Bunga Dari Pernikahan Yang Tidak Pernah Terjadi

A.A.Pusung
Chapter #2

BAB 1 — Lelaki dengan Kotak Putih

Pada pukul sembilan lewat tiga belas menit, Raline Wicaksani sedang memutuskan nasib dua puluh tangkai anyelir yang mulai layu.

Sebagian masih dapat diselamatkan. Kelopak luarnya memang kecokelatan, tetapi batangnya belum lembek. Setelah direndam air dingin dan dipangkas miring, bunga-bunga itu masih cukup cantik untuk menghiasi meja ruang tunggu rumah sakit.

Enam tangkai lainnya tidak punya harapan sebanyak itu.

Raline memisahkannya ke dalam ember kecil di bawah meja kerja. Kelopaknya akan dikeringkan, sedangkan batang dan daun masuk ke tempat kompos. Di Bunga Kedua, hampir tidak ada yang langsung dibuang hanya karena sudah tidak cocok dipajang dalam vas.

Lonceng pintu berbunyi.

Raline belum sempat mengangkat kepala ketika seorang lelaki muda masuk sambil berjalan mundur. Kamera kecil terpasang pada penyangga di tangannya, mengarah ke papan nama toko.

“Bunga Kedua,” gumamnya kepada kamera. “Tempat bunga-bunga mendapat kesempatan...”

“Mas.”

Lelaki itu berhenti.

Raline meletakkan gunting pangkas. “Kalau mau merekam, izin dulu.”

“Oh.”

Kamera langsung diturunkan.

Lelaki itu memandang sekeliling, seolah baru menyadari toko bunga bukan ruang publik yang bisa dimasuki sambil mengambil gambar. Rambutnya berantakan meski pagi belum terlalu siang. Tas kamera tergantung di bahu kanan, sedangkan saku kemejanya menggembung oleh dua baterai cadangan.

“Maaf,” katanya. “Saya kira Mas Rasyad sudah bilang.”

“Belum ada yang bilang Anda datang bawa kamera.”

“Oh. Berarti dia belum bilang.”

“Itu yang baru saya katakan.”

Lelaki itu mengangguk cepat. “Benar juga.”

Pintu kembali terbuka sebelum ia sempat memperkenalkan diri.

Seorang lelaki lain masuk membawa kotak putih selebar kedua lengannya. Karena ukurannya, ia harus mendorong pintu menggunakan punggung. Ujung kotak sempat tersangkut pada gagang, membuat lelaki berkamera buru-buru membantu.

“Pelan, Vin,” katanya. “Isinya rapuh.”

Hanya empat kata sederhana.

Tangan Raline yang sedang meraih kain lap berhenti di udara.

Suara itu terasa akrab, dan justru itu yang membuatnya tidak nyaman. Bukan seperti suara teman lama atau pelanggan yang sering datang. Suara itu menyentuh sesuatu di kepalanya, sesuatu yang selama ini ia berusaha tutup rapat.

Raline akhirnya menoleh ke arahnya.

Usianya mungkin sekitar tiga puluh tahun. Tubuhnya tinggi, tetapi bahunya sedikit turun seperti orang yang terlalu lama bekerja di depan komputer. Kemeja abu-abunya digulung sampai siku. Ada bekas luka tipis di dekat pergelangan tangan kiri.

Raline tidak mengenal wajah itu.

Suaranya membuat tengkuk Raline dingin.

“Maaf.” Lelaki itu meletakkan kotak putih di atas meja panjang dekat pintu. “Saya Rasyad Atmawira. Kita sempat bertukar surel.”

Raline memaksa pikirannya kembali ke toko.

Beberapa hari sebelumnya, seseorang dengan nama R. Atmawira memang mengirim permintaan untuk melihat arsip donasi lama. Ia tidak menjelaskan banyak, hanya menulis bahwa bunga dari sebuah acara yang batal pernah dititipkan melalui pengelola gedung.

Raline tidak menghubungkan nama itu dengan siapa pun.

“Saya Raline.” Ia mengusap kedua tangannya pada celemek. “Saya pikir Anda datang sendiri.”

Rasyad menoleh kepada lelaki di sampingnya. “Ini Davin.”

Davin mengangkat tangan. “Asisten kamera. Kadang penyunting. Kadang sopir. Tergantung siapa yang sedang tidak masuk.”

“Kamera tetap dimatikan,” kata Raline.

“Sudah.”

Raline melirik lampu merah kecil yang masih menyala.

Davin mengikuti arah pandangannya, lalu tersentak. “Ini indikator baterai.”

Raline tidak mengatakan apa-apa.

Davin memeriksanya lagi. “Bukan. Ini memang masih merekam.”

Ia buru-buru menekan tombol. Lampu itu mati.

Rasyad mengembuskan napas. “Baru hari pertama, sudah hampir diusir.”

“Belum. Saya masih mempertimbangkannya.”

Davin memeluk kamera ke dada, mungkin agar benda itu tidak menimbulkan masalah lain.

Rasyad tidak terlihat tersinggung. Perhatiannya justru jatuh pada meja kerja Raline, terutama anyelir yang sedang dipisahkan.

“Yang di ember itu akan dibuang?” tanyanya.

“Tidak semuanya.”

“Kelihatannya sudah mati.”

“Bunga tidak mati hanya karena tidak bisa dijual.”

Davin menoleh kepada Rasyad. “Tadi itu terekam, tidak?”

Raline memandangnya.

“Tidak usah dijawab,” ujar Davin cepat.

Sudut bibir Rasyad bergerak sedikit, tetapi senyumnya tidak benar-benar muncul.

Perhatian Raline beralih kepada kotak putih. Penutupnya bersih, tetapi bagian bawahnya menguning dimakan usia. Salah satu sudut diperkuat selotip bening yang sudah berubah kusam.

“Anda membawa apa?”

Rasyad menyentuh permukaan kotak dengan ujung jari. Gerakannya pelan, seolah takut merusak kotak itu.

“Sisa bunga.”

“Dari acara yang Anda tulis di surel?”

“Iya.”

Lihat selengkapnya