BUNGA 3 WARNA

Ayu S Sarah
Chapter #26

ARSITEKTUR EMBUN - TULISAN DAN GAMBAR

Agatha mengalami kebimbangan. Ia tidak ingin meyakini dan mengatakan kepada Embun bahwa ia sekarang yakin kalau ingatannya akan pulih sepenuhnya, sesuai keyakinan sebelumnya. Dengan beberapa koleganya, dan ahli terapi seni dan ahli penulisan buku harian, ia mempelajari kembali rekam medis Embun.

“Perhatikan perubahan Embun dari hari ke hari. Dimana awalnya ia sangat tertutup, dan sekarang mulai percaya, dan menggantungkan harapannya padaku.” Ucap Agatha. “Mari kita bahas lagi ketiga kepribadian yang ada di dalam Embun.”

“Berapa usia Embun?” tanya Dani, ahli terapi seni pada Agatha.

“23 tahun,” jawab Agatha. “Terlihat cara berpikir Embun masih belum stabil.” 

“Clara kemungkinan berusia di akhir 20 tahun sampai 30 tahun!?” pikir Nadia, ahli terapi penulisan buku harian.

“Ya.” Agatha menyatakan setuju dengan analisa Nadia. “Terlihat dari sikapnya yang otoritas, Clara menjadi yang paling matang secara usia.”

“Lala?” tanya Dani.

“Oh.. anak ini,” segaris senyuman muncul di wajah Agatha. “Dia paling jujur, spontan, cerminan kesederhanaan anak-anak.”

“Bagaimana dengan Nilam? Karakter ini paling menarik.” Kata Nadia.

“Dia seperti penyeimbang Embun. Tidak sekeras Clara, tapi cukup kuat menahan emosi Embun agar tidak tenggelam. Usianya terpaut tidak jauh dari usia Embun, mungkin sekitar 4 tahun, perbedaan usia ini memberi kesan ‘lebih dulu mengenal dunia’. Figur sedikit lebih mapan dan rasional.” Ungkap Agatha. 

“Kupikir Clara diciptakan sebagai pelindung,” kata Agatha. “Kepribadian yang muncul ketika Embun merasa terlalu lemah menghadapi dunia. Seorang kakak yang galak, menjuluki Embun si cengeng, dan marah kalau Embun terlibat dalam kesulitan. Berbeda dengan Nilam, kakak yang dewasa dan bisa diandalkan.”

“Lala, si gadis kecil, ingin banyak bicara, tapi terlalu takut, atau memang tidak memahami apa yang sedang terjadi. Aku curiga ia merupakan gambaran diri Embun saat seusia itu. Lucu, kadang ia menunjukan rasa humornya.”

Mereka rapat di ruang staf yang bersebelahan dengan ruang praktik Agatha. Matahari sore menyeruak masuk lewat jendela. Dari tempat Agatha duduk, ia dapat melihat ke taman, dan saat itu dilihatnya Embun masuk ke taman.

Nadia memegang buku harian Embun. “Di buku ini jelas sekali terlihat kalau seperti ada beberapa orang yang mengisinya. Perhatikan tulisan ini,” katanya pelan, si ahli terapi itu lalu menyerahkan buku itu kepada Agatha.

|           Tulislah apa pun, tanpa aturan.

“Menurutku ini Embun.” Ujar Nadia. “Ia terlalu banyak berpikir sebelum menulis. Bahkan sebelum satu kalimat selesai, ia sudah meragukan kalimat sebelumnya, dan membutuhkan panduan, itu sebabnya aku berpikir ini Embun.”

Agatha mengangguk pelan. Dani, si ahli terapi seni, ikut mencondongkan tubuhnya.

Nadia membalik halaman berikutnya.

|           Sudah lama sekali rasanya…

|           Bagaimana dunia ini tetap berputar, seolah aku tidak pernah ada di dalamnya…

“Ini Nilam,” kata Nadia. “Emosional, tapi jelas. Ia tidak ragu pada pikirannya sendiri.”

Agatha memperhatikan beberapa detik lebih lama.

“Ya,” katanya pelan. “Nilam seperti seseorang yang sudah lebih dulu mengenal dunia.”

Nadia membalik halaman sekali lagi. Kali ini mereka semua diam. Tulisan itu terlalu rapi. Terlalu dewasa. Kalimatnya juga sangat berbeda, lebih sadar.

|           Tidak semua yang ditulis perlu dimengerti. 

Lihat selengkapnya