Bunga di Taman jiwa

Amrullah Ibrahim
Chapter #15

Nyanyian Senja di Bawah Kenanga

BAGIAN I: BAYANG-BAYANG TEMBAGA DI SUDUT GRIYA

Latar Waktu: Pukul 17.20 — Cahaya tembaga menembus sela kanopi rimbun

✍️

Matahari sore di atas Griya perlahan condong ke barat, menumpahkan lelehan tembaga cair ke pucuk-pucuk atap sirap kayu ulin tua. Dari serambi samping yang berlantai terakota dingin, aku telah berdiri mengamati siluet itu selama seperempat jam terakhir. Di sudut halaman belakang—tepat di mana bayang-bayang pohon kenanga raksasa berusia seabad merentangkan kanopi liarnya bagai kubah pelindung purba—Fardan masih terpaku di bangku pualam panjang.

Pohon kenanga itu adalah saksi bisu empat generasi keluarga Griya. Ditanam oleh kakek buyut kami pada musim kemarau panjang seabad silam sebagai penanda harapan, batangnya kini bergelombang tebal, berbalut lumut kelabu kehijauan dengan kerak-kerak luka getah masa silam yang telah mengering mengeras bagai batu ambar. Setiap kali angin bukit berhembus turun menyusuri lembah, ratusan kelopak bunga kuning kehijauan yang meliuk lentik berguguran, menebarkan aroma pekat yang manis, berat, dan sedikit getir—wangi minyak atsiri purbakala yang selalu mengingatkan siapa pun pada keabadian yang bersahaja dan ketabahan bumi menyerap duka.

Namun pria di bawah naungannya sama sekali tidak tampak menikmati keteduhan dan kemegahan alam itu.

Fardan duduk dengan punggung condong ke depan. Bahunya yang bidang dan kokoh tampak kaku, seperti balok kayu jati yang dipancang paksa menahan runtuhan tebing yang sewaktu-waktu bisa runtuh. Di atas lututnya terbentang buku catatan bersampul kulit rusa yang pinggirannya telah melengkung koyak oleh gesekan ribuan kali jari tangan. Tangannya yang berurat kasar mencengkeram pena bambu berujung tembaga, menorehkan kalkulasi demi kalkulasi, denah tata ruang griya, dan angka-angka logistik panen dengan kecepatan yang menyerupai pelarian ketimbang ketelitian seorang akuntan.

Sejak fajar menyingsing sebelum kokok ayam pertama terdengar di ladang timur, Fardan belum sedetik pun meletakkan perkakasnya. Ia telah membedah saluran irigasi timur yang tersumbat endapan lahar dingin, memeriksa gudang penyimpanan gabah dari ancaman kumbang bubuk, mencatat persediaan bibit kedelai, dan memperbaiki pasak lumbung utama yang mulai renggang. Bagi seluruh penghuni dan pekerja Griya, Fardan Fauzan adalah lambang ketangguhan yang tiada tara—seorang pembangun yang tangannya mampu menghidupkan tanah tandus dan matanya tak pernah terpejam oleh kemalasan atau kelemahan raga.

Akan tetapi, aku mengenalnya lebih dalam dari sekadar decak kagum orang-orang kampung yang memujanya.

Aku tahu, ketangguhan yang ia pamerkan itu bukanlah sebuah kebanggaan yang murni; itu adalah zirah besi yang dipatri mati ke dagingnya sendiri untuk menutupi luka yang menganga busuk di dalam rongga dadanya. Setiap kali ia menyelesaikan sebuah proyek besar, alih-alih menghela napas lega dan merayakannya bersama yang lain, matanya akan segera menyapu cakrawala dengan gelisah, mencari ancaman baru yang bahkan belum berwujud. Seolah-olah jika ia berhenti bekerja barang semenit saja, langit di atas kepalanya akan runtuh seketika dan menimpa seluruh hidupnya menjadi abu tak bersisa.

Aku melangkah menuruni tiga anak tangga batu serambi yang dingin berlumut. Di kedua telapak tanganku, sebuah cangkir tembaga tempaan kuno berisi seduhan daun serai, jahe merah bakar, dan madu hutan masih mengepulkan uap tipis beraroma rempah yang menenteramkan saraf. Langkah kakiku sengaja tak kuperhalus; aku membiarkan sandal kayu cempakaku berderak pelan di atas hamparan kerikil kali yang basah oleh sisa siraman tanaman petang.

Aku tidak ingin mengejutkannya. Hewan liar yang pernah terluka parah di dalam rimba selalu mengira setiap ranting patah sebagai kedatangan pemburu berpanah racun. Dan Fardan, di balik kemeja tenun kelabunya yang bersahaja dan tubuhnya yang tegap, adalah jiwa yang telah terlalu lama berada dalam posisi siaga menghadapi sergapan kemalangan yang ia yakini akan datang sewaktu-waktu.

Ketika jarak kami tersisa lima langkah di bawah teduhan daun kenanga, Fardan tidak menoleh, tetapi pundaknya yang tegang tampak sedikit naik satu jengkal. Penanya berhenti di atas baris hitungan ketujuh belas. Ia mengenali langkahku. Ia selalu mengenalinya, sekalipun ia sering berpura-pura bahwa dunia di luar catatannya tidak pernah ada atau tidak pantas untuk disapa.

"Matahari sudah menyentuh batas bukit barat, Fardan," kataku lirih. Suaraku kubiarkan mengalir tenang dan rendah, serupa air pancuran bambu yang jatuh di atas kolam teratai malam. "Pekerjaan di Griya ini tidak akan pernah selesai jika kau berniat menghabiskannya dalam satu tarikan napas manusia fana. Griya ini telah berdiri sebelum kita lahir, dan akan tetap berdiri setelah kita menjadi debu."

Fardan mengembuskan napas panjang melalui hidungnya—napas yang berat, sarat dengan gesekan udara kering dan keletihan batin yang pekat. Ia baru mengangkat wajahnya saat aku meletakkan cangkir tembaga itu di permukaan bangku pualam di samping tumpukan perkamennya. Semburat jingga senja membelah parasnya: tulang pipinya yang tegas, rahangnya yang kokoh berbayang cambang tipis yang tak terurus, dan sepasang mata elang yang menyimpan kabut gelap yang tak pernah benar-benar sirna oleh tawa mana pun.

---------------------------------------------------

BAGIAN II: BEBAN YANG MENOLAK DILETAKKAN

Latar Waktu: Pukul 17.35 — Angin lembah bertiup membawa guguran kelopak kenanga

✍️

Aroma serai hangat dan wangi madu hutan menyeruak, memecah kepungan aroma kenanga tua yang sedari tadi menekan pelipisku dengan wangi minyaknya yang berat. Tetapi yang lebih menghunjam ke dasar dadaku bukanlah uap teh itu, melainkan kehadiran Ghalia.

Ia berdiri di samping bangku pualam dengan kebaya katun putih gading bertepi sulam benang cokelat tanah. Selendang tipis berwarna nila tersampir di pundaknya, berkibar perlahan dipermainkan desau angin senja yang mulai membawa hawa dingin dari lembah. Di matanya yang jernih dan teduh, selalu ada telaga hening yang sanggup menelanjangi segala kepura-puraanku. Aku membenci ketelanjangan itu sekaligus mendambakannya dengan rasa takut yang membuat sendi-sendiku menggigil.

"Masih ada tiga ratus patok pembagian air di petak barat yang belum cocok dengan peta pembagian musim lalu, Ghalia," jawabku, mencoba mempertahankan nada suaraku agar tetap datar, tegas, dan berwibawa—sebagaimana seorang pengelola utama Griya semestinya berbicara kepada orang-orangnya. "Jika musim tanam tiba minggu depan dan saluran tersumbat lumpur lahar, sepuluh keluarga penyewa di hilir tidak akan mendapatkan jatah air untuk persemaian bibit padi gogo mereka. Mereka akan gagal panen, dan kelaparan akan mengetuk pintu mereka."

"Dan saluran itu tidak akan mengering hanya karena kau beristirahat sejenak meneguk secangkir wedang hangat sebelum azan Magrib berkumandang," potong Ghalia lembut. Ia tidak membantah dengan amarah atau nada mengejek, melainkan dengan senyuman tipis yang terasa bagai sembilu mencabut duri berkarat yang menancap terlalu dalam di daging dadaku.

Ghalia tidak langsung mendesakku lebih jauh. Ia melangkah perlahan ke sisi pohon kenanga, menengadahkan wajahnya memandang rimbun kanopi yang mulai menggelap ditelan bayang-bayang petang. Selembar kelopak kenanga kuning melayang turun perlahan, berputar anggun di udara senja sebelum akhirnya mendarat tepat di atas catatan tintaku yang baru setengah kering. Tinta hitam merembes sedikit ke urat-urat kelopak yang tebal dan wangi itu.

Aku menatap kelopak itu tanpa bergerak. Mengapa aku tidak bisa berhenti? Pertanyaan itu berdentang di dalam kepalaku bagai genta tembaga raksasa di menara kuil tua. Otot leherku terasa seperti ditarik kawat kawat berduri, pinggangku ngilu luar biasa setelah berjam-jam membetulkan tanggul batu, dan kelopak mataku perih menahan debu seharian. Namun setiap kali aku mencoba menyandarkan punggung ke sandaran bangku atau menutup buku catatan ini, ada bisikan dingin yang mendesis tepat di belakang daun telingaku: *Jangan lengah, Fardan. Sedetik saja kau memejamkan mata, kau akan jatuh miskin dan terhina lagi seperti dulu. Jika kau lalai bekerja, mereka yang kau lindungi akan mati sia-sia di hadapanmu.*

Kututup pena bambuku dengan penutup kayunya. Bunyi 'klik' kecil yang dihasilkannya terdengar begitu nyaring di keheningan sudut griya yang mulai ditinggalkan para pekerja kebun. Suara jangkrik pertama mulai berderik teratur dari balik rumpun pandan di pojok pagar batu kali.

"Kau selalu memandangku seolah-olah aku ini seorang pesakitan gila yang sedang mencambuk diri sendiri tanpa alasan," ujarku, mengalihkan pandanganku ke cangkir tembaga yang diletakkannya. Kuambil cangkir itu; kehangatan logamnya merambat ke telapak tanganku yang kasar, pecah-pecah, dan penuh kapalan keras bekas memegang cangkul dan parang belasan tahun. "Padahal yang kulakukan hanyalah memastikan rumah ini tidak goyah saat badai tiba-tiba datang di tengah malam."

"Rumah ini tidak akan goyah oleh badai dari luar, Fardan," sahut Ghalia pelan. Ia menoleh padaku, matanya yang tenang berkilat memantulkan sisa cahaya cakrawala barat yang kian memerah lembayung. "Tetapi tiang penopangnya akan lapuk dan patah dari dalam jika ia terus-menerus dipaksa memikul beban tanpa pernah diizinkan bernapas dan menyerap kehangatan tanah. Kau bukan tiang batu tanpa rasa, Fardan. Kau manusia berdaging dan berdarah, yang punya batas keletihan dan berhak untuk merasa lelah."

Kata-kata itu menghantamku tepat di ulu hati, merobek lapisan ketenangan semu yang susah payah kurawat sejak pagi. Rasa pedih yang aneh menjalar dari dada ke pangkal tenggorokanku. Sudah berapa puluh tahun sejak terakhir kali seseorang mengingatkanku bahwa aku ini manusia? Sepanjang yang kuingat, orang-orang hanya menuntut hasil: apakah bendungan sudah selesai, apakah panen melimpah, apakah anggaran sudah seimbang, apakah keamanan sudah terjamin dari gangguan perampok bukit.

Dan aku dengan senang hati memenuhi semua tuntutan mustahil itu, siang malam tanpa tidur, karena di balik kerja yang membabi buta itulah aku menyembunyikan sebuah bangkai kenangan yang membusuk—luka bernanah yang tak pernah berani kusentuh dengan ujung jemariku sendiri.

---------------------------------------------------

Lihat selengkapnya