Bunga di Taman jiwa

Amrullah Ibrahim
Chapter #14

Formula Minyak Atsiri

--- ADEGAN 1: PRESISI DI BAWAH TABUNG PENDINGIN ---

Latar: Laboratorium Griya Atsiri, Lereng Gandasoli | Pukul 18.25 WIB — Senja temaram berembun

✍️

Bunyi ritmis tetesan kondensor Liebig adalah satu-satunya irama yang kuizinkan merajai ruangan ini. Di atas meja laboratorium berbahan kayu jati tua berlapis epoksi abu-abu, labu alas bulat berukuran dua liter mendidihkan rajangan daun sereh dapur—*Cymbopogon flexuosus*—yang kupanen sendiri saat fajar masih basah. Uap panas membumbung, terjebak di dalam lorong kaca spiral berpendingin air, sebelum menyerah dan mengembun menjadi dua lapisan cairan yang saling menolak: air aromatik di bawah, dan lapisan tipis minyak keemasan beraroma tajam menyeruak di atas.

Kupejamkan mata sejenak, menghirup sitral murni yang merayap ke rongga sinus. Wangi sereh ini bukan sekadar aroma penyegar ruangan murahan; ia adalah benteng pertahanan alami tanaman melawan jamur dan serangga. Di belakangnya, jejak minyak nilam (*Pogostemon cablin*) dari ekstraksi siang tadi masih melekat di ujung lengan jas labku—aroma tanah basah, pekat, berakar dalam, seperti tanah humik lereng Gandasoli yang telah menghidupi tiga generasi pembudidaya.

Namun, ketenangan itu seketika pecah saat pintu geser kayu labku berderak keras tanpa ketukan beradab.

"Permisi, Nona Saintis. Katanya laboratorium ini steril, tapi baunya lebih mirip dapur jamu keraton yang ketumpahan minyak kayu putih."

Aku bahkan tidak perlu menoleh untuk mengenali suara serak-basah yang menyebalkan itu. Rafan Nashif. Jurnalis investigasi harian *Suara Parahyangan* yang beberapa minggu terakhir berkeliaran di desa kami seperti anjing pelacak kelaparan.

Kusesuaikan letak kacamata berbingkai titanium tipis di pangkal hidungku, meletakkan mikropipet finnpipette ke rak akrilik dengan ketukan terukur, lalu memutar badan perlahan. "Pintu itu memiliki papan bertuliskan 'Dilarang Masuk Kecuali Petugas Berjas Lab'. Apakah kemampuan membaca abjad Latin Anda ikut tergerus bersama etika bertamu, Saudara Rafan?"

Pria itu berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan terbenam di saku jaket kanvas hijau lumut yang tampak sudah melewati terlalu banyak medan lumpur. Rambutnya yang sedikit ikal berantakan diterpa angin senja lereng, dan sepasang matanya yang cokelat gelap memandang sekeliling dengan rasa ingin tahu yang terlalu lancang. Tidak ada tanda-tanda penyesalan di wajahnya yang dihiasi cambang tipis tak tercukur dua hari.

"Etika bertamu saya simpan dulu di jok motor, Salma," sahutnya santai, melangkah masuk dua tindak tanpa memedulikan tatapan membunuhku. "Saya baru saja dari petak kebun Pak Darmo di batas timur. Dua petak tanaman nilamnya layu serentak dalam tempo empat puluh delapan jam. Daunnya mengering bukan karena karat jamur, melainkan hangus dari tepi helai—seperti disiram air aki encer. Dan Anda masih asyik bermain masak-masakan dengan tabung kaca di sini?"

Darahku berdesir naik ke pelipis. Tuduhan terselubung itu menusuk tepat di ulu hati. Griya Atsiri bukan sekadar unit riset; ini adalah jantung mata pencaharian warga lereng yang kupelihara dengan seluruh keringat dan gelar magister biokimiaku.

"Jaga mulut Anda, Rafan," suaraku merendah, dingin dan setajam pisau mikrotom. "Jika Anda mau meluangkan lima menit untuk membaca lembar berkala uji tanah yang saya tempel di papan pengumuman balai desa kemarin, Anda tidak akan melontarkan kebodohan ini. Saya sudah mengambil tiga belas sampel titik bor dari kedalaman tiga puluh sentimeter hingga satu meter di sepanjang garis kontur lereng timur."

"Dan apa kesimpulannya?" Rafan mendekat ke batas meja basah, bertumpu pada satu siku. Jaraknya kini cukup dekat hingga aku bisa mencium aroma tembakau dingin dan hujan yang menempel di jaketnya, kontras dengan harum sitral yang steril. "Laporan resmi yang Anda serahkan ke kantor kecamatan hanya menyebutkan 'penurunan daya hantar listrik dan kenaikan pH fluktuatif'. Istilah yang sangat aman, sangat diplomatis. Apakah laboratorium bergengsi ini mulai disubsidi oleh konsorsium properti Syarif Megah Persada agar tidak menggunakan kata 'limbah kimia korosif'?"

Plak. Aku menghempaskan map jepit berisi grafik kromatografi gas di atas meja tepat di depan hidungnya. Kertas kalkir di dalamnya bergetar.

"Saya seorang ilmuwan, bukan penulis tajuk rencana sensasional yang menjual kepanikan demi oplah koran sore!" desisku, menatap tepat ke manik matanya. "Menyebut 'limbah beracun' di hadapan birokrat tanpa sidik jari spektrum massa adalah tindakan bunuh diri ilmiah. Tanah Gandasoli memiliki kandungan andosol tinggi dengan kompleks humus yang mudah mengikat kation. Jika saya gegabah menuduh pelarut aromatik tanpa memisahkan fraksi organik alami nilam, pengacara Syarif Megah Persada akan menuntut kita atas pencemaran nama baik dalam tempo dua jam, menyita seluruh data laboratorium ini, dan membungkam warga selamanya!"

Rafan terdiam. Matanya berkedip sekali, lalu perlahan terarah ke lembar spektrum bergaris-garis puncak yang berserakan. Keliaran di wajahnya memudar, digantikan oleh kerutan dalam di dahi yang menandakan ia sedang mencerna penjelasanku.

"Anda... sudah menemukan senyawa pelarutnya?" tanyanya, suaranya kini kehilangan nada mencemooh, berubah menjadi nada seorang pemburu yang mencium jejak mangsa.

----------------------------------------------------

--- ADEGAN 2: STOIKIOMETRI & GENCATAN SENJATA LAPAR ---

Latar: Laboratorium Griya Atsiri | Pukul 19.10 WIB — Malam merayap turun

✍️

Perempuan ini berbahaya. Bukan karena ia memegang labu ukur pyrex berisi cairan asam pekat seolah-olah itu cangkir teh porselen, melainkan karena isi kepalanya bekerja seperti kalkulator balistik. Tepat, dingin, dan tidak menyisakan ruang bagi spekulasi murahan.

Aku memandangi Nashira Salma yang kini kembali memunggungi diriku, mencatat angka-angka desimal di buku log bersampul kain hitam dengan pulpen tinta gel. Posturnya tegak, bahunya yang ramping dibalut jas lab putih berkancing rapat hingga leher. Ada sehelai anak rambut yang lolos dari jepitannya, jatuh di dekat telinganya yang memerah karena marah. Aku tahu aku telah menyinggungnya dengan kata-kataku tadi. Namun di dunia investigasi lapangan, memprovokasi narasumber sering kali menjadi satu-satunya cara menguji apakah mereka sedang berbohong atau bertahan.

Dan Nashira Salma sama sekali tidak sedang berbohong. Ia sedang berjuang di garis depan yang berbeda.

"Lihat ini," kata Nashira tanpa menoleh, menunjuk layar monitor tabung yang menampilkan kurva kromatografi lapis gas-spektrometri massa (GC-MS). Aku melangkah mendekat, berdiri di sampingnya.

Ruangan ini berbau sangat khas—perpaduan antara minyak nilam yang pekat beraroma lumut basah dan kesegaran lemon dari minyak sereh dapur. Berada di dekat Nashira membuat hidungku yang biasa terpapar asap knalpot dan kopi saset merasa seperti disucikan secara paksa.

"Puncak di retensi menit ke-8.4 adalah patchoulol murni, penanda kualitas minyak nilam Gandasoli," jarinya yang lentik mengetuk layar kaca. Kuku-kukunya terpotong pendek dan bersih tanpa cat warna. "Lalu perhatikan puncak kembar abnormal di retensi menit ke-3.2 dan 4.1. Ini bukan turunan terpena nabati. Ini xylene teknis dan trichloroethylene. Pelarut industri berat yang biasa digunakan untuk mencuci alat berat dan melarutkan perekat epoksi fondasi beton bertulang."

Jantungku berdegup lebih kencang. "Pondasi proyek *resort and country club* milik Syarif Megah Persada di bukit utara." gumamku. "Mereka mencuci tangki mixer beton dan mesin pilling hidrolik di hulu parit resapan, lalu membiarkan cairannya meresap ke lapisan akuifer dangkal."

"Tepat," Nashira menatapku, dan untuk pertama kalinya kacamata titaniumnya tidak lagi tampak seperti perisai es. Sorot matanya menyala dengan kemarahan yang sama persis dengan yang kurasakan saat melihat tanaman nilam Pak Darmo layu. "Pelarut sintetis itu merusak lapisan kutikula akar nilam, membuatnya mati lemas karena tak mampu menyerap air tanah. Tapi konsentrasi yang terdeteksi di sumur warga masih di ambang batas deteksi konvensional. Laboratorium lingkungan hidup daerah akan meloloskannya sebagai 'kontaminasi organik lumrah'."

Lihat selengkapnya