Hari-hari berjalan seperti biasa. Masih sama seperti kemarin—membosankan, nyaris tidak ada sesuatu yang istimewa. Tapi hari ini, entah kenapa, Embun menyadari lebih jelas, kalau dirinya yang telah berubah.
Embun berdiri di tempat yang sama seperti beberapa hari lalu, saat kalimat itu pertama kalinya muncul begitu saja di kepalanya.
Aku ingin jatuh cinta.
Kalimat itu sekarang tidak lagi terdengar asing. Tidak juga mengejutkan. Justru terasa seperti sesuatu yang sudah lama menunggu untuk diakui—keluar dalam diam, sabar, dan akhirnya menemukan jalannya.
Namun, semakin ia mengulanginya di dalam hati, ada sesuatu yang terasa tidak sepenuhnya miliknya. Suara itu menggema, seperti suara yang berasal dari dalam diri, tapi tidak benar-benar milik Embun.
Embun menarik napas pelan, membiarkan udara sore masuk tanpa terburu-buru. Matanya mengikuti gerak daun di ujung pagar, yang bergesekan ringan satu sama lain. Semuanya tampak biasa saja, tidak ada yang berbeda.
Hatinya tetap tidak tenang. Ada sensasi yang sulit dijelaskan. Bukan gelisah. Bukan juga takut. Lebih seperti menunggu sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak tahu bentuknya. Dan anehnya, rasa itu terasa akrab dan hangat.
Langkah kakinya bergerak tanpa ia sadari. Menuruni satu per satu anak tangga. Seolah tubuhnya sudah tahu ke mana harus pergi, sementara pikirannya masih tertinggal di belakang. Lalu terdengar suara denting sendok, dan aroma kopi. Embun mengerjap. Ia sudah berdiri di depan sebuah kedai.
Sejak kapan aku berjalan?
Embun mengerjap pelan. Mencoba mengingat, tapi tidak ada jeda yang jelas antara berdiri di depan teras sebelumnya dan berada di sini sekarang. Tidak ada keputusan. Tidak ada transisi. Hanya… terjadi begitu saja—seolah hatinya yang mengerakan langkah kakinya.
Ia menatap tangannya sendiri. Kosong. Tidak membawa apa-apa.
Saat melihat ke dalam kedai kopi itu, entah kenapa, ada perasaan samar—seperti hatinya tertaut di tempat ini, sesuatu yang tidak ia ketahui atau diingat.
Embun menggeleng pelan, seolah mencoba mengusir pikiran itu. Mungkin hanya perasaannya saja yang sedang berlebihan. Sejak beberapa hari terakhir, semuanya memang terasa sedikit lebih tajam. Lebih hidup. Lebih dekat ke permukaan.
Dan di antara semua itu, ada satu hal yang terus kembali—pelan, tapi konsisten, yaitu sosok pria. Bukan bayangan yang jelas, tidak juga wajah yang utuh, tapi cukup untuk membuatnya berhenti di tengah aktivitas, cukup untuk membuat dadanya menghangat tanpa alasan yang bisa ia jelaskan.
Ia tidak ingat sejak kapan sosok itu mulai muncul. Atau mungkin, bukan “mulai”, tapi sosok itu memang sudah ada sejak lama, hanya saja baru sekarang ia melihatnya. Atau lebih tepatnya—mengizinkan dirinya untuk melihat.
Embun mengangkat wajahnya sedikit, mencoba menangkap cahaya sore yang mulai berubah warna. Ada yang menyelinap di sela-sela napasnya, seperti harapan. Dan sesuatu yang terasa lebih samar, seperti peringatan.
“Aku ingin jatuh cinta,” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar bahkan oleh dirinya sendiri.