Lorong ICU dipenuhi cahaya putih yang dingin menembus kulit. Erde berlari masuk dengan napas terputus-putus, tubuhnya masih menggigil oleh hujan dan sisa ketakutan yang belum hilang. Suara langkahnya menggema keras di koridor yang lengang, seperti memaksa waktu bergerak lebih cepat.
Di ujung lorong, tepat di depan pintu kaca ICU, Sekar tampak hampir roboh. Satu tangannya menekan dada, napasnya kacau. Julian merangkul istrinya erat, mencoba menahan getaran di tubuhnya. Lyra berdiri tak jauh dari mereka, kepala tertunduk, jemarinya bertaut gelisah.
Erde hanya melihat sekilas. Tanpa sapaan. Tanpa jeda. Napasnya masih memburu ketika ia memandang pintu ICU lagi. Lyra mengangkat kepala, seberkas kelegaan tipis muncul di matanya saat melihat Erde akhirnya datang.
Erde hanya melirik sekilas—tanpa sapaan, tanpa jeda. Napasnya masih memburu ketika ia kembali menatap pintu ICU. Lyra mengangkat kepala, dan seberkas kelegaan tipis muncul di matanya saat melihat Erde akhirnya datang.
Langkahnya terhenti di ambang pintu.
Himmel terbaring di tengah ruangan, dikelilingi selang dan monitor yang berkedip lambat. Wajahnya pucat, seolah cahaya dalam dirinya telah sirna.
Erde menarik napas tipis. Jemarinya mengepal di sisi tubuh, seperti menahan dirinya agar tidak pecah di tempat.
Ia melangkah ke sisi ranjang. Dari dekat, kondisinya jauh lebih buruk: masker oksigen menutupi sebagian wajah, kabel-kabel monitor memetakan denyut jantung yang tersisa, infus menetes pelan di lengan yang makin mengurus. Tubuh yang dulu tampak kuat kini begitu rapuh, hampir tak menyerupai sosok yang ia kenal.
Kelopak mata Himmel bergetar. Perlahan ia membuka mata.
Senyum kecil itu muncul. Tipis, tapi tetap hangat seperti biasanya.
“Hai… Erd…” Suaranya serak, teredam masker. “Lo… pulang juga…”
Erde menahan napas. Ia mendekat tanpa sadar.
“Gue… udah nunggu lo…” Himmel tersengal, Setiap kata terdengar seperti perjuangan.
Tangannya terangkat sedikit—gemetar, hampir jatuh kembali.
Erde segera meraihnya. Tanpa ragu, tanpa jeda. Ia menggenggam tangan itu erat, hangat, seolah mencoba menahan waktu agar tidak terus berjalan. Untuk pertama kali sejak mereka kecil, genggaman itu terasa seperti rumah.
Himmel menarik napas pelan. Matanya menatap Erde lama, seakan ingin menghafal wajah adiknya untuk terakhir kali. Kelopak matanya berkedip lambat, hampir kehilangan tenaga untuk terbuka kembali.
Genggaman jemarinya perlahan melemah. Suaranya pecah di tengah napas yang semakin berat.
“Kalau ini… yang terakhir… gue cuma pengin bilang… gue selalu sayang sama lo…”
Napas Himmel tersendat. Dada yang naik turun itu makin pelan, seperti tubuhnya berjuang keras hanya untuk menyelesaikan kalimat.
“Jangan pernah ngerasa sendiri lagi…”
Ada jeda panjang.
Erde menahan napas—tenggorokannya mengencang, tapi ia tetap diam.
“Makasih… udah nemenin gue… lahir ke dunia ini…”
Suara itu makin tipis, hampir hilang.