### Bagian I: Alambik Tembaga dan Pekatnya Mawar Seratus Persen
*Dengung uap bertekanan, getaran buret kaca, dan kartu nama di balik saku jas laboratorium.*
✍️
Dengung mesin distilasi uap berbahan tembaga dan baja tahan karat itu bekerja seperti detak jantung monster yang terperangkap di sudut barat laboratorium. Suaranya rendah, konstan, dan merambat naik melalui lantai papan ulin tua yang sudah puluhan tahun dipoles dengan minyak biji rami, menggetarkan sol sepatu karet yang kukenakan hingga ke tulang keringku. Setiap kali katup uap primer melepaskan tekanan berlebih pada skala satu koma dua bar, desis tajam menyembur keluar—suara serupa tarikan napas panjang seseorang yang sedang menahan amarah yang teramat dingin.
Di rak gantung setinggi dadaku, enam tabung Erlenmeyer Duran berkapasitas lima ratus mililiter bergetar halus mengikuti getaran frekuensi sirkulasi pendingin kondensor Liebig. Bunyi kaca borosilikat yang saling bersentuhan itu menghasilkan denting tipis yang rapuh—kliting, kliting, kliting—ritmis seperti lonceng peringatan bahaya yang enggan berhenti. Bunyi itu biasanya menenangkanku; bunyi itu adalah simfoni kepastian matematis bahwa uap mawar sedang dikondensasi menjadi tetes-tetes hidrosol dan minyak murni. Namun malam ini, denting kaca itu terasa seperti jarum-jarum halus yang menusuk gendang telingaku satu per satu.
Laboratorium ekstraksi atsiri Sayap Barat ini dipenuhi udara yang begitu pekat oleh aroma minyak mawar konsentrat seratus persen. Orang-orang kota yang datang ke paviliun depan sering kali membayangkan wangi mawar sebagai aroma lembut yang melenakan, seperti bedak wangi bayi atau semprotan parfum murahan di etalase toko serba ada. Mereka tidak pernah tahu bagaimana wujud mawar ketika ia diremukkan oleh uap panas bersuhu seratus lima derajat Celcius tanpa setetes pun zat pengencer propilen glikol. Baunya tajam, berat, bernada manis madu yang telah mengalami fermentasi gelap, bercampur aroma getah hijau terpanggang dan lilin aromatik alami yang begitu pekat hingga mampu membakar selaput lendir hidung bila dihirup terlalu dekat. Aroma ini terasa seperti rasa pahit di pangkal lidahku—pahit, murni, dan tak kenal ampun.
Kutarik napas panjang melalui masker katun berlapis karbon aktif yang tergantung di leherku, membiarkan bau pekat itu mengikat kesadaranku pada kenyataan yang keras. Tangan kananku merogoh saku jas laboratorium putih yang telah ternoda getah mawar di bagian kelim bawahnya. Di dalam saku itu, jari-jariku menyentuh sebuah benda persegi yang kaku, dingin, dan sama sekali tidak pantas berada di tanah ini: selembar kartu nama berbahan kertas katun tebal empat ratus gsm dengan tepi bersepuh emas redup yang dipotong presisi menggunakan mesin modern.
Benda itu terasa seperti bara api yang membakar ujung jariku. Bahkan tanpa mengeluarkannya lagi di bawah sorot lampu meja timbang analitik, setiap huruf timbul yang tercetak di atas permukaannya telah terpatri di rongga mataku sejak senja tadi, ketika aku menemukannya terselip di celah kayu jati meja kasir paviliun depan—tertinggal di samping stoples kaca berisi sampel kuncup mawar kering yang pagi harinya dirangkai dengan penuh cinta oleh kakakku, Ghalia Tarifa.
---------------------------------------------------
### Bagian II: Nama Asing di Balik Kasir Kayu Jati
*Cetak timbul emas, memori pembongkaran lereng teh, dan senyuman pria berjas abu-abu arang.*
✍️
Kukeluarkan kartu itu dan meletakkannya tepat di bawah sorot lampu halogen meja timbang analitik. Di atas marmer putih yang selalu kubersihkan dengan etanol tujuh puluh persen setiap pergantian giliran kerja, kartu persegi panjang itu tampak mencolok seperti noda tinta di atas kain kafan.
FARDAN FAUZAN, S.Ars., IAI. Huruf-huruf itu dicetak timbul dengan tinta abu-abu gelap bertekstur arang. Dan tepat di bawah namanya, tertera jabatan yang membuat seluruh darah di kepalaku berdesir panas: Lead Principal Architect & Head of Spatial Acquisition — Konsorsium Ghafar Syarif. Di pojok kanan atas kartu, tercetak logo heksagonal bertumpuk tiga berkilau keemasan. Logo yang sama persis dengan yang kulihat terpampang di baliho-baliho seng raksasa di jalan lintas provinsi lereng selatan, di mana bukit teh berkabut yang dulu menjadi habitat burung jalak hijau kini telah berubah menjadi kubangan tanah merah berparit semen, diratakan oleh belasan ekskavator untuk proyek 'Kawasan Agrowisata Terpadu Mahardika'.
Pria itu. Seluruh potongan gambar dari peristiwa sore tadi berputar kembali di benakku seperti gulungan film lama yang diputar terlalu cepat. Pukul empat sore tadi, sebuah sedan hitam beroda tinggi berhenti di ujung jalan setapak berbatu di luar gerbang utama Griya Puspa Arum. Pria yang turun dari pintu kemudi bukanlah sopir bayaran berwajah kaku, melainkan sosok pria jangkung berpostur tegap dengan bahu bidang, mengenakan blazer santai berwarna abu-abu arang berbahan wol ringan yang jatuhnya teramat rapi tanpa kusut sedikit pun. Di balik jasnya, kemeja putih katun tanpa dasi terpasang longgar di bagian kerah, menciptakan kesan seorang profesional metropolitan yang sedang berlibur santai mencari udara segar pegunungan.
Aku sempat mengamatinya dari balik kerai bambu jendela laboratorium Sayap Barat ketika ia melangkah memasuki beranda paviliun. Langkah kakinya tenang, teratur, tidak terburu-buru seperti orang yang sedang tersesat. Dan ketika Ghalia menyapanya dari balik meja kasir kayu jati—dengan senyuman ramah khas kakakku yang selalu menganggap setiap orang asing yang datang sebagai tamu kiriman Tuhan—pria itu membalasnya dengan bungkukan hormat yang terlampau sopan. Suaranya berat, renyah, dan mengalun dengan irama yang begitu tenang, memuji keindahan pilar kayu ulin kuno pendopo kita yang konon dibangun pada zaman kakek buyut.
Ia memesan secangkir teh melati panas dengan campuran madu liar, lalu duduk di kursi rotan paling tepi yang menghadap langsung ke hamparan kebun mawar tua di lereng barat. Selama hampir dua jam penuh, Ghalia melayaninya dengan obrolan yang kian akrab. Kulihat dari kejauhan bagaimana kakakku tertawa kecil, pipinya merona hangat oleh udara dingin sore hari, matanya berbinar-binar ketika pria itu menanyakan varietas mawar kuno apa saja yang masih kami lestarikan di Griya Puspa Arum. Pria itu mendengarkan setiap patah kata Ghalia dengan perhatian penuh, seolah-olah dongeng tentang mawar Damaskus dan mawar pagar liar adalah hal paling mempesona yang pernah didengarnya sepanjang hidupnya.
Dan sekarang, kartu nama ini tertinggal di atas meja. Tertinggal sengaja atau tidak sengaja, itu bukan soal. Fakta bahwa seorang kepala divisi akuisisi spasial dari korporasi pembantai tanah milik Ghafar Syarif telah duduk di beranda rumah kami, meminum teh kami, dan membuat kakak sulungku tersenyum lebar dengan mata berbinar-binar... itu adalah mimpi buruk paling nyata yang pernah mengetuk pintu Griya Puspa Arum.
----------------------------------------------------
### Bagian III: Langkah di Koridor Sayap Barat
*Dua saudari dari dua kutub berbeda: buret analitik dan keranjang kelopak basah.*
✍️
Bunyi derit lantai kayu di koridor luar Sayap Barat menyadarkanku dari lamunan gelap itu. Suara langkah itu lambat dan berirama ringan, disusul gesekan halus kain katun pada dinding kayu. Itu Ghalia. Hanya Ghalia di rumah ini yang melangkah dengan kehati-hatian seperti itu, seolah-olah ia selalu takut mengagetkan semut atau laba-laba yang mungkin sedang merayap di celah-celah papan lantai.
Pintu berpanel kaca buram bertuliskan 'Laboratorium Ekstraksi Atsiri — Khusus Pengelola' terdorong membuka dengan desah pelan pada engsel kuningannya yang selalu kulapisi pelumas minyak parafin setiap awal bulan. Sosok Ghalia muncul di ambang pintu, membawa serta embusan angin malam pegunungan yang dingin dan aroma mawar mentah yang segar.
Ia mendekap sebuah keranjang anyaman bambu berukuran besar di kedua lengannya. Di dalam keranjang itu, ratusan kuntum mawar Damaskus berwarna merah muda keunguan menumpuk dalam keadaan separuh mekar—kuntum-kuntum yang sengaja dipetik saat peralihan senja menuju malam, ketika kelenjar minyak di dasar mahkota bunganya belum menguap oleh sengatan matahari siang. Gaun terusan katun warna gading yang dikenakannya berbalut apron kanvas tebal, penuh bercak cokelat kemerahan dari getah tangkai yang mengering di ujung saku depannya. Rambut hitam bergelombangnya diikat longgar ke belakang dengan seutas pita kain kasa, menyisakan beberapa helai yang menempel di pelipisnya yang berkeringat dingin.
"Astaga, Nashi... kamu belum mematikan boiler jam segini?" Suara Ghalia mengalun lembut di antara dengung kompresor, begitu jernih dan sarat rasa bersalah yang tak perlu. "Aku membawakan sisa panenan petak empat. Mang Ujang bilang embun malam ini akan turun terlalu tebal, jadi daripada kelopaknya membusuk sebelum fajar, aku memetiknya lebih awal. Kamu tidak perlu mengerjakannya sendirian malam ini, Dik. Biar aku bantu menimbangnya di timbangan gantung."
Ia meletakkan keranjang bambu itu di atas meja kayu penerimaan bahan baku di dekat pintu. Aroma mawar mentah dari keranjang itu langsung bertubrukan dengan aroma minyak mawar konsentrat seratus persen yang melayang di sekeliling ketel distilasi—pertemuan antara kepolosan alam yang rapuh dan konsentrasi kimiawi yang memabukkan.
Kutatap kakakku lekat-lekat dari balik kacamata pelindung laboratoriumku. Wajah Ghalia tampak lelah, namun ada seberkas cahaya aneh di matanya yang belum pernah kulihat selama berbulan-bulan sejak krisis keuangan menimpa griya kami. Senyum samar masih menggantung di sudut bibirnya yang tipis. Senyum seorang wanita yang baru saja mengalami hari yang indah, yang merasa bahwa beban berat di pundaknya mungkin telah menemukan secercah harapan.
Hatiku teremas kuat. Aku mengenalnya lebih baik daripada siapa pun di dunia ini. Ghalia adalah tipe orang yang bila melihat burung elang menukik tajam dari langit, ia akan mengira burung pemangsa itu sedang menari untuk menghibur bunga-bunga di padang, bukan berniat mencengkeram anak ayam yang bersembunyi di balik semak. Dan kepolosan itulah yang membuatku selalu terjaga sepanjang malam, berjaga-jaga agar dunia luar yang kejam ini tidak melumatnya hidup-hidup.
----------------------------------------------------