BUNGA 3 WARNA

Ayu S Sarah
Chapter #10

IBU

Sore itu, tempat rehabilitasi tempat Emilia dirawat terasa terlalu sunyi. Bau obat bercampur antiseptik menggantung di udara, menusuk hidung. Saat itu, Embun berdiri di depan pintu kamar nomor tujuh belas. Jari-jari tangannya ragu melayang di udara, napasnya tertahan, sebelum akhirnya ia mendorong pintu perlahan. 

Seorang perempuan dengan rambut beruban duduk di kursi dekat jendela. Emilia menatap ke taman kecil di luar sana, daun-daunnya berguguran diterpa angin sore. Bibirnya bergerak-gerak, seperti sedang berbicara kepada seseorang yang tak kasat mata.

Embun berdiri di ambang pintu. Seluruh tubuhnya menegang. Ada bagian dari dirinya yang ingin berbalik dan pergi, tapi kakinya tetap melangkah masuk.

Tanpa menoleh, masih melihat ke luar jendela, Emilia berkata pelan, “Kau datang lagi, Nilam?”

Hatinya mencelos. Tentu saja. Selama ini hanya Nilam yang mengunjunginya.

“Ini aku, Ibu… Embun,” katanya parau.

Emilia menoleh perlahan. Mata itu dulu pernah menatapnya dengan dingin, penuh amarah dan kekecewaan. Kini kosong, hampa.

“Embun?” Emilia mengerutkan dahi, lalu tertawa kecil. “Tidak. Embun sudah pergi. Aku kehilangan dia bertahun-tahun lalu.”

Embun mengepalkan tangan. Dingin merayap dari ujung jari ke dadanya.

“Aku di sini, Ibu…” suaranya bergetar.

Emilia menatap Embun lama sebelum tersenyum samar—tatapan yang tidak benar-benar melihat dirinya. “Kau tidak seharusnya kembali…”

Embun memalingkan wajahnya. Matanya panas, dan tiba-tiba masa lalu menhempasnya.

Rumah yang ia tinggali dulu bukan rumah penuh tawa. Tapi penuh bentakan, penuh benda pecah, penuh ketakutan. Embun kecil pernah berdiri di balik pintu kamarnya, mengigit bibir sambil menahan tangis ketika melihat Bapaknya mengamuk, membentak Ibunya yang berusaha memunguti pecahan piring dengan tangan gemetar.

“Kau pikir aku bodoh?!” bentak Hasan.

Lihat selengkapnya