Memasuki libur semester, suasana kampus mulai lengang. Beberapa mahasiswa perantauan memilih tetap tinggal, menjalani hari-hari yang terasa lebih sunyi dari biasanya. Termasuk Embun.
Ia duduk di sudut perpustakaan, tenggelam dalam dingin yang terlalu tenang. Kertas-kertas tugas terbuka di hadapannya, tapi tak satu pun benar-benar ia kerjakan. Pikirannya terlalu penuh—atau justru kosong.
Bayu datang tanpa suara. Kursi di sampingnya di tarik mendadak.
Embun tersentak. Bahunya mengeras seketika. Napasnya tertahan, seperti tubuhnya bereaksi lebih cepat daripada kesadarannya.
Bayu tertawa kecil, lalu buru-buru mengangkat kedua tangannya.
“Maaf,” katanya.
“Kaget tau,” jawab Embun datar,
“Kamu lagi ngapain? Nggak pulang?”
Embun tidak menjawab. Ia hanya menggeser sedikit kertas di depannya, menunjuk tugas yang belum tersentuh.
Bayu mengangguk paham. Lalu mulai mengeluh tentang tugasnya sendiri. Ia mengeluarkan buku catatan dan sebuah pena dari tasnya—pena berwarna merah.
Mata Embun berhenti di sana. Terlalu lama. Kilapnya memantul halus di bawah lampu perpustakaan. Benda itu seharusnya biasa saja. Sesuatu yang sederhana dan biasa.
“Bun?”
Embun tidak langsung menjawab.
“Boleh pinjam?” ujarnya akhirnya, pelan, hampir seperti berbisik, menunjuk pena itu.
“Boleh dong,” kata Bayu, menyodorkannya.
Embun menerimanya. Pena itu dingin. Ia menggenggam pena itu sedikit lebih lama dari yang seharusnya. Jarinya tidak bergerak. Hanya diam, seolah mencoba mengingat sesuatu yang tidak kunjung muncul—atau sesuatu yang sebenarnya tidak ingin ia ingat.
“Bun.” Suara Bayu menariknya kembali.
Embun mengangkat wajahnya. Sekilas. Lalu menunduk lagi.