Ruangan praktek Agatha yang pengap, kurang pencahayaan, tidak terlalu hangat, tidak pula dingin—seolah memang dirancang agar siapa pun yang berada di dalamnya tidak akan merasa sepenuhnya nyaman.
Embun duduk di sudut sofa panjang kali ini, membiarkan punggungnya tidak sepenuhnya bersandar. Ada keraguan di matanya, namun ada juga keteguhan yang nyaris tak terlihat—keteguhan yang belum berani ia beri nama.
Kali ini bukan sekadar kunjungan biasanya—ini adalah permulaan. Permulaan dari perjalanan yang lebih dalam ke dalam dirinya, ke dalam lorong-lorong gelap yang selama ini hanya dihuni oleh suara-suara yang tak pernah benar-benar ia pahami.
Jika isi kepalanya diartikan sebuah rumah, maka pintu-pintu di dalamnya terkunci rapat. Dan hari ini, Embun berniat untuk membuka satu per satu pintu itu—meski ia belum tahu apa yang menunggunya di balik sana.
Di seberang ruangan, Agatha perlahan membuka-buka lagi buku catatannya sebelum lanjut menemani Embun yang tampak gelisah. Saat Agatha telah duduk di seberang Embun, ia terus menghindari tatapan langsung dari Agatha, berulang kali menarik napas panjang seperti hendak menyelam tanpa tahu seberapa dalam dasar airnya.
“Kita mulai dari mana?” kata Embun lirih.
Agatha mengangkat wajahnya, memberikan pandangan hangat, namun waspada—bukan ingin menekan, melainkan memastikan. “Jangan buru-buru, Bun.”
Embun kikuk.
“Kamu apa kabar?” Agatha mencoba mencairkan suasana. “Kamu tampak lelah.”