BUNGA 3 WARNA

Ayu S Sarah
Chapter #29

BOUGAINVILLEA

Keindahannya berasal dari kelopak bunganya—berwarna-warni, cerah, menarik perhatian karena tumbuh indah. Bahkan dari jauh, bunga ini terlihat mencolok, seolah tidak pernah ragu untuk terlihat hidup. 

Semak Bunga Kertas tampak sempurna, dirawat penuh cinta oleh Pak Saleh, sang pemilik—seorang seniman tua yang tinggal di depan rumah Bibi Sarah.

Padahal, bunga yang sebenarnya itu kecil, pucat, tersembunyi di tengah—seperti tidak ingin ditemukan. Sisanya hanya lapisan—tipis, ringan, dan terlalu mudah dipercaya sebagai keindahan. Dan di balik semua itu, tanpa banyak yang menyadari, batangnya diam-diam dipenuhi duri.

Aku jadi berandai-andai, jika aku hidup sebagai bunga, mungkin aku adalah Bunga Kertas. Selain aku menyukainya, ada sesuatu dari bunga itu yang terasa dekat. Terlalu dekat, bahkan. 

Aneh. Aku tidak ingat kapan terakhir kalinya merasa seperti ini. Seolah-olah ada lebih dari satu warna di dalam diriku, seperti Bunga Kertas yang bisa tumbuh dengan banyak warna dalam satu pohon.

Karena kadang aku merasa menjadi diriku sendiri. Kadang—tidak sepenuhnya. Dan ada saat-saat tertentu, aku seperti mengenali sesuatu, tapi tidak pernah benar-benar bisa menyebutkan namanya. 

Kata dr. Agatha, itu hal yang wajar—sementara aku tidak yakin.

Sore itu aku berdiri di teras rumah Bibi Sarah. Memandangi semak Bunga Kertas milik Pak Saleh yang menjalar di pagar, warnanya saling bertumpuk—merah, putih, dan merah muda. 

Aku mengernyit pelan. 

Seharusnya ada warna ungu di sana.

Merasa yakin.

Saat aku hendak melangkah lebih dekat, suara Bibi Sarah tiba-tiba memanggil dari belakang.

“Lagi apa, nduk[1]?”

Aku menoleh, sedikit terkejut. “Eh… nggak, Bi.”

Ia tersenyum seperti biasa, tenang—seolah tidak ada yang aneh.

“Lagi apa?” tanyanya lagi.

“Itu… lagi liatin Bunga Kertas di rumah pak Saleh.”

“Cantik ya?! Kamu suka yang warna merah muda, kan?”

Lihat selengkapnya