Meja besar terbuat dari kayu jati itu berdiri kokoh dan megah di tengah ruangan, menjadi pusat dari segalanya yang ada di dalamnya. Permukaannya halus, mengkilap samar saat terkena cahaya matahari sore yang menyeruak masuk lewat jendela atau cahaya lampu yang jatuh dari langit-langit. Di belakang meja itu berdiri kursi kerja dengan bantalan empuk, dibalut kulit berwarna coklat tua yang tampak nyaman—kursi yang terbiasa ditempati seseorang yang jarang diganggu.
Rak-rak buku memenuhi satu sisi dinding, tersusun teratur. Beberapa buku tampak tua, kertasnya menguning, sementara yang lain masih kaku dan baru. Di sisi lain, jam dinding besar berdetak pelan.
Tik.
Tok.
Siang itu, seorang anak kecil berdiri tepat di ambang pintu.
Embun belum genap enam tahun. Tangannya yang kecil masih menggenggam boneka kain yang warnanya mulai pudar. Ia tidak benar-benar berniat masuk—setidaknya tidak pada awalnya. Ia hanya penasaran.
Pintu ruang kerja itu terbuka sedikit.
Cukup untuk membuat rasa ingin tahunya mengalahkan larangan yang selama ini ia dengar. Dengan langkah pelan, ia mendorong pintu itu. Engselnya mengeluarkan bunyi lirih yang panjang.
Ruangan itu terasa berbeda dari bagian rumah yang lain. Lebih dingin. Sunyi. Seolah udara di dalamnya jarang terusik oleh langkah orang.
Embun masuk beberapa langkah, matanya berkeliling dengan hati-hati. Ia tidak benar-benar tahu apa yang ia cari. Anak-anak seringkali hanya mengikuti rasa penasaran yang muncul begitu saja.
Lalu pandangannya berhenti. Di atas meja jati itu, di antara benda-benda asing baginya, ada satu yang menarik perhatiannya—sebuah pena berwarna merah. Tubuhnya ramping, berkilau halus di bawah cahaya. Terlalu mencolok di antara yang lain.
Embun menatapnya lebih lama dari seharusnya.
Jam dinding berdetak lagi.
Tik.
Tok.
Ia melangkah mendekat. Dan pada saat itulah ia menyadari sesuatu—kursi di belakang meja itu tidak benar-benar kosong. Seseorang tengah duduk di sana. Kursi kulit itu mulai bergerak perlahan, dan orang itu bangkit dari sana.
Tubuh kecil Embun membeku. Ia tidak mundur. Hanya diam menatap—berusaha memahami sesuatu yang belum memiliki bentuk di pikirannya.
Tik.
Tok.
Dan untuk sesaat, ruangan itu seperti terlipat. Gambarnya kabur. Lalu kosong. Seolah ada bagian yang hilang—menunggu untuk diisi kembali.