Ada tumpukan buku berbau lembab dan berdebu di samping meja baca. Puluhan kabinet abu-abu yang berisi ribuan file yang selesai dan tidak selesai, serta foto-foto TKP, foto-foto pelaku atau korban, barang-barang bukti, dan lembaran berkas yang sedikit tidak terurus di ruangan ini. Semuanya menumpuk minta disusun.
Huh! Aku menekan hidung sebentar, lalu memutuskan untuk mengabaikannya. Seharusnya aku cukup mencari semua informasi ini di Chat GPT atau Deepseek saja. Toh perkembangan teknologi, terutama yang pintar seperti Artificial Intelligence alias AI memang sudah membuat semua arus informasi jadi tidak ada batasnya. Mulai dari informasi tentang rumah tangga artis, sampai isu keamanan nasional, semua bisa didapat dengan mudah.
Sayangnya, laporan kriminal 20 tahunan ke belakang atau lebih belum bisa diakses dengan aplikasi-aplikasi itu. Yang ada hanya artikel-artikel berita biasa dan opini. Sama sekali tidak ada berita tentang penyelidikan. Jadi, selama tiga bulan ini aku harus menghabiskan waktu di ruang penyimpanan dokumen kepolisian. Tetapi itu juga masih belum lengkap.
Ah! Memang salahku sendiri yang nekat membuat skripsi berat: “Kasus-kasus Pembunuhan Terkenal yang Tak Terpecahkan di Indonesia Periode 2000-2010”. Tadinya aku membuat judul itu supaya terlihat pintar. Karena aku pikir mudah mencari berkas-berkas tua yang tidak diinginkan teman-teman lain. Ternyata, aku jadi terlihat bodoh. Apa yang sulit ditemukan oleh teman-teman, sudah tentu sulit juga aku temukan.
Jadi, mau tidak mau aku harus bolak-balik ke ruangan pengap ini. Melawan kantuk sambil bersin-bersin, hidung tersumbat karena pengap, dan batuk-batuk karena sirkulasi udaranya buruk. Setidaknya aku sudah berhasil menyelesaikan dua belas kasus kriminal lengkap dengan teori konspirasinya. Jadi tinggal satu kasus lagi.
Ini kasus terakhir dan yang paling sulit, yang membuatku akhir-akhir ini tidak bisa tidur.
Yaitu kasus kematian Salimar Puji, seorang artis yang kabarnya meninggal karena melompat dari atap studio produksi pada tanggal 12 Agustus 2004. Tidak ada saksi. Tidak ada tersangka. Kasus ditutup dengan kesimpulan paling mudah. Bunuh diri. Tetapi, ponsel dan tas Salimar tidak pernah ditemukan. Aneh, bukan? Bagaimana barang sepenting bisa hilang di hari kematiannya? Tidak mungkin dia datang ke tempat kerjanya tanpa bawa benda-benda penting itu, bukan?
Anehnya lagi, setelah Salimat meninggal, film yang dia bintangi berhenti produksi dan tidak pernah ada kabarnya lagi. Gedung tempat dia bunuh diri juga menjadi terbengkalai dan dianggap membawa kutukan. Bukankah gedung itu pernah tayang di acara televisi “Dunia Maya”?
Baru-baru ini, seorang pegawai pemerintahan meninggal karena kecelakaan saat bertugas di kota yang sama dengan studio itu. Lalu sebelumnya, seorang aktor yang sering main sebagai pemeran figuran juga dikabarkan meninggal karena bunuh diri setelah dituduh terlibat dalam perdagangan manusia, judi, dan narkoba. Uniknya, keduanya adalah mantan kru di rumah produksi yang sama, dan pernah sama-sama bekerja untuk film yang dibintangi Salimar. Jadi banyak yang bilang kalau Salimar sedang minta ditemani.
Apalagi kata para polisi itu, mereka menemukan mantan kru lain di rumah sakit jiwa dan tidak bisa bicara. Aku jadi curiga. Bagaimana kalau itu bukan tumbal, tetapi sesuatu yang disengaja?
Aku menarik map tebal dari rak paling atas. Sampulnya sudah usang, bertuliskan kode kasus dengan tinta pudar. Ketika aku membuka map itu, abu bertaburan seperti serangga buah. Ini memang seperti membuka luka lama yang tidak pernah sembuh. Entah apa yang dirasakan Salimar di hari terakhirnya bekerja bersama para kru itu. Mungkin sekarang mereka bisa bertemu lagi di “sana” dan membuat film baru.
Ups! Suara telepon membuatku terkejut. Ternyata yang meneleponku adalah Anggita, saudara kembarku. Dia memang selalu punya cara untuk mengganggu ketenanganku!
“Ya, Nggi, ada apa?” tanyaku acuh tak acuh.
“Anggara Sanjaya! Lo ngomong apa tadi malam ke Bunda? Kenapa sampe sekarang Bunda nggak keliatan?” tanyanya.
“Lah! Mana gue tau! Kan gue udah berangkat dari pagi. Kenapa juga Bunda yang pergi yang salah jadi gue!”
“Ini karena Bunda nulis surat, katanya: “Jangan cari Bunda. Bunda pamit!”
“Terus, apa hubungannya sama gue?”