--- I. Gerbang Jam Tiga Dini Hari: Menanggalkan Zirah Baja ---
✍️
Selama tigapuluh empat tahun usiaku bergulir, duniaku dibangun dari kepastian sudut siku dan dinginnya marmer Italia. Kemejaku selalu disetrika uap berpresisi tinggi tanpa sehelai benang pun yang melenceng. Jam tanganku berdetak serempak bursa saham global, sementara langkah kakiku teredam karpet tebal menara Sudirman. Di sana, hidup adalah hitungan angka: marjin laba, depresiasi, dan senyum terukur laksana lencana diplomatik. Namun dini hari ini, tepat ketika jarum dasbor sedan mewahkan merayap ke angka dua lewat empat puluh lima, seluruh benteng itu kupreteli di jok belakang.
Kutanggalkan jas wol Savile Row yang mengunci rusukku bertahun-tahun. Dasi sutra biru kulepas ke atas koper kulit. Sebagai gantinya, kukenakan kemeja katun mori putih gading longgar yang menyisakan ruang lega di dada untuk bernapas tanpa kepura-puraan. Celana bahan kaku berganti katun kelabu yang kusingsingkan, dan pantofel kutinggalkan demi sepatu kanvas karet sederhana.
"Gimana, Tuan Direktur Utama? Rasanya jadi manusia biasa lagi malam ini?" suara Rafan Nashif menyapa dari pintu mobil yang berderit terbuka. Laki-laki muda berambut ikal itu memamerkan seringai lebarnya yang khas, lengkap dengan rompi kanvas berkantong banyak tempat menyelipkan kaca pembesar, gunting pangkas tanaman, dan notes tahan air. Matanya yang selalu kekurangan tidur namun meluap oleh gairah botani mengedip jenaka ke arahku.
Di samping Rafan, Ghalia Tarifa melangkah keluar dari kabin dengan keanggunan yang meruntuhkan kekakuan pikiranku. Ghalia memakai sweter rajut hijau lumut pudar, celana jins yang memutih di lutut, dan rambut berombak yang diikat ekor kuda sederhana dengan karet kain hitam. Di bahunya tersampir tas kanvas usang berisi buku herbarium mini. Saat matanya yang cokelat jernih menatapku—tatapan yang mengingatkanku pada telaga pegunungan yang belum tersentuh jelaga kota—ia tersenyum tipis hangat.
"Kemeja itu cocok untukmu, Fardan," tutur Ghalia pelan di tengah deru angin dini hari Jakarta Barat. "Jas mewahmu memang membuat orang segan, tapi kemeja ini membuatmu siap menyentuh bumi. Bunga pusaka di Rawa Belong tak peduli seberapa tebal rekeningmu. Mereka hanya menyapa tangan yang tahu cara merawat keindahan."
Aku menelan ludah, menepis getar aneh di tenggorokanku. "Aku hanya tak ingin merusak jok mobil dengan lumpur pasar," dalihku kaku.
"Alasan klasik kaum elit!" Rafan menyambar seraya memukul kap mobil dengan tawa berderai. "Ayo melangkah, Bos! Truk Cipanas baru membongkar muatan. Kalau telat, krisan pusaka dan sedap malam lereng Salak disapu bersih tengkulak dekorasi pernikahan Menteng!"
Kami melangkah meninggalkan trotoar Jalan Sulaiman. Udara dingin dua puluh satu derajat menyambut wajahku, membawa aroma pertama yang menyergap indra: semerbak ribuan kuntum bunga potong yang pekat dan memabukkan, berbaur uap aspal basah sisa gerimis petang serta desau mesin diesel pikap L300 yang mencari parkir.
---------------------------------------------------
--- II. Labirin Kuntum dan Rembesan Es: Hutan Flora di Bawah Lampu Pijar ---
✍️
Pintu gerbang pasar bunga grosir Rawa Belong jam tiga dini hari adalah mulut gua magis tempat malam menampung pesona mekar bumi. Melintasi undakan semen pertama, duniaku digantikan simfoni kehidupan bergemuruh. Lantai semen basah kuyup oleh lelehan es dan getah daun terinjak. Di kiri-kanan, tumpukan bunga menjulang melampaui kepala, membentuk labirin flora di bawah temaram lampu pijar kuning enam puluh watt.
Di sana terhampar krisan kuning kencana, ungu lembayung, dan aster salju berbalut koran basah. Ribuan ikat sedap malam bersandar pada tiang kayu, memancarkan wangi malam tebal hingga lidahku mengecap minyak atsirinya. Kuli panggul berotot memanggul bal pelepah pisang sambil berseru serak, "Awas kaki, Bos! Es lewat! Mawar Sukabumi lewat!"
"Kres... srrrt! Kres... srrrt!"
Suara parutan es balok terdengar bersahut-sahutan. Di depan lapak berpapan kayu, seorang pria bertopi laken menggerakkan pasah kayu di atas balok es bening. Serpihan es batu putih beterbangan seperti salju tropis mini, diserok dan ditaburkan ke pangkal tangkai mawar lokal yang haus. Percikan butir es mendarat dingin di pipi dan pergelangan tanganku. Aku terkesiap mundur setengah langkah, terbiasa menjaga jarak higienis dalam ruangan berfilter HEPA.
Namun Ghalia melangkah maju menyongsong percikan itu. Ia memejamkan mata, menghirup udara dingin lembap dengan napas bebas, seolah pasar becek ini serambi surga. Rambut di pelipisnya basah oleh embun, dan saat menoleh kepadaku, matanya berbinar dengan kilau yang belum pernah kulihat pada perempuan mana pun di kalangan sosialitaku.
"Rasakan dinginnya, Fardan," bisiknya menunjuk serpihan es yang meleleh di kelopak mawar tabur merah tua. "Di pasar ini, es adalah napas kehidupan bagi bunga yang tercerabut dari gunung. Tanpa es ini, mereka layu terbakar hawa Jakarta sebelum fajar menyapa."
Aku terpaku menatap jemari Ghalia yang menyentuh kelopak mawar dengan kelembutan seorang ibu membelai ubun-ubun bayinya. Ada rasa hormat mendalam di setiap gerakannya—sikap yang bertolak belakang dengan caraku memandang komoditas bisnis selama ini, di mana barang hanyalah angka mati dalam neraca rugi-laba.
Di sebelah kami, Rafan berjongkok di samping keranjang bambu pedagang Sukabumi. "Mang Ade! Geulis pisan krisan ieu! Bibit Priangan murni kan? Masih ada wangi mint di kelopaknya! Jangan dimahalin atuh Mang, ini buat katalog pusaka nusantara!"
Si pedagang terkekeh renyah memperlihatkan gigi bernoda tembakau kretek. "Juragan Rafan bisa bae! Bawa dua puluh ikat! Buat Juragan kasep dipotong goceng per bal! Tapi bantuin angkat, tong cicing bae!"
Rafan menoleh padaku sambil menaikkan alis. "Woy Fardan! Sini bantu pegang tangkai induknya, kita pisahkan spesimen yang tangkainya belum memar!"
Hatiku berdesir. Selama hidupku, tak ada yang berani memerintah seorang Fardan Fauzan menggotong barang basah di tengah comberan. Namun saat kulihat Ghalia tersenyum geli menanti reaksiku, egoku runtuh. Aku melangkahi genangan air cokelat, lalu berlutut di semen lembap. Tanganku merengkuh seikat krisan ungu yang dingin. Getah batang krisan yang patah merembes ke telapak tanganku, meninggalkan aroma getir rumput basah yang asing namun terasa sangat nyata.
----------------------------------------------------
--- III. Perburuan Spesimen Pusaka: Melati Gambir dan Kenanga Jawa ---
✍️
Misi kami dini hari ini adalah menyusun bab kedua Katalog Tanaman Pusaka Nusantara—konservasi botani yang awalnya kusetujui demi citra CSR. Namun di bawah bimbingan Ghalia dan Rafan, laporan formalitas itu bermutasi menjadi pencarian jiwa. Kami mencari Melati Gambir murni (*Jasminum sambac*), Kenanga Jawa pohon tua (*Cananga odorata*), dan mawar tabur kampung yang kian langka terdesak serbuan mawar impor.
Kami menyusup ke koridor timur pasar, tempat pedagang bunga tabur ritual berkumpul. Di sini aromanya berubah mistis dan menghanyutkan. Tidak ada krisan Belanda anggun dalam vas porselen; yang ada bak seng selebar tampah dipenuhi gundukan kenanga kuning, rajangan pandan halus, dan ribuan kuncup melati putih seukuran mutiara.
"Lihat ini, Fardan," Ghalia memanggilku penuh kekaguman murni. Ia menunjuk keranjang bambu beralas daun pisang klutuk basah. Di dalamnya terbaring kuncup-kuncup melati membulat padat, berbeda dari melati komersial hotel berbintang.
"Ini Melati Telor dari kebun rakyat pinggiran Pesanggrahan," tutur Ghalia meletakkan sejumput kuncup putih di telapak tanganku. Kulit tangannya yang hangat bersentuhan sesaat dengan jemariku yang dingin, mengirimkan getaran halus yang membuat bulu kudukku meremang. "Kelopaknya bertumpuk rapat bagai telur burung gereja. Minyak atsirinya dua kali lipat lebih pekat daripada melati biasa. Jika dihirup sekarang, ia masih mengunci rahasia kesegarannya sampai udara pagi bersentuhan dengan kehangatan kulit manusia."
Aku mendekatkan kuncup-kuncup mungil itu ke hidungku. Seketika aroma lembut menusuk menyeruak—bukan wangi sintetis parfum beralkohol ratusan dolar dari butik Paris, melainkan aroma tanah basah, embun hutan, dan ketulusan doa leluhur. Ada kesahajaan agung di kuntum kecil itu.
"Kenapa bunga sepenting ini tak dibudidayakan masal di perkebunan modern?" tanyaku heran menatap penjual sepuh berdaster batik beralaskan sandal jepit tipis.