Bunga di Taman jiwa

Amrullah Ibrahim
Chapter #9

Giat Bekerja Demi Sebuah Nama

## Bagian I: Altar dari Kaca dan Selulosa Hangat

Sudut Pandang: Fardan Fauzan | Waktu: 02.18 Dini Hari

Lokasi: Studio Perancangan Lantai 14, Menara Mahameru


Dengungan tabung lampu neon di atas kepalaku bergetar dengan frekuensi yang konstan dan menyebalkan—sebuah dengung monofonik lima puluh hertz yang selama tiga puluh enam jam terakhir menjadi satu-satunya ritme yang mengatur nafasku. Udara di lantai empat belas Menara Mahameru ini berbau seperti laboratorium yang kehabisan oksigen: percampuran antara ozon mesin pendingin sentral, bau asam dari kemeja katun yang telah dua hari tak berganti, dan aroma khas selulosa kertas kalkir seratus dua puluh gram yang baru saja meluncur keluar dari drum silinder mesin plotter. Kertas itu hangat, nyaris terasa seperti kulit manusia yang demam saat telapak tanganku menyapu permukaan bidang gambar satu banding lima ratus.

Di ujung meja perjamuan desain sepanjang delapan meter, Danu terkulai dengan dahi bersandar tepat di tepi keyboard workstation miliknya. Tangannya masih mencengkeram tetikus optik seolah benda plastik itu adalah sauh terakhir yang menahannya agar tidak tenggelam ke dalam jurang pingsan. Di sudut lain, Laras duduk bersila di karpet abu-abu dengan semangkuk mi instan yang telah dingin dan mengembang, jemarinya yang belepotan bubuk pensil dua-B dengan gemetar merekatkan lembar akrilik transparan setebal tiga milimeter pada maket podium komersial. Riko, juru hitung struktur kami yang termuda, matanya merah padam seperti kaca spion tertimpa lampu rem truk tronton, berkali-kali menyeka sudut bibirnya yang mengering.

"Dua hari lagi, Danu. Hanya empat puluh delapan jam sebelum amplop penawaran teknis ditutup di meja panitia lelang," suaraku membelah dengungan pendingin ruangan, serak dan tajam seperti kikir besi yang bergesekan dengan kawat baja. "Jika kita tidur barang tiga jam saja malam ini, modul kisi-kisi penahan panas di sisi barat akan meleset dari perhitungan efisiensi energi. Dewan juri sayembara tidak akan pernah mengingat nama kantor yang terlambat sepuluh menit memasukkan berkas. Kota ini tidak menunggu arsitek yang mengantuk."

Danu hanya mengerang pelan tanpa mengangkat kepalanya. Ada getaran pasrah yang menyedihkan dalam suaranya saat ia menggumamkan konfirmasi perbaikan layer tiga dimensi. Aku tahu mereka membenciku saat ini. Aku tahu di balik kelopak mata mereka yang perih terpapar radiasi layar monitor, mereka mengutuk ambisiku yang tak kenal belas kasihan. Namun di kepalaku, tidak ada ruang untuk rasa kasihan. Kawasan distrik bisnis terpadu ini—tiga puluh hektar lahan bekas pergudangan kumuh di jantung segitiga emas metropolitan—adalah pertaruhan eksistensial. Menara podium setinggi enam puluh lantai dengan kanopi biomimikri ini harus memiliki namaku di sudut prasasti lobi utamanya. Bukan nama biro konsultan asing, bukan nama senior-seniorku yang pongah di asosiasi, melainkan Fardan Fauzan.

Aku mengangkat cangkir keramik hitam bergambar logo almamater yang telah sumbing di bibirnya. Ini adalah cangkir kopi instan ketiga dalam kurun waktu enam jam terakhir. Cairan hitam di dalamnya sudah mendingin, meninggalkan lapisan minyak pekat di permukaan dan endapan butiran gula tebu yang menolak larut di dasar cangkir. Ketika cairan pahit itu menyentuh pangkal lidahku, rasa asam yang tajam langsung menusuk dinding lambungku yang kosong melompong. Lambungku memilin perih, mengirimkan sinyal bahaya yang langsung kutepis dengan satu tegukan kasar lagi. Rasa pahit yang membakar kerongkongan ini adalah harga murah yang bersedia kubayar untuk mencegah kelopak mataku mengatup.

Dari dinding kaca tanpa bingkai yang membentang dari lantai hingga plafon, aku menatap ke bawah. Di seberang jalan protokol, kerangka baja proyek distrik bisnis tampak seperti monster purba yang terdampar di antara samudra lampu merkuri kota. Menara derek raksasa berwarna jingga membeku di ketinggian seratus meter, bersiluet muram di bawah awan mendung Jakarta yang tak kunjung mencurahkan hujan. Sesekali kilatan las karbit memercik di lantai dua puluh konstruksi tetangga, menyala biru kehijauan selama beberapa detik sebelum kembali ditelan kepekatan malam. Di sanalah duniaku berada: dunia yang diciptakan dari baja tulangan, semen cepat kering, dan ambisi yang digerus waktu. Kehidupan di luar garis batas proyek itu terasa seperti dongeng yang kabur—sesuatu yang hanya pantas dijalani oleh orang-orang yang puas menjadi penonton dalam sejarah kota ini.

> "Jika kita tidur barang tiga jam saja, garis lengkung fasad ini akan kehilangan ketegangannya. Kota ini tidak menunggu arsitek yang mengantuk."

---------------------------------------------------


## Bagian II: Rantang Logam dan Pintu Kaca yang Terbuka

Sudut Pandang: Rafan Nashif | Waktu: 02.45 Dini Hari

Lokasi: Koridor Lift & Pintu Masuk Konsorsium Mahameru


Lift servis yang membawaku naik ke lantai empat belas bergetar kasar, mengeluarkan decit kabel baja tua yang beradu dengan katrol penyeimbang. Bau debu semen basah dan residu bahan bakar genset dari area bawah tanah proyek masih menempel di jaket kanvasku, terbawa dari jalanan becek di luar gerbang seng pembatas proyek. Di tangan kananku, rantang susun logam berpelitur abu-abu terasa hangat membalut kulit telapak tangan—ibu sengaja membungkusnya dengan serbet katun tebal agar uap gulai ayam kampung dan nasi putih bertabur bawang merah goreng tidak keburu lenyap disergap angin dini hari.

Ketika pintu kaca ganda kantor sayembara itu bergeser membuka dengan desis pelan, hawa dingin yang menusuk langsung menampar wajahku. Pendingin ruangan di ruangan ini diatur pada temperatur delapan belas derajat celcius—sebuah kegilaan yang sengaja dirancang agar tidak ada manusia yang merasa cukup nyaman untuk tertidur. Dan pemandangan yang menyambutku di balik kaca itu bukan sebuah studio kreatif tempat seni dilahirkan, melainkan ruang bedah darurat pasca-bencana.

Tiga orang muda berusia awal dua puluhan terkapar di berbagai sudut meja seperti prajurit infanteri yang kehabisan amunisi di parit pertahanan. Gadis berambut pendek yang kukenal bernama Laras itu bahkan tak bergerak ketika ujung kuas pembersih debunya terjatuh ke lantai karpet. Dan di tengah-tengah kekacauan gulungan kalkir dan potongan maket stirofoam, berdirilah Fardan.

Kupandangi sosok sahabatku itu selama beberapa detik tanpa bersuara. Punggungnya bungkuk menatap layar monitor ganda berukuran tiga puluh dua inci. Kemeja putihnya yang biasanya disetrika licin kini kusut berantakan, kedua lengan baju digulung serampangan hingga siku, memperlihatkan urat-urat kebiruan di pergelangan tangannya yang kurus. Namun yang paling mengerikan adalah wajahnya: cekungan di bawah matanya menghitam legam seperti lebam bekas pukulan, tulang pipinya menonjol tajam, dan di pelipis kirinya berkedut sebuah urat halus setiap kali jemarinya mengklik tombol keyboard secara obsesif.

"Danu, Laras, Riko," suaraku memecah keheningan yang menyesakkan itu. Ketiganya tersentak kaget, menegakkan tubuh dengan mata membeliak linglung, mengira panitia lelang telah datang menyita maket mereka sebelum waktunya. "Matikan komputer kalian sekarang. Pindah ke sofa belakang atau tidur di karpet musala. Bawa kotak roti dan susu kedelai di meja depan. Sekarang."

"Rafan? Siapa yang mengizinkanmu masuk ke studio saat sesi sprint terkunci begini?" Fardan berbalik dengan gerakan patah-patah, suaranya meletupkan kemarahan yang dipicu oleh lonjakan adrenalin dan kelelahan saraf. Tangannya masih memegang pena rapido nol koma dua milimeter yang bergetar halus. "Kami sedang merender simulasi beban angin untuk sayap selatan. Kami tidak butuh gangguan! Danu, kembali ke layar kerjamu!"

Namun Danu dan kawan-kawannya tidak mendengarkan Fardan. Mereka menatapku seolah aku adalah malaikat pembebas yang turun ke barak tahanan kerja paksa. Tanpa sepatah kata pun, Laras meletakkan lem akriliknya, menundukkan kepala meminta maaf samar ke arah Fardan, lalu tertatih-tatih melangkah menuju ruang istirahat di belakang diikuti oleh Danu dan Riko. Pintu partisi kayu tertutup, meninggalkan aku dan Fardan berhadapan dalam sangkar kaca seluas dua ratus meter persegi itu.

Aku melangkah mendekati meja perjamuan desainnya, mendorong ke samping tumpukan katalog marmer Italia dan bundel lembar spesifikasi teknis setebal bantal yang dibiarkan berserak tanpa aturan. Kulepaskan ikatan serbet katun, lalu kuletakkan rantang logam tiga susun itu tepat di depan bidang gambar utamanya. Udara dingin studio langsung dikalahkan oleh semerbak rempah rumahan: ketumbar, lengkuas, dan uap nasi pulen yang mengepul lembut ke udara.

"Makan, Fardan," kataku datar. Nada suaraku tidak memuat amarah, melainkan kepedihan yang teramat sangat melihat seorang manusia meremukkan dirinya sendiri demi tumpukan kertas. "Sebelum pembuluh darah di matamu pecah dan mereka harus membopongmu keluar dari gedung ini dengan tandu ambulans."

Fardan menatap rantang itu dengan ekspresi jijik yang dibuat-buat, seolah kehadiran sepiring nasi hangat di mejanya adalah penghinaan terhadap estetika monolitik yang sedang ia susun. "Kau tidak mengerti skala proyek ini, Rafan! Ini sayembara distrik bisnis terbesar dalam satu dekade. Nilai investasinya dua koma empat triliun rupiah! Konsorsium internasional menurunkan tim terbaik mereka dari Tokyo dan Singapura. Kalau aku tidak menyempurnakan kalkulasi fasad ini sebelum fajar, kantorku tamat! Namaku tamat!"

Lihat selengkapnya