01. Aroma Hitam di Ketinggian Kedap Suara
✍️
Di lantai empat puluh dua, kota di bawah sana tak lebih dari serakan kunang-kunang mati yang tergenang aspal basah. Dari balik dinding kaca ganda kedap suara setebal empat sentimeter, deru hujan deras Ibu Kota yang sanggup merubuhkan baliho baja tak ubahnya pantomim bisu—gerak tanpa suara, riuh yang dilucuti kekuatannya sebelum sempat menyentuh marmer Italia di bawah sepatuku.
Ruang rapat direksi Syarif Megah Persada selalu berbau dua hal: pendingin udara yang terlalu dingin hingga mengikis kelembapan kulit, dan aroma espreso pekat yang diseduh dari biji sangrai gelap mesin La Marzocco di pojok ruangan. Bau kopi itu bukan aroma pagi yang membangkitkan gairah, melainkan kepulan pahit yang menusuk pangkal hidung, sepekat jelaga knalpot, pekat seperti racun yang disajikan dalam cangkir porselen putih berlis emas murni.
"Duduk, Fardan. Kau berdiri seperti mandor proyek yang baru saja ketahuan mencuri sak semen,"
Suara itu tidak keras. Ghafar Syarif tidak pernah merasa perlu meninggikan oktaf suaranya untuk membuat ruangan bergetar. Pamanku itu duduk menyandar di kursi kulit anak sapi hitam berkaki krom, jas abu-abu arang bermotif pinstripe Savile Row membungkus tubuhnya yang ramping namun liat di usia lima puluh delapan. Di kelingking kanannya, sebentuk cincin emas mengikat zamrud Kolombia sebesar buah zaitun—batu hijau tua yang dingin, menyerap cahaya temaram ruangan tanpa pernah memantulkannya kembali.
Aku menarik kursi di hadapannya. Permukaan meja rapat terbuat dari obsidian gelap tempered glass sepanjang enam meter yang begitu licin dan bening, hingga bayangan wajahku di atasnya tampak seperti mayat yang tenggelam di danau beku. Kerah kemeja kaku yang dibelikan sekretarisnya untukku dua tahun lalu tiba-tiba terasa mencekik jakun.
"Paman memanggilku selarut ini?" tanyaku seraya merapatkan berkas rancangan di pangkuan.
Ghafar tidak langsung menjawab. Ia mengangkat cangkir espreso dengan dua jari, menyesapnya perlahan tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dariku. Matanya abu-abu pudar, tipe mata yang terbiasa melihat manusia bukan sebagai kumpulan darah dan cita-cita, melainkan sebagai angka-angka yang harus segera diamortisasi sebelum tutup tahun buku.
"Ada yang dicinta giat bekerja, entah apa entah siapa," gumamnya pelan, mengutip sebuah petuah usang dengan intonasi mengejek yang halus. "Kakekmu dulu sering mengulang-ulang kalimat itu sambil menyiram tanaman kerdil di halaman belakang. Dia pikir cinta pada dedaunan bisa membayar tunggakan listrik. Menurutmu, Fardan... apa yang sebenarnya dicintai orang-orang yang membanting tulang di gedung ini setiap hari?"
---------------------------------------------------
02. Ketukan Emas dan Metronom Vonis
✍️
Tik. Tik. Tik.
Ujung pena Montblanc Meisterstück bersepuh emas murni delapan belas karat di tangan Ghafar mengetuk permukaan meja kaca. Bunyinya teratur, tajam, dan memantul di dinding panel kayu eboni yang dilapisi peredam akustik. Ketukan itu bukan sekadar gerakan gelisah; itu adalah metronom kekuasaan. Sebuah pengingat ritmis bahwa setiap detik napasku di ruangan ini berjalan di atas kemurahan hatinya.
"Orang-orang bekerja karena ingin bertahan hidup, Paman," jawabku hati-hati. Suaraku terdengar terlalu serak di ruangan yang begitu steril.
Ghafar tertawa kecil. Tawa tanpa udara yang berhenti begitu saja di tenggorokan. Pena emasnya berhenti mengetuk, bertengger tepat di tengah meja kaca, sejajar dengan dasiku.
"Jawaban seorang pecundang berijazah seni," cibirnya tenang. "Orang-orang bekerja karena mereka mencintai rasa aman. Dan rasa aman di republik ini tidak dibeli dengan puisi ruang terbuka hijau atau bangku taman berbahan kayu jati daur ulang. Rasa aman dibeli dengan beton bertulang, dengan sertifikat hak guna bangunan yang terkunci di lemari besi balai kota, dan dengan angka di neraca laba rugi yang membuat para deputi menteri mengangguk sebelum kita sempat menyodorkan proposal."
Ia mencondongkan tubuhnya ke depan. Bau aroma tembakau cerutu mahal bercampur aftershave cedarwood menguar dari kerah mantelnya, menyergap indra penciumanku. "Malam ini, Pemerintah Provinsi resmi menutup pendaftaran Sayembara Desain Terpadu Poros Timur. Nilai kontrak perencanaannya saja mencapai sembilan puluh miliar. Nilai total konstruksinya? Empat koma delapan triliun rupiah. Nama sayembaranya... 'Zamrud Raya'. Dan aku sudah memasukkan namamu sebagai Arsitek Utama Konsorsium Syarif Megah Persada."
Jantungku berdegup kencang seperti palu tiang pancang. "Paman... sayembara itu membutuhkan kualifikasi arsitek madya dengan pengalaman proyek kota sepuluh tahun. Aku baru pulang dari Delft tiga tahun lalu. Portofolioku di biro hanya taman botani komunal dan restorasi koridor sungai di bantaran barat."