Blurb
SENANDUNG PUJANGGA ABADI
Fardan Fauzan percaya bahwa sebuah taman harus dibangun dengan perhitungan: ruang yang tertata, garis yang sempurna, dan keindahan yang berada dalam kendali manusia. Sebagai seorang arsitek, ia terbiasa merancang kehidupan sebagaimana ia merancang bangunan—terukur, kokoh, dan tanpa celah.
Namun, pertemuannya dengan Ghalia Tarifa mengubah cara pandangnya tentang kehidupan.
Ghalia memandang taman bukan sekadar kumpulan bunga, pepohonan, dan ruang yang indah. Baginya, taman adalah tempat manusia bertemu dengan dirinya sendiri, tempat kenangan tumbuh, dan tempat cinta menemukan akar.
Pertemuan mereka bermula di tengah senja yang diguyur gerimis, aroma melati yang menguar dari Griya Puspa Arum, serta secangkir teh hangat yang disuguhkan dengan senyum sederhana. Perbedaan pandangan yang semula melahirkan perdebatan perlahan berubah menjadi percakapan panjang tentang cinta, kehidupan, pengorbanan, dan waktu.
Di antara taman yang terus bertumbuh dan perjalanan hidup yang tak selalu mudah, Fardan dan Ghalia belajar bahwa cinta bukanlah sesuatu yang dapat dirancang seperti bangunan. Ia tumbuh perlahan, membutuhkan kesabaran, kejujuran, dan keberanian untuk membiarkannya hidup.
Hingga bertahun-tahun kemudian, ketika usia telah membawa keriput pada tangan dan memutihkan rambut mereka, sebuah taman tetap berbunga dan generasi baru tumbuh di dalamnya.