Kamar Himmel masih seperti terakhir kali di tinggalkan. Sunyi. Terlalu rapi di beberapa sudut, terlalu hidup di sudut yang lain—seolah pemiliknya hanya keluar sebentar dan akan kembali kapan saja.
Erde masuk perlahan.
Pintu menutup di belakangnya tanpa suara.
Di ruangan ini, waktu terasa berhenti. Tidak ada yang berubah, kecuali sesuatu di dalam dirinya yang terasa hancur sedikit demi sedikit.
Ia duduk di lantai, tepat di samping ranjang Himmel. Tangannya meraih selimut yang masih menyimpan aroma khas kakaknya—campuran chamomile dan lavender dari diffuser yang hampir setiap malam menyala di kamar itu.
Untuk beberapa menit, Erde hanya diam. Napasnya berat, ditahan terlalu lama—seakan ia takut suara sekecil apa pun bisa mengusir kenangan yang tersisa di ruangan itu.
Baru ketika dadanya mulai terasa sesak, ia menunduk dan berbisik lirih:
“Gue pulang, Himm… tapi lo gak ada.”
Suara itu pecah di ujung kalimat, tipis seperti sesuatu yang patah.
Pandangan Erde kemudian jatuh pada sebuah kotak kayu kecil di bawah meja belajar. Kotak itu sedikit berdebu, seolah sudah lama menunggu untuk ditemukan.
Dengan tangan gemetar, ia menariknya keluar dan membuka tutupnya perlahan. Di dalamnya, tersimpan agenda lusuh milik Himmel—benda yang dulu menemani hari-harinya.
Saat ia meraihnya, aroma kertas lama dan tinta menyeruak—bau yang anehnya terasa seperti pulang.
Erde membuka agenda itu pelan, seolah takut merusak jejak terakhir kakaknya. Halaman pertama masih rapi, penuh tulisan kecil yang teratur—gaya Himmel yang selalu membuat segalanya tampak ringan, bahkan saat hidupnya terasa berat.
Ia membalik beberapa halaman.
Lalu berhenti.
Tulisan di bawah tanggal itu tampak goyah, tintanya sedikit luntur seperti ditulis saat tangannya bergetar.
“Kadang… capek juga.
Obat lagi, obat lagi.
Gak enak jadi orang paling muda tapi badannya paling tua. Pingin berhenti, tapi gue janji sama diri sendiri buat kuat. Demi adik gue, dia satu-satunya alesan gue pengin bertahan.”
Erde menahan napas. Ada sesuatu yang menusuk dadanya—tajam, tiba-tiba, seperti luka lama yang tersentuh lagi.
Ia menunduk lebih dekat, seolah suara Himmel merembes keluar dari setiap huruf.
“Gue pengin hidup normal.
Pengin suatu hari bisa lulus bareng, ngerayain ulang tahun ke 17. Foto-foto kayak waktu kecil dulu.
Biar dia tau… gue bangga jadi kakaknya.”
“Lulus bareng…”
Kata itu menggema di kepala Erde, pecah perlahan seperti kaca tipis.
Ia ingat semua—saat pura-pura tak peduli, saat ia memilih menjauh, dan saat ia marah karena tidak tahan melihat Himmel selalu diistimewakan… atau begitulah yang ia pikirkan dulu.
Erde membuka halaman berikutnya dengan tangan yang mulai berkeringat.
“Hari ini Erd pulang telat lagi. Gue takut dia kecapekan, tapi kalau gue ngomong pasti dia marah. Tapi gak apa-apa, selama dia sehat, gue lega.”
Tulisan berikutnya lebih pendek, seperti gumaman seseorang yang sudah terlalu letih.
“Gue harap pas dia dewasa nanti, dia gak terlalu keras sama dirinya.”
Dan kemudian, sebaris kalimat yang membuat Erde membeku.
“Lyra baik. Kayaknya dia sayang banget sama Erd. Semoga adik gue gak bikin dia kecewa.”
Erde terpaku. Matanya kosong, tapi napasnya mulai bergetar—rahang mengencang, pupil mengecil oleh rasa bersalah yang datang tanpa ampun.
Halaman setelahnya seperti pukulan lain.