Bumi Tanpa Langit

fotta
Chapter #32

- Epilog -

Lapangan indoor itu masih kosong ketika Erde berdiri di tengahnya, kepala tertunduk, bola tergenggam erat di kedua tangan. Lantai yang dingin memantulkan hawa pagi yang masih menggantung seperti kabut tipis. Napasnya stabil, tapi ada sesuatu di balik keteraturannya—seperti keputusan yang akhirnya menemukan bentuknya.

Hening.

Tidak ada sorakan. Tidak ada langkah kaki.

Hanya dengung mesin pendingin yang berputar pelan di sudut ruangan.

Erde memejamkan mata.

Dalam gelap itu, sebuah suara muncul—samar, seperti kenangan yang bertahan meski waktu berusaha menghapusnya.

“Janji ya… lanjutin mimpi lo.”

Ia mengangkat kepala perlahan.

Lalu, tanpa tergesa, ia menurunkan bola dan mulai mendribble. Ritmenya pelan, mencari pijakan. Pantulan pertama terdengar ragu; pantulan kedua lebih mantap. Setelah ritmenya menyatu dengan napasnya, Erde menarik tubuh sedikit ke belakang, mengangkat bola, dan menembaknya.

Swish.

Masuk bersih.

Jaring berdesir tipis, menjadi satu-satunya suara yang memenuhi ruangan.

Tepuk tangan tiba-tiba menggema dari belakangnya.

“Amazing.”

Erde menoleh.

Riyo berdiri di ambang pintu, hoodie kusut, rambut berantakan, tapi senyum lebarnya tetap sama seperti dulu. Ia berjalan mendekat, lalu merangkul bahu Erde tanpa banyak basa-basi—seolah mereka tidak pernah saling jauh.

Welcome back, bro.”

Erde menatapnya sebentar.

Senyum tipis muncul—tulus, ringan, seperti beban yang akhirnya turun satu per satu.

Tanpa banyak kata, Erde mengambil tasnya dan bergerak menuju pintu.

“Eh, buru-buru banget? Mau ke mana?” Riyo menyusul dengan nada heran.

“Praktikum,” jawab Erde singkat, menoleh sekilas.

Ia melangkah keluar dari lapangan, meninggalkan pantulan bola terakhir yang masih menggaung lembut di dalam ruangan.

☆☆☆

Koridor rumah sakit siang itu terang, tapi tetap terasa dingin—cahaya putih memantul dari lantai keramik, bercampur dengan deru AC dan langkah cepat para perawat. Di tengah lalu-lalang itu, Erde berjalan pelan, kemeja putihnya rapi, lanyard identitas menggantung di leher, dan tas kecil berisi perlengkapan praktik tersampir di bahunya.

Ia berhenti di depan pintu ruang terapi anak, menarik napas pendek sebelum mendorongnya perlahan.

Di dalam, beberapa pasien kecil tengah menjalani latihan—ada yang mencoba berdiri sambil berpegangan, ada yang memindahkan balok warna-warni, ada yang berusaha menjaga keseimbangan di atas bola besar. Suara instruksi ringan bercampur dengan tawa kecil yang muncul sesekali, menciptakan suasana hangat di ruangan itu.

Di dekat jendela, seorang bocah laki-laki duduk di kursi plastik, memeluk boneka dinosaurus di pangkuannya dengan kedua lengan terlipat rapat. Pandangannya menerobos keluar jendela—seolah pikirannya sedang berada di tempat lain. 

Erde mendekat perlahan.

“Bintang?” panggilnya lembut.

Bocah itu mendongak pelan. Selang oksigen tipis menempel di pipinya, dan matanya yang besar terlihat sayu.

Erde berjongkok, agar sejajar dengannya. 

“Kamu kenapa?” tanyanya, suaranya tetap pelan.

Bintang menggigit bibirnya, menunduk sambil memeluk bonekanya lebih erat.

“Aku… bosen di sini.”

Lihat selengkapnya