Dua bulan setelah kepergian Himmel, rumah itu belum kembali utuh. Tapi setidaknya, ia berhenti runtuh.
Keheningan masih tinggal di rumah itu—bukan lagi sebagai hantaman, tapi sebagai lapisan tipis yang menyelimuti semuanya. Kadang terasa menusuk, kadang nyaris tak terasa. Namun hari tetap berjalan, dan keluarga itu mulai belajar bernapas bersamanya, bukan tenggelam di dalamnya.
Erde sudah kembali ke sekolah, meski dirinya belum benar-benar hadir. Ia menjalani harinya tanpa banyak suara. Guru-guru memperlakukannya dengan hati-hati, teman-temannya berusaha untuk tidak menatap terlalu lama. Erde menerima semuanya tanpa reaksi. Ia berjalan, duduk di kelas, lalu pulang—seperti bayangan yang perlahan mencoba menjadi manusia lagi.
Di rumah, Sekar lebih sering menyiapkan sarapan tanpa banyak kata. Julian masih menaruh susu vanilla favorit Himmel di kulkas, meski tak ada lagi yang menyentuhnya. Hal-hal kecil itu menghadirkan kehangatan samar, seolah keluarga itu sedang belajar merajut diri dari ujung yang paling rapuh.
Sore itu, setelah gerimis turun sepanjang hari, Erde kembali ke kamar Himmel—tempat yang selalu ia datangi ketika rindu terasa terlalu penuh. Ia duduk di lantai, bersandar pada ranjang, membiarkan pandangannya menyapu seluruh ruangan, seakan berusaha menangkap napas seseorang yang baru saja hilang.
Perlahan, ia bangkit. Ada tarikan halus di dadanya, semacam dorongan untuk mendekat—seakan kerinduan membimbing langkahnya sendiri.
Begitu ia menoleh ke dinding, pandangannya langsung tertahan pada kalender.
Butuh satu detik sebelum ia sadar: lusa adalah ulang tahun mereka.
Sebuah lingkaran tipis berwarna biru mengelilingi tanggal itu. Di sudutnya, tulisan tangan Himmel tampak jelas:
17th’ Himm and Erd. ꉂ(ˊᗜˋ)♡*
Jemari Erde terulur, menyentuh permukaannya pelan. Dari garis biru yang sedikit pudar itu, seolah ada sisa hangat yang kembali menyentuhnya—seolah Himmel baru menandainya kemarin sambil tersenyum kecil.
Hening merayap memenuhi ruangan. Erde tetap berdiri di sana, hanya bersama tulisan itu… dan sesuatu yang perlahan menghangat di dadanya.
❖❖❖
Hari ulang tahun itu datang tanpa perayaan—tanpa kue, tanpa lilin. Hanya ketenangan tipis yang menggantung sejak pagi. Erde memilih berdiam di kamar hampir sepanjang hari, membiarkan waktu lewat begitu saja.
Menjelang sore, ia turun ke ruang makan. Sekar dan Julian sudah duduk menunggunya. Keheningan menyambut lebih dulu sebelum kata apa pun sempat terucap.
Saat melihat Erde, Sekar segera berdiri. Ia menepuk bahu putranya perlahan, lalu memeluknya erat—sentuhan yang terasa seperti sesuatu yang akhirnya kembali setelah lama hilang.
“Selamat ulang tahun, Nak… maafin Mama, ya.”
Julian menyusul. Ia meraih kepala Erde dan mengusapnya lembut—sentuhan sederhana yang jarang ia lakukan, tapi hangat.
“Semoga kamu selalu bahagia, Nak,” ucapnya lirih, seolah itu adalah doa yang sudah lama ingin ia titipkan, namun selalu tertahan oleh jarak di antara mereka.
Erde tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri di antara mereka, membiarkan perasaan itu datang pelan—hangat, tapi juga asing—seperti sesuatu yang baru muncul setelah lama tidak ia rasakan.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ucapan itu ditujukan untuknya. Tidak lagi di balik bayang-bayang Himmel, tidak karena perbandingan. Di sudut bibirnya, sebuah senyum tipis muncul—kecil, hampir tak terlihat, tapi ada.
Namun kehangatan itu segera terbentur oleh satu kesadaran pahit: ruang kosong di sebelahnya. Tempat di mana seharusnya Himmel berdiri, menyapanya dengan tawa yang selalu sama. Bayangan itu membuat napas Erde goyah—pendek, tercekat—seolah ia harus menahan sesuatu agar tidak pecah begitu saja..
Ia menundukkan kepala. Bukan untuk bersembunyi, hanya memberi jeda. Pelan, ia meraih tangan Sekar di pundaknya dan menepuknya kembali—gestur kecil, tapi sarat makna. Lalu ia menoleh sekilas ke arah Julian, tatapannya sayu namun hangat, seolah menitipkan terima kasih tanpa suara.
Keheningan menggantung sejenak sampai sebuah ketukan pelan memecahnya.
Sekar melepaskan pelukannya, memberi ruang bagi Erde untuk melangkah ke depan dan membuka pintu.
Dari balik ambang, Lyra muncul—membawa sekotak kue dan sebuah bingkisan berbalut kertas biru bermotif bintang. Wajahnya sedikit canggung, tapi senyum cerianya tetap muncul, mencolok seperti biasanya.
Ia menatap Erde sebentar—ragu, lalu berkata pelan, “Selamat ulang tahun, Kak… gue bawain sesuatu, nih.”
Lyra mengulurkan bingkisan itu dengan dua tangan—hati-hati, seolah takut merusak sesuatu yang pernah dijaga oleh seseorang yang sama-sama mereka rindukan.
“Ini titipan dari Kak Himmel,” lanjutnya pelan. “Hadiah ulang tahun buat Kak Erde.”
Erde tersentak. Napasnya tercekat. Tatapannya membesar, seolah sedang berhadapan dengan bayangan seseorang yang tak mungkin kembali. Setelah beberapa detik, napasnya turun pelan, dan ia meraih bingkisan itu dengan tangan yang sedikit bergetar.