Pintu kamar Himmel akhirnya terbuka—pelan.
Erde muncul di ambang pintu, tubuhnya tampak lebih kurus dibanding tiga hari lalu. Rambutnya kusut, matanya merah dengan lingkar hitam pekat di bawahnya, namun tetap kering—seolah ia sudah menangis sampai tak ada lagi yang bisa keluar.
Jemarinya masih menahan kusen pintu, seperti butuh satu detik lagi sebelum benar-benar meninggalkan ruangan itu.
Lorong rumah menyambutnya dengan hawa dingin dan sunyi—udara yang berat, seolah ikut membawa sisa tiga hari yang ia habiskan dalam gelap. Suara hujan di luar terdengar tipis, tapi cukup untuk mengisi ruang yang tidak berani diisi siapa pun.
Erde menarik napas pendek, lalu akhirnya melangkah keluar.
Baru beberapa langkah, ia terhenti di bawah cahaya redup lampu gantung, Lyra duduk meringkuk bersandar pada dinding. Kepalanya miring, napasnya pelan seperti orang yang tidur karena kelelahan. Jaketnya melorot dari bahu, dan jemarinya masih menggenggam ponsel yang mati.
Erde memandanginya beberapa detik. Wajahnya tetap datar, tapi ada sesuatu di matanya yang perlahan melunak ketika ia sadar—ada seseorang yang menunggunya.
Lyra mengerjap tiba-tiba. Kelopak matanya bergetar kecil sebelum akhirnya terbuka penuh, menyesuaikan dengan cahaya lampu dan sosok di depannya. Ia mendongak.
“K–Kak…?” suaranya serak. Ia segera menegakkan tubuh, mencoba mengusir kantuk yang masih berat.
Erde diam beberapa saat, lalu menghela napas pelan, “Lo masih di sini?” Suaranya rendah, tenang, tapi masih menyimpan jarak.
Lyra mengangguk kecil, jemarinya meremas ujung jaket. “Gue… cuma mau pastiin Kak Erde baik-baik aja.”
Erde mengalihkan pandangan sebentar, seolah mencoba menyusun ulang dirinya sebelum bicara.
“…Udah malem, mending lo pulang,” ucapnya pelan.
Lyra menggeleng cepat, memasukkan ponsel ke sakunya, lalu berdiri tegak, seakan menunjukkan kalau ia takkan mundur.
“Gue gak mau pulang kalau lo masih—”
“Jangan ngeyel.”
Erde memotong, suaranya pelan tapi tegas—cukup untuk membuat Lyra terdiam.
Erde kembali melangkah. Tepat saat melewati Lyra, tangannya terangkat lalu menepuk kepala gadis itu pelan, sedikit canggung.
Lyra membeku. Matanya membesar, hampir tak percaya.
Erde ikut terhenti. Ia menatap telapak tangannya—bingung, seakan baru menyadari gerakannya barusan. Ada sedikit kehangatan yang muncul tiba-tiba, dan itu membuatnya menegang.
Lyra menyentuh rambutnya, tepat di tempat Erde menepuknya tadi.
“Kak…” bisiknya, senyum samar muncul di bibirnya, meski matanya masih ragu.
Erde tidak menoleh. Ia menarik napas dalam, lalu mengembuskannya pelan.
“Gue udah gak apa-apa.”