BAGIAN I: GAUNG KEMENANGAN DI ATAS KISI-KISI KACA
Sudut Pandang: Fardan Fauzan | Pukul 23.15 WIB — Atap Kaca Griya Konservatorium
✍️
Suara gemerincing seloki kristal, tepuk tangan para komisaris yayasan, dan dengung pujian para kurator di balai agung lantai dasar perlahan menyusut menjadi dengung sayup yang tak berdaya ketika pintu lift hidrolik berdenting di lantai paling pucuk. Aku melangkah keluar dengan napas yang masih tersengal, membawa kotak kayu beralas beludru hitam yang di dalamnya bersemayam maket berskala satu banding lima puluh. Maket itu—kombinasi rangka baja ringan lengkung, kaca akrilik tipis, dan lumut abadi yang dipasang dengan pinset bedah selama tujuh puluh dua jam tanpa jeda tidur—malam ini telah dinobatkan sebagai karya terunggul dalam Sayembara Konservatorium Nusantara.
Namun di balik kerah kemeja linenku yang terasa menjerat leher, tak ada setetes pun rasa bangga yang mampu memadamkan kegelisahan purba di rongga dadaku. Bagiku, piala perunggu berkilau dan cek bernilai miliaran rupiah yang tadi diserahkan di bawah kilatan lampu blitz hanyalah artefak artifisial. Aku membutuhkan udara. Aku membutuhkan ruang di mana garis gravitasi dan beban angin tidak dihitung dengan rumus angka belaka, melainkan dirasakan langsung oleh pori-pori kulit.
Teras atap konservatorium menyambutku dengan embusan angin malam lereng bukit yang menusuk jaket wol tipisku. Kubah kaca raksasa melengkung di atasku bagaikan tempurung kura-kura geometris dari masa depan, membagi langit malam Jawa Barat menjadi ratusan kisi-kisi segitiga presisi. Di balik setiap lembar kaca bening berlapis laminasi ganda itu, taburan bintang-bintang musim kemarau berkelap-kelip pucat, seolah menjadi saksi bisu atas kelelahan seorang pria yang sepanjang hidupnya hanya mengenal sudut siku-siku dan kalkulasi tegangan geser.
Kutaruh kotak kayu itu di atas meja kerja jati berpelitur gelap yang sengaja ditarik ke tepi teras kaca. Tepat di samping maket, sebuah lentera badai berbahan kuningan antik menyala dengan sumbu minyak jarak, menyebarkan temaram kuning madu yang lembut, melingkupi miniatur gedung dengan bayang-bayang dramatis. Cahaya itu memantul di kaca dinding, memperlihatkan pantulan diriku: rambut sedikit acak-acakan, lingkaran hitam di bawah kelopak mata, namun di kedua bola mataku ada binar yang belum pernah hadir selama tiga puluh dua tahun aku bernapas.
Binar itu bukan karena pengakuan dewan juri internasional. Binar itu ada karena langkah kaki pelan yang kini terdengar menaiki anak tangga spiral besi tempa di sudut teras. Bunyi tumit sepatunya teratur, halus, bagaikan tetes hujan pertama yang menyentuh dedaunan kering. Jantungku yang biasanya berdenyut kaku laksana jam dinding mekanis di ruang seminar, mendadak melompati ketukan ritmisnya.
Ghalia Tarifa telah tiba. Dan bersamanya, seluruh udara dingin yang mengepung kubah kaca ini seakan mendadak kehilangan taringnya.
----------------------------------------------------
BAGIAN II: EMBUN, MELATI, DAN NAPAS YANG MENGEPUL
Sudut Pandang: Ghalia Tarifa | Pukul 23.28 WIB — Tepi Kisi-kisi Angin Timur
✍️
Gaun sutra hijau sage yang kupakai terasa terlalu megah untuk tangga sempit penuh ulir besi ini, tetapi aku tak peduli jika ujung kelimnya harus tersangkut karat atau debu sisa gips. Sepanjang malam di bawah sana, ketika para donatur berebut menyalami Fardan dan memuji 'kejeniusan arsitektural Fauzan Associates', mataku tak pernah lepas dari gerak-gerik lelaki itu. Aku melihat bagaimana senyumnya hanya mengembang di permukaan bibir tanpa pernah menyentuh matanya. Aku tahu persis bagaimana jemarinya yang terbiasa memegang rapido dan pisau cutter bergetar tipis di saku celananya setiap kali seseorang menyebut karyanya sebagai 'monumen kemegahan kapital'.
Begitu Fardan menyelinap keluar lewat pintu belakang panggung di tengah riuh denting garpu perak, kakiku bergerak tanpa menunggu instruksi nalar. Aku mengambil sehelai selendang rajut kasmir dari kursi tamu, membiarkan wangi parfum bergamot yang kukenakan berbaur dengan aroma khas studio kami: lem uhu, serbuk kayu balsa, dan seduhan teh melati tubruk yang menjadi bahan bakar malam-malam panjang kami selama enam pekan terakhir.
Ketika kepalaku menyembul dari bordes tangga teratas, pemandangan itu menghentikan desah napasku sejenak. Fardan sedang berdiri membelakangiku, kedua telapak tangannya bertumpu di bibir railing balkon kaca, menatap hamparan lembah Bandung yang terhampar seperti permadani beludru hitam bertabur remah intan lampu kota. Bahunya yang tegap tampak sedikit turun oleh kelelahan yang selama ini ia kunci rapat-rapat.
Di atas meja di sisinya, lentera tembaga bergetar pelan disapu angin kisi ventilasi. Cahayanya menyiram miniatur konservatorium yang kami bangun berdua. Di sana, di sudut timur maket itu, bertengger sulur miniatur daun sirih gading dan pohon ki hujan mini yang kupilin dengan kawat tembaga nomor tiga puluh dua. Setiap lekuk dedaunan buatan itu adalah doa hening yang kubisikkan setiap kali Fardan tertidur telungkup di atas meja gambar pukul empat dini hari.
Di sekeliling teras kaca ini, tanaman melati putih—Jasminum sambac—yang sengaja ditanam merambat pada tiang-tiang penyangga baja hitam mulai mekar sempurna menyambut tengah malam. Udara pegunungan yang dingin meremas embun di permukaan kaca, menciptakan kabut tipis yang mengepul hangat setiap kali aku mengembuskan napas. Harum melati itu pekat, manis, dan begitu murni, merayap di antara kisi-kisi dan membelai tengkukku.
"Kau selalu tahu ke mana harus bersembunyi dari kebisingan dunia, Mas Fardan," ucapku pelan. Suaraku tidak lebih keras dari desau angin di celah panel kaca, namun aku melihat punggungnya seketika menegak, lalu perlahan menoleh ke arahku.
------------------------------------------------------