Hujan turun terlalu deras untuk malam yang seharusnya dipenuhi persiapan pernikahan.
Air menyapu kaca depan, membuat lampu kendaraan di jalan berubah menjadi garis-garis panjang yang bergetar. Wiper bergerak secepat mungkin, tetapi pandangan Rasyad tetap hanya beberapa meter ke depan.
“Pelan sedikit,” kata Alea dari kursi penumpang.
“Aku sudah pelan.”
“Kamu selalu bilang begitu kalau panik.”
“Aku tidak panik.”
Alea menoleh kepadanya. Meski wajahnya pucat karena lelah, senyumnya masih muncul. Senyum kecil yang membuat bantahan Rasyad terasa sia-sia.
“Alis kamu hampir bertemu.”
Rasyad mengangkat satu tangan, menyentuh dahinya sendiri. “Memangnya kelihatan?”
“Dari Bandung juga kelihatan.”
Rasyad mendengus. Alea tertawa pelan, lalu kembali melihat beberapa lembar daftar yang terlipat di pangkuannya.
Dua hari lagi mereka menikah.
Mereka baru saja pulang dari rumah pengelola gedung karena Alea bersikeras memeriksa susunan meja untuk ketiga kalinya. Menurut Rasyad, posisi meja tidak mungkin berubah sendiri malam begini. Menurut Alea, gedung pernikahan bisa saja mengacaukan semuanya kalau ditinggal tanpa diawasi.
“Katering sudah lunas?” tanya Alea.
“Sudah.”
“Bohong.”
“Belum sepenuhnya.”
Alea menghela napas panjang. “Besok pagi.”
“Besok siang.”
“Pagi.”
“Menikah denganmu rasanya seperti punya kepala bagian keuangan.”
“Ya sudah. Untung ada aku yang ngurus.”
Rasyad tersenyum tanpa sadar.
Ia menoleh sebentar. Alea sedang mencoret sesuatu pada daftar, rambutnya jatuh menutupi sebagian wajah. Gaun sederhana berwarna biru muda yang dikenakannya tampak terlalu tipis untuk malam sedingin itu.
Rasyad baru hendak mengatakan sesuatu ketika cahaya putih menyambar dari kanan.
Semuanya terjadi terlalu cepat.
Klakson.
Lampu.
Suara Alea memanggil namanya.
Rasyad membanting kemudi.
Ban kehilangan pijakan pada aspal yang tergenang.
Mobil berputar.
Bunyi logam menghantam sesuatu begitu keras sampai kepalanya terasa penuh.
Lalu gelap.
Entah berapa detik berlalu sebelum Rasyad kembali mendengar suara hujan.
Radio dan mesin sama-sama mati. Yang tersisa hanya suara hujan di atas bodi mobil dan tetesan air di dekat kakinya.
Rasyad membuka mata.
Dadanya sesak. Telinganya berdenging. Kepalanya miring, tertahan sabuk pengaman.
“Alea?”
Tidak ada jawaban.
Ia mencoba bergerak. Rasa sakit menyambar bahu kirinya, tetapi ia memaksakan tangan mencari ponsel.
“Alea.”
Suara Rasyad pecah.
Alea masih duduk di sampingnya. Kepalanya miring ke arah jendela yang retak. Rambutnya menutupi wajah. Ada darah di pelipisnya, mengalir tipis sampai ke rahang.
“Alea, lihat aku.”
Kelopak mata Alea bergerak.
Baru saat itu Rasyad sadar ia menahan napas.