Ruangan itu sederhana, menyimpan pesonanya sendiri. Susunan perabotnya kaku, memberi jarak pada setiap benda—seolah masing-masing benda milik penghuni yang berbeda. Namun, dengan caranya sendiri, ruangan itu tetap terasa hangat.
Embun bersandar pada kursi di depan meja rias yang tak jarang juga digunakan untuk mengerjakan tugas-tugas kuliahnya.
Di tengah berantakannya barang-barang yang ada di sana, di hadapannya sudah terbuka sebuah buku catatan yang diberikan Agatha beberapa hari sebelumnya—lembaran kertas putih, bersih, menunggunya untuk dicurahi.
Embun mengambil pulpen, menuliskan sesuatu.
Tulislah apa pun, tanpa aturan.
Ia teringat kata-kata Agatha waktu itu, ia merasa perlu menuliskannya, menjadi sebuah pengingat, namun ia belum menemukan cerita atau curahan isi hatinya yang ingin ia tulis di dalamnya.
Saat pikirannya tengah menerawang jauh, tiba-tiba matanya tertuju pada botol parfum yang asing baginya—ia tidak ingat dimana dan kapan membeli parfum itu. Ia menyemprotkan parfum itu ke pergelangan tangannya, aromanya menyeruak tiba-tiba—aroma melati dan vanila yang tercampur, terlalu manis.
Napas Embun tertahan. Tubuhnya melemas, seperti kehilangan penopang. Suara radio di ruangan itu menjauh, seperti ditarik perlahan ke belakang kepalanya. Dan ketika kesadarannya kembali mengendap, sesuatu dalam dirinya telah bergeser.
Ia memperhatikan susunan perabot itu—tidak ada yang salah, hanya terasa dingin. Wajahnya gugup, Nilam telah kembali hadir, aroma yang selama ini menjadi kesukaannya tadi membangunkannya. Kehadiran yang tidak disangka-sangka, karena Nilam lumayan cukup lama tenggelam dalam dukanya.
Kemudian Nilam melihat tulisan tangan Embun di buku catatan yang terbuka.
“Tulislah apa pun, tanpa aturan.” Baca Nilam, seolah Embun memberikan perintah pada siapa pun saat melihat tulisan itu.
Apa yang harus kutulis? Pikirnya.
Nilam termangu. Tapi tangannya sudah memegang pulpen, namun belum berhasil menuliskan sesuatu. Ia tidak berniat menulis tentang dirinya, tapi tangannya bergerak lebih dulu, sampai pada akhirnya tangannya bergerak dan mulai menuliskan sesuatu.