Sudah tiga hari Erde bersembunyi di kost Genta—tiga hari memutus diri dari dunia, seolah dengan menjauh ia bisa menahan kenyataan lebih lama.
Ia tidur di lantai beralaskan tikar tipis, merokok lebih sering dari sebelumnya, dan menatap langit-langit kusam seperti menunggu sesuatu runtuh dalam dirinya.
Kamar kost itu kecil dan pengap, kipas anginnya berputar pelan seperti hampir menyerah. Namun di sinilah, Erde merasa tenang—atau setidaknya, tak perlu berhadapan dengan rumah yang dinginnya menusuk seperti museum tempat kenangan disimpan tanpa suara.
Genta beberapa kali mencoba mengajaknya bicara, tetapi Erde hanya membalas dengan anggukan singkat, bahu yang terangkat, atau hening panjang yang terasa seperti penolakan halus.
Sore itu gerimis turun, mengetuk atap seng dengan ritme gelisah. Udara di dalam kost perlahan menjadi lembap.
Saat sedang membereskan gelas di wastafel, Genta melirik ke arah jendela.
Erde duduk di sana, lutut ditekuk, memandangi hujan tanpa ekspresi, seolah tetesan yang jatuh lebih penting dari apa pun yang menunggunya di rumah.
“Lo beneran gak mau pulang?” tanya Genta, suaranya pelan tapi berat.
Erde tidak menoleh. “Lo ngusir gue juga?”
Genta mengusap wajah, napasnya lelah—bukan karena keberadaan Erde, tapi karena keras kepalanya yang sulit ditembus.
“Enggak. Gue cuma nanya.”
Keheningan jatuh di antara mereka. Tipis, tapi keras seperti dinding tak terlihat.
Genta menatapnya lama, cukup untuk menyadari satu hal: bocah itu tidak akan pulang meski satu dunia menyeretnya.
Ia akhirnya hanya menghela napas—menyerah. “Gue gak masalah kalau lo masih mau di sini.”
Erde tetap diam. Hanya bahunya yang menegang sedikit. Di luar, langit meredup dan hujan turun semakin deras.
Tepat ketika ketegangan itu mulai mencair, ketukan keras menghantam pintu—seperti permulaan badai yang siap menerjang.
Keduanya refleks menoleh. Genta bergerak cepat menuju pintu dan menarik gagangnya.
Lyra berdiri di ambang pintu. Rambutnya basah, wajahnya merah, napasnya tersengal seolah ia telah berlari cukup jauh.
“Akhirnya ketemu juga…” katanya, suaranya terdengar serak oleh campuran lega dan emosi yang ia tahan sepanjang jalan.
Erde langsung berdiri, rahangnya mengeras.
“Tau dari mana gue di sini?”
Lyra tidak menjawab. Ia masuk begitu saja, dan langsung menarik pergelangan tangan Erde.
“Ikut gue. Sekarang,” suaranya serak, nyaris pecah.
Erde mendengus, menepis tangan itu kasar. “Apa-apaan, nih?!”
Letupan emosi memenuhi ruangan sempit itu.
Genta hanya mengangkat alis dan mundur beberapa langkah—seolah tak ingin terlibat dalam masalah yang bukan urusannya.
Erde hendak memalingkan badan, tapi Lyra sudah menghalangi jalannya. Bahu gadis itu naik turun, menahan sesuatu yang ingin meledak.
“Lo kira gue ke sini buat drama?” suaranya tajam, tapi ada getaran yang tak bisa ia sembunyikan. “Gak usah ribet, deh.”
Erde membalas tatapannya. Dingin.
“Tch… katanya nyesel. Ngapain masih peduli?”
Ucapan itu menusuk lebih dalam dari yang ia sadari. Seketika ekspresi Lyra berubah—bukan hanya marah, tapi perih yang ia coba sembunyikan sejak awal.
Ia memalingkan wajah, rahangnya mengeras. Ia benci mengakuinya—bahwa meski sudah terlanjur bilang “menyesal”, ia tetap saja peduli. Dan justru itu yang membuat emosinya makin mendidih.
Lyra melangkah mendekat, jarak mereka tinggal beberapa jengkal.
“Gue ke sini bukan buat bahas itu,” ucapnya rendah. “Gue ke sini buat nyeret lo pulang.”
Erde mengepalkan tangan. “Emang lo siapa, hah?”
Untuk beberapa detik, Lyra hanya menatapnya—mata yang menyimpan bara, takut, dan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar amarah. Ia berusaha menahan diri. Tapi batas itu akhirnya retak.
“Lo ngerti gak, sih?” suaranya pecah meski nyaris tak terdengar. “Kak Himmel tuh… nyariin lo.”
Erde mengalihkan pandangan, pura-pura tak peduli.