BUNGA 3 WARNA

Ayu S Sarah
Chapter #23

ARSITEKTUR EMBUN - CERMIN

Dulu, suara-suara di dalam kepala Embun hanya terdengar seperti desiran angin ribut—tanpa nama, tanpa wajah. Mereka bersautan, berusaha membantu memilah mana yang luka dan mana yang nyata. Namun kini, Embun mulai ingin mengenal suara mereka satu per satu. Ia ingin mendengarkan dengan lebih jernih.

Setiap kali menapaki lorong menuju ruang praktek Agatha, Embun merasa seperti berjalan menuju ruang pengakuan. Namun bagi Embun di lorong yang sempit dan sunyi itu, dipenuhi gema yang hanya bisa ia dengar sendiri.

Ini bukan lagi pertemuan biasa. Ini adalah pertemuan dengan dirinya sendiri.

Agatha menyambut seperti biasa—hangat dan tenang. Kali ini ia meletakkan secangkir teh hangat di depan Embun, lalu duduk sambil membawa tumpukan kartu tebal seukuran buku catatan.

“Saya ingin memperlihatkan sesuatu padamu.” Katanya.

Ia menyodorkan kartu itu lama—sebuah kartu dengan latar putih, ada noda tinta hitam pekat, simetris.

“Apa yang kamu lihat?” tanyanya.

Embun menatap kartu itu lama. Tidak ada bentuk yang benar-benar jelas. Tidak ada cerita yang utuh. Dahinya pun mengerut pelan.

Lihat selengkapnya