Bunga di Taman jiwa

Amrullah Ibrahim
Chapter #1

Taman Tanpa Kelopak

## I. Kilau Kristal di Ketinggian Tiga Puluh Dua

*23:45 WIB — Grand Ballroom Lantai 32 Menara Syarif Megah Persada, Jakarta Pusat*

✍️

Lampu sorot berkekuatan empat ribu kelvin menghunjam tepat ke puncak kepalaku, menyilaukan pandangan hingga wajah-wajah di barisan terdepan hanya tampak sebagai siluet buram berjas wol dan gaun sutra. Di udara yang dibekukan penyejuk sentral ruangan, bau sampanye mahal, parfum tuberosa, dan uap katering bintang lima berbaur menjadi aroma kemenangan yang terlalu manis, hampir menyesakkan.

“Pemenang *Architect of the Year* di bawah usia tiga puluh lima tahun... Fardan Fauzan, dengan mahakarya Menara Prisma Cakrawala!”

Gemuruh tepuk tangan meledak seketika. Suara itu melompat dari dinding-dinding akustik peredam suara, memantul di panel kayu jati daur ulang yang kurancang sendiri dengan perhitungan pantulan desibel presisi tiga tahun silam. Ratusan telapak tangan bertepuk untukku. Kurator senior, konglomerat properti, menteri pembina infrastruktur, dan rekan-rekan arsitek seangkatanku berdiri serempak, memberi *standing ovation* yang telah menjadi dambaan setiap mahasiswa teknik sejak semester pertama.

Aku melangkah maju. Sepatu pantofel kulit Oxford-ku mengetuk panggung pualam hitam dengan ketukan yang teratur, tanpa goyah. Tangan kananku menyambut trofi kristal berbentuk obelisk terpuntir. Bobotnya padat, dingin, dan bersudut tajam—persis seperti filosofi desain yang kuagungkan selama sewindu terakhir: bahwa ruang hidup manusia tidak boleh dikotori oleh sentimentalitas yang rapuh. Ruang adalah matematika; garis, beban aksial, tegangan geser, dan cahaya yang dijinakkan.

“Terima kasih,” ucapku di depan corong mikrofon emas. Suaraku terdengar begitu stabil di pelantang suara, basah oleh kepiawaian retorika yang terlatih dalam puluhan sidang tender. “Prisma Cakrawala adalah bukti bahwa Jakarta tidak membutuhkan ornamen cengeng masa lalu. Yang dibutuhkan kota ini adalah kejujuran material: beton bertulang yang tegar, baja tahan gempa, dan kaca monolitik yang memantulkan kembali kekacauan kota tanpa ikut terseret di dalamnya.”

Tawa sopan dan tepuk tangan kembali bergulir. Kamera-kamera wartawan memuntahkan kilatan putih bertubi-tubi. Dari sudut mataku, kulihat Syarifudin Megah, taipan pemilik menara ini, mengangguk puas dengan senyum kalkulatif. Di matanya, aku bukan sekadar arsitek; aku adalah mesin pencetak koefisien lantai bangunan yang berhasil melipatgandakan valuasi portofolio perusahaannya hingga triliunan rupiah.

Namun, saat bibirku terus melafalkan basa-basi ucapan syukur kepada dewan juri, ada kehampaan aneh yang merayap di bawah lidahku. Rasanya seperti menelan segenggam pasir halus. Kemenangan ini terasa tuntas, sempurna, steril—dan sama sekali tak berdarah. Tak ada debar. Tak ada kehangatan yang menjalar ke rongga dada. Tepukan tangan ratusan orang terhormat itu terdengar jauh sekali, seperti suara hujan lebat yang tumpah di luar jendela kedap suara: riuh, namun tak setetes pun sanggup menyentuh kulitku.

----------------------------------------------------

## II. Labirin Kaca dan Hujan Dini Hari

*00:40 WIB — Lobi Menara Syarif & Jalan Jenderal Sudirman Menuju Bundaran HI*

✍️

Aku meloloskan diri dari sesi minum koktail di *lounge* VIP dengan alasan migrain mendadak. Kutinggalkan para sosialita yang hendak menitipkan kartu nama dan para pengembang muda yang mendambakan koneksi. Trofi kristal seberat tiga kilogram itu kini teronggok di dalam kantong beludru hitam, tersandang di bahu kiriku bagai batu nisan yang terpaksa kubawa pulang.

Pintu lift Otis berdesing pelan, mengatup rapat memisahkan diriku dari keriuhan lantai tiga puluh dua. Di dalam kotak berkasur baja tahan karat ini, aku hanya berteman dengan bayanganku sendiri. Angka lantai di layar digital merosot cepat: 30, 24, 18, 10, 4, G. Tekanan udara membuat telingaku berdenging pelan. Saat pintu membuka di lantai dasar, aroma hujan basah menyergap hidungku, menampar wajahku keluar dari sangkar pendingin buatan.

Jakarta pada pukul satu dini hari adalah kuburan beton yang basah. Gerimis tipis sisa badai malam tadi masih menggantung di udara, membuat aspal Sudirman berkilat seperti punggung paus raksasa yang terluka. Lampu-lampu jalan memantulkan warna jingga tembaga yang muram di atas genangan air.

Aku menolak tawaran sopir kantor dan memilih mengemudikan sendiri sedan listrik hitamku. Mesinnya meluncur nyaris tanpa suara. Menara-menara pencakar langit di kiri dan kanan jalan berdiri tegak bak benteng-benteng raksasa yang angkuh, jendela-jendela kantornya telah padam menyisakan kerangka gelap yang mengintimidasi langit. Separuh dari fasad gedung-gedung itu dirancang oleh biroku, *Fauzan & Associates*.

Di perempatan lampu merah Semanggi yang lengang, wiper mobil berayun malas ke kiri dan ke kanan, menghapus jejak bulir air di kaca depan. Di papan reklame digital raksasa setinggi dua puluh meter, sebuah iklan asuransi keluarga memajang potret pasangan suami-istri yang tertawa merangkul anak balita mereka di beranda rumah berhalaman rumput hijau. Senyum mereka begitu lebar, memancarkan kehangatan domestik yang banal.

Aku menatap billboard itu selama empat puluh detik lampu merah menyala. Ada rasa asing yang menusuk ulu hatiku. Kapan terakhir kali aku tertawa lepas tanpa memperhitungkan citra publik? Kapan terakhir kali sebuah tangan menyentuh lenganku bukan untuk memberi selamat atas kontrak bernilai miliaran, melainkan murni karena ingin memastikan apakah aku sudah makan malam? Sepuluh tahun? Atau mungkin aku memang tak pernah mengizinkan hal semacam itu terjadi sejak kepergian ibuku di kamar kos sempit di pinggiran Rawamangun dahulu?

----------------------------------------------------

## III. Monokrom yang Membekukan

Lihat selengkapnya