BUNGA 3 WARNA

Ayu S Sarah
Chapter #32

RASA ITU

Hari itu, Embun datang dengan sadar. Tidak ada langkah yang hilang. Tidak ada jeda yang kosong. Ia memilih untuk berjalan ke sana.

Aroma kopi menjelang sore selalu terasa lebih pekat. Tangannya sedikit dingin ketika mendorong pintu. Denting kecil terdengar. Ia sempat berhenti sejenak di ambang pintu, seolah memberi waktu pada dirinya sendiri untuk mundur—tapi ia tidak mundur.

Ia melangkah masuk, matanya langsung mencari tempat duduk. Ia duduk di meja yang sama seperti dalam ingatannya—atau perasaannya—Embun sendiri tidak yakin. Tiba-tiba, pria itu menoleh hampir bersamaan dengan saat Embun melihatnya, seolah ada sesuatu yang diam-diam sudah saling menarik mereka ke titik yang sama.

Senyum kecil muncul di wajah Sal. Tidak berlebihan. Tidak dibuat-buat.

“Hi,” sapanya sederhana, tapi cukup untuk membuat dada Embun menghangat lebih cepat dari yang seharusnya.

Pria itu mendekat. Langkahnya terukur.

“Aku nggak tahu kamu bakal datang,” kata Sal menarik kursi di depannya.

“Aku juga nggak tahu… sampai akhirnya aku di sini.”

Kalimat itu keluar begitu saja. Dalam benaknya, gambaran saat-saat seperti ini terasa familiar, seolah pernah terjadi sebelumnya.

Sal mengangkat alis sedikit. “Kamu sering ngomong kayak gitu?”

Embun tersenyum tipis, “Kayak gimana?”

Never mind,” katanya.

Alis Embun terangkat. Ia menunduk sebentar, memperhatikan jemarinya sendiri yang saling bertaut.

Sejenak, mereka terdiam. Tapi diam yang tidak lagi canggung. Lebih seperti sedang menyesuaikan ritmenya. 

Pelayan datang, mengantarkan pesanan mereka, lalu pergi. Suara mesin kopi di kejauhan mengisi ruang yang sempat kosong. 

“Jadi…” Sal menyandarkan punggungnya, menatap Embun dengan cara yang tidak mengintimidasi, tapi cukup dalam. “Kamu ingat aku?”

Pertanyaan itu seharusnya sederhana, tapi tidak terasa seperti itu. Embun mengangkat pandangannya. Mata mereka pun bertemu.

“Aku…” katanya ragu. “Merasa kenal. Tapi…”

Sal mengangguk pelan. Tidak tampak terkejut.

“Kadang kita nggak benar-benar butuh waktu lama buat merasa dekat sama seseorang.” Lanjut Sal.

“Atau mungkin… kita cuma lupa kalau kita pernah dekat.” Sambung Embun sambil tersenyum kecil.

Lihat selengkapnya