BUNGA 3 WARNA

Ayu S Sarah
Chapter #33

TIGA WARNA

Malam itu, Embun tidak menyalakan lampu. Ia duduk di lantai, bersandar pada sisi ranjang, membiarkan gelap memeluknya tanpa perlawanan. Hanya cahaya samar dari luar jendela yang masuk, cukup untuk membuat bayangan di dalam kamar tampak bergerak pelan. 

Ia tidak lagi berusaha merapikan isi kepalanya. Dan ia tidak lagi mencoba mengusirnya. Perasaan itu tetap ada. Kehadiran itu tetap tinggal. Embun hanya duduk termangu, membiarkannya ada.

“Apakah aku sudah cukup mahir terlihat baik-baik saja?” bisiknya pelan.

Tidak ada suara yang menjawab. Namun ada sesuatu di dalam dirinya yang bergetar—lebih seperti kesadaran yang tidak bisa diabaikan.

Embun menutup matanya. Dan air mata Embun jatuh tanpa suara.

Dan dalam gelap itu, ia tidak sendirian.

Ada yang hadir—tidak lagi bersautan seperti dulu, tidak saling mendesak, tidak berebut ruang. Kali ini, mereka hanya ada. Berdampingan.

Aku di sini.” 

Suara itu tidak keras. Tegas, seperti sesuatu yang selama ini berdiri di depan—dan kini hanya memilih untuk tetap tinggal.

Embun menarik napas pelan.

“Aku tahu,” jawabnya lirih.

Hening kembali turun, namun hening itu tidak lagi kosong. Ada rasa lain yanhg ikut tinggal—lebih hangat, lebih longgar.

Ia tidak bisa langung mengutarakan isi hatinya. Tidak ada yang memaksa.

Kamu tidak harus baik-baik saja,” sesuatu berbisik lembut, hampir seperti pelukan yang tidak terlihat.

Embun menelan pelan.

Dan di antara semua itu—ada yang kecil, ringan, nyaris seperti tawa yang di tahan.

Tidak apa-apa, Embun.”  

#  

Embun memutuskan pulang—ke rumah itu.

Sesampainya di depan gerbang rumah. Siang itu, udara desa kian terasa panas. Bukan hanya karena terik matahari yang menempel di kulitnya, tapi juga karena ada sesuatu yang memburu di dalam dirinya, lebih gelisah.

Rumah itu masih berdiri seperti yang ia ingat—tenang, seolah tidak pernah menyimpan kisah apa pun. Halaman yang sama. Dinding yang sama. Udara yang terasa semakin akrab.

Lihat selengkapnya