Embun berlari menyusuri lorong menuju ruang praktek Agatha, napasnya terengah, langkahnya tergesa—seolah jika ia berhenti sebentar saja, semua yang berkecamuk di dalam dirinya akan runtuh sebelum sempat keluar.
“Aku merasa kosong,” katanya begitu tiba, nyaris tanpa duduk.
Agatha tidak langsung menjawab. Ia membiarkan keheningan sebentar, memberi ruang agar kata-kata itu jatuh dengan utuh.
“Apa yang terjadi, Embun?”
“Aku terus memikirkan kartu-kartu itu,” ucapnya. “Gambar-gambar yang kamu tunjukkan kemarin.” Ia menelan ludah. “Rasanya seperti menemukan kotak tua yang sudah lama terkubur. Tapi isinya… tidak baik-baik saja.”