Bagian I. Kabut Fajar dan Kaca yang Berkeringat
✍️
Fajar belum genap menyempurnakan terbitnya ketika aku memutar anak kunci besi tempa yang sudah sedikit berkarat di selot pintu utama Griya Puspa Arum. Suara derit pelat logam tua itu bagai salam pembuka yang selalu kukenal sejak kanak-kanak; bunyi yang mengabarkan bahwa malam telah meloloskan diri dan kehidupan kembali menuntut tanggung jawab dari sepasang tanganku. Begitu daun pintu jati bersalut seng itu terkuak ke dalam, gelombang udara hangat berkelembapan tinggi seketika menyergap wajahku—aroma purba tanah humus hitam yang basah disiram air sumur semalaman, berpadu rapat dengan uap lumut, getah dedaunan, dan wangi manis yang begitu pekat hingga terasa mengendap di langit-langit lidah.
Kupicingkan mata menatap kubah kaca berketinggian delapan meter di atasku. Kaca-kaca persegi berbingkai besi Belanda itu sedang berkeringat lebat. Ratusan butir embun berkumpul di permukaan kaca bagian dalam, lalu meluncur perlahan menyusuri rusuk-rusuk rangka tempa sebelum akhirnya menetes ritmis ke lantai semen merah: tik, tik, tik. Di bagian tengah ruangan bundar itu, air mancur tembaga berukir angsa kembar tak pernah berhenti melantunkan gemerciknya. Air pegunungan yang jernih memuncrat lembut dari paruh tembaga yang telah kehijauan oleh patina alami, jatuh memerciki kolam kecil tempat daun-daun teratai mini terapung tenang.
Kakek buyutku, Raden Mas Danurdoro Tarifa, membangun konservatorium ini hampir seabad lampau di lereng cagar hijau pinggiran kota. Lelaki itu dulu menolak tawaran jabatan di biro perkebunan kolonial hanya demi mengumpulkan potongan-potongan surga nusantara yang mulai terancam oleh babat hutan perkebunan karet. Di pilar kayu jati yang menopang kubah utama, masih terpahat sebaris kalimat berhuruf Jawa dan Latin kuno yang menjadi kiblat hidup keluarga kami: 'Cinta kebutuhan manusia, siapa saja memerlukannya.'
Dulu, saat usiaku baru sepuluh tahun, aku sering mengira petuah itu berbicara tentang kisah roman picisan seperti dalam tembang-tembang macapat atau novel terjemahan yang kubaca di perpustakaan ayah. Namun semakin dewasa jemariku berkubang dengan pupuk kandang, serbuk sari, dan batang-batang semai yang rapuh, semakin kupahami kebenaran telanjang dari petuah tersebut. Manusia membutuhkan cinta bukan semata agar dicintai balik oleh manusia lain, melainkan sebagai kebutuhan primer jiwa untuk tetap waras—sebuah dorongan kudus untuk merawat sesuatu di luar ego dirinya sendiri. Merawat sebutir biji hingga pecah menjadi kecambah, menyeka debu dari urat daun, dan menanti kuncup merekah di tengah kepungan dunia yang semakin bising dan kering.
----------------------------------------------------
Bagian II. Liturgi Merawat Puspa Nusantara
✍️
Kulepaskan jaket wol tebalku dan menyampirkannya pada sandaran kursi rotan di dekat meja kerja. Mengambil celemek kanvas usang berisi gunting pangkas kuningan, kuas bulu halus, dan botol semprot tembaga, aku memulai liturgi pagiku. Di Griya Puspa Arum, setiap tanaman memiliki perangai dan takdirnya sendiri. Mereka bukan sekadar komoditas dalam polybag yang bisa dinilai dengan rupiah per tangkai, melainkan riwayat hidup nusantara yang bernapas.
Langkah kakiku membawaku ke lorong sayap timur, tempat petak bertingkat tanaman Melati Gambir dipelihara. Tanaman ini adalah mahkota wewangian griya kami. Berbeda dengan melati pasar yang dipetik kuncupnya sebelum mekar demi ronce pengantin kilat, melati gambir pusaka di sini dibiarkan membuka kelopak putih susunya secara alami di bawah lindungan kaca fajar. Kelopaknya tipis berlapis sembilan, merona sedikit gading di pangkal sari. Aku mendekatkan hidungku ke salah satu kuntum yang baru membuka setengah lingkaran. Wanginya meledak lembut di rongga dadaku—manis pekat bagai madu hutan yang baru diperas dari sarang lebah sialang, namun membawa kesegaran embun yang menentramkan denyut jantung.
Dengan kuas bulu tupai, kuseka butir-butir debu halus dan kutu putih mikroskopis yang mencoba bersarang di ketiak daunnya. Ujung jariku menyentuh permukaan kelopak yang sejuk dan basah. Setitik embun bergulir ke ujung telunjukku, meninggalkan aroma minyak atsiri murni yang akan menempel di kulitku hingga petang nanti. 'Selamat pagi, jelita,' bisikku pelan. Tanaman tak punya telinga badani, tapi aku percaya getaran suara yang tulus sanggup mengalirkan energi seluler ke dalam klorofil mereka.
Tepat di sebelah petak melati, berbaris rumpun Mawar Pusaka Kanjeng dalam pot-pot gerabah terakota buatan Kasongan tempo doeloe. Mawar ini bukan mawar impor tanpa aroma yang kelopaknya kaku seperti lilin pabrikan. Batangnya liat dipenuhi duri-duri tajam melengkung, namun bunganya bermahkota beludru merah tua kehitaman dengan wangi yang sarat rempah—seperti aroma cengkeh, kayu manis, dan dupa cendana yang dipadatkan dalam mahkota kelopak. Salah satu rantingnya terkulai keberatan kuncup. Aku mengambil tali rami halus, menyangganya dengan bilah bambu tipis, dan mengikatnya dengan simpul longgar agar sirkulasi getah kambiumnya tidak tercekik.
Berjalan lebih dalam ke zona kelembapan delapan puluh persen, pandanganku tertumbuk pada deretan pakis sarang burung yang menjadi inang bagi anggrek-anggrek spesies Kalimantan dan Sumatra. Di sana, menggantung sebuah pakis andam tempat bertenggernya Coelogyne pandurata—Anggrek Hitam Kersik Luway. Dua kuntumnya sedang mekar sempurna; lidah bunganya hitam legam sepekat malam tanpa bintang, kontras memukau dengan tajuk mahkotanya yang hijau limau transparan. Di sebelahnya menjuntai daun silindris Paraphalaenopsis laycockii, anggrek tikus liar yang kuselamatkan dari sisa kebakaran hutan gambir tiga tahun lalu. Menyaksikan daun-daun kurus itu kini menumbuhkan akar-akar udara baru berwarna perak kehijauan adalah bentuk keajaiban fajar yang tak pernah gagal membuat mataku berkaca-kaca.
---------------------------------------------------