.
Ia maju dua langkah, wajahnya memerah, lalu—
Plak!
Tamparan itu mendarat di pipi Erde, memutus keheningan yang baru pecah.
Sekar menjerit kecil, refleks menutup mulutnya. Air matanya jatuh begitu saja.