Bunga di Taman jiwa

Amrullah Ibrahim
Chapter #13

Tatapan Penuh Curiga

## Bagian I: Balistik di Atas Rumput Buatan

*Pukulan Presisi & Geometri Penaklukan*

✍️

Rumput di Royal Emerald ini tidak pernah diizinkan tumbuh sesuka hatinya. Setiap helai bilah hibridanya telah diprogram secara genetis di Zurich untuk tegak tepat empat milimeter, disiram air bertekanan terukur pada pukul empat subuh, dan dipotong dua kali sehari oleh mesin pemotong bertenaga laser yang tak kenal ampun. Hijau yang kaku. Hijau yang patuh. Hijau yang ditelanjangi dari keliaran alaminya agar bola seberat empat puluh lima gram dapat meluncur tanpa friksi liar. Bagiku, itulah satu-satunya definisi keindahan yang masuk akal: keteraturan yang dipaksakan oleh modal.

Aku membetulkan sarung tangan kulit domba putih di tangan kiriku. Kulit cabretta itu menempel ketat di punggung buku jemariku, seperti lapisan kulit kedua yang dingin. Di depanku, bola Callaway Chrome Soft bertengger di atas pasak eboni hitam. Matahari pagi pukul tujuh memantul menyilaukan dari kepala tongkat golf titanium Honma Beres lima bintang yang kubawa mengayun perlahan ke belakang. Logam paduan antariksa bersepuh emas itu membelah udara pagi dengan dengung desau yang tipis, serupa desis pisau bedah di ruang operasi.

Satu tarikan napas panjang. Aku mengisap cerutu Cohiba Behike yang terselip kokoh di sudut bibirku sebelum meletakkannya pada dudukan perak berukir lambang Syarif Corp di meja golf cart. Asap biru keabu-abuan mengepul pekat, membawa aroma tembakau Karibia hasil fermentasi ganda—campuran daun medio tiempo perkebunan Vuelta Abajo, kayu cedar tua, kulit samak, dan rempah pala kering. Aroma kemewahan yang hanya dipahami segelintir orang yang telah selesai dengan perkara lapar dan haus; orang-orang yang kini bernapas demi memelihara hegemoni kekuasaan.

Klip titanium berdenting nyaring saat kepala stik menghantam bola dengan kecepatan seratus sepuluh mil per jam. Suara benturan itu kering, padat, dan tuntas. Tanpa kompromi.

Bola melesat membentuk busur parabola putih sempurna, membelah kabut tipis di atas perbukitan buatan, sebelum mendarat dengan putaran balik lembut tepat tiga yard dari tiang bendera merah di lubang kesembilan. Sempurna. Tidak ada deviasi angin yang mampu membelokkan perhitungan balistik matang.

"Pukulan yang sangat mengesankan, Om Ghafar. Eagle yang sudah pasti terkunci." Suara di belakang punggungku itu datang tepat waktu, namun ritmenya sumbang. Ada kehati-hatian yang dibuat-buat, seperti seorang terpidana yang memuji keanggunan tali gantungan algojonya sebelum dijerat.

Aku tidak langsung berbalik. Sengaja kubiarkan keheningan menguasai lapangan selama sepuluh detik. Kubiarkan angin pagi mengusap peluh dingin di kening Fardan Fauzan, keponakanku yang kini berdiri kaku dengan pakaian golf Ralph Lauren yang tampak terlalu longgar untuk bahunya yang menyusut oleh beban rahasia. Aku mengulurkan tongkat titanium ke caddy yang sigap menerimanya dengan tundukan kepala empat puluh lima derajat, lalu kembali mengambil cerutuku.

Aku memutar tubuh perlahan, menatap pemuda tiga puluh dua tahun itu dari ujung topi hingga sepatu kulit putihnya yang tanpa noda. Putra adik kandungku yang telah tiada. Pemuda yang kuberi panggung sebesar langit kota ini, namun belakangan melangkah bagai pion catur yang tersesat.

"Bukan soal pukulannya, Fardan," ucapku datar, suaraku berat dan teratur tanpa perlu meninggikan oktaf. "Ini soal kendali atas ruang. Bila kau tahu pasti di mana bola akan jatuh sebelum kau mengayunkan lengan, dunia tak akan punya kesempatan mempermalukanmu. Lapangan ini patuh karena setiap inci konturnya telah kubeli dan kudesain. Sayangnya, belakangan ini, aku mencium bau ketidakteraturan di sekitarmu. Dan kau tahu persis betapa aku membenci rumput liar yang tumbuh di luar garis pembatas fairway."

Fardan menelan ludah. Jakunnya bergerak naik-turun kaku. "Semua pekerjaan lapangan berjalan sesuai jadwal, Om. Tim tata ruang baru saja memfinalisasi trase jalan arteri lingkar luar."

"Benarkah?" Aku tersenyum tipis, sebuah senyuman tanpa kehangatan yang membakar lebih perih daripada makian. "Mari kita periksa apakah ingatanmu sama tajamnya dengan laporan yang kuterima pagi ini."

---------------------------------------------------

## Bagian II: Berkas Intelijen di Tangan Antagonis

*Peta yang Tercemar & Lensa Pengintai*

✍️

Kami meluncur melintasi jalur aspal mulus menuju paviliun pribadi di sayap timur clubhouse. Angin buatan dari laju golf cart meniup ujung polo putihku, sementara Fardan duduk di sampingku dengan punggung yang menolak menyentuh sandaran kulit. Kedua tangannya bertaut di atas lutut, jari-jarinya saling meremas—kebiasaan kekanak-kanakan yang tak kunjung hilang sejak ayahnya meninggal dalam kebangkrutan sepuluh tahun lalu, saat aku memutuskan mengambil alih seluruh biaya pendidikannya di Harvard Graduate School of Design dan membawanya pulang sebagai putra mahkota arsitektur Syarif Corp.

Di atas meja bundar berlapis marmer Carrara kelabu di teras paviliun, sebuah map kulit buaya cokelat tua telah tergeletak rapi. Tidak ada tulisan apa pun di sampulnya. Hanya sebuah lambang timbul burung elang Syarif Corp yang dingin berwarna emas bakar. Di sampingnya, segelas single malt The Macallan 25 tahun sudah disiapkan oleh kepala pelayan klub yang tahu persis jadwal kedatanganku, lengkap dengan bola es kristal sempurna hasil pahatan tangan tanpa gelembung udara.

"Duduk, Fardan," perintahku santai seraya mendudukkan diri di kursi rotan impor bergaya kolonial modern.

Fardan menarik kursi di seberangku. Gerakannya tergesa, menimbulkan gesekan kaki kayu jati yang sumbang di atas lantai marmer. Matanya sekilas melirik ke arah map kulit itu, lalu buru-buru berpaling ke hamparan danau buatan di kejauhan. Keheningan di antara kami begitu pekat hingga suara gemercik air mancur aerator di tengah danau terdengar seperti desis peringatan.

"Kau kelihatan kurang tidur," ujarku seraya mengetukkan cerutu ke asbak kristal Baccarat, membiarkan serpihan abu kelabu pekat gugur perlahan membentuk tumpukan kerucut rapi. "Tiga minggu terakhir, kepala divisi perizinan mengeluh bahwa kau sulit dihubungi melalui sambungan terenkripsi kantor. Revisi masterplan zonasi komersial fase empat Zamrud Raya yang mestinya sudah kutandatangani Senin lalu tertahan di mejamu. Direktur operasional bilang kau meminta pengukuran ulang untuk sub-blok 17 Bukit Kencana. Benar begitu?"

"Hanya... beberapa penyesuaian kontur tanah, Om," suara Fardan terdengar serak di awal, sebelum ia berdeham kecil untuk menstabilkan resonansinya. "Struktur tanah di sektor barat Bukit Kencana memiliki kemiringan yang agak curam, dan ada beberapa aliran air resapan mikro yang perlu kita audit ulang agar fondasi seratus unit villa eselon satu dan menara apartemen terpadu tidak mengalami pergeseran subsidensi jangka panjang. Aku hanya berusaha melindungi investasi konsorsium dari risiko likuefaksi."

Aku memandangnya lama. Memandangi garis rahangnya yang mewarisi kelembutan ibunya—sebuah kelemahan struktural yang sejak dulu kutakutkan akan menggerogoti ketegasannya sebagai penerus dinasti. Perlahan, kuangkat gelas wiski, menyesap cairan amber pekat itu hingga rasa hangat berasap oak Eropa membakar pangkal lidahku.

Lihat selengkapnya