Bagian I: Bilah Kerai Bambu Wulung dan Firasat yang Berdenyut
✍️
Matahari pagi di sayap belakang griya ini tidak pernah terburu-buru masuk. Ia selalu menanti kerai bambu wulungku memberi izin, merayap perlahan melalui celah-celah anyaman yang telah menguning dimakan musim, lalu melukis garis-garis belang keemasan di atas ubin terakota yang dingin. Ubin-ubin ini sudah terpasang sejak kakek buyut Ghalia meminangku setengah abad silam; warnanya telah pudar menjadi kelabu kecokelatan, tetapi dingin yang dipancarkannya dari dalam perut bumi selalu setia menemaniku menua.
Pagi ini, persendian lutut dan pangkal ibu jariku terasa lebih ngilu dari biasanya. Udara kemarau yang merayap turun dari perbukitan kapur membawa hawa kering yang aneh—bukan sekadar terik yang menjanjikan jemuran kain cepat kering, melainkan sejenis kekeringan yang menghisap kelembapan sumsum tulang dan menyisakan kegelisahan sunyi. Dari botol kaca kecil bermulut sempit di atas meja samping tempat tidur, kutuang beberapa tetes minyak kayu putih ke telapak tanganku yang keriput. Wanginya yang hangat, tajam, dan menyengat segera meruap, membungkus bilik tidurku dengan aroma perlindungan yang telah puluhan tahun menjadi tamengku dari gigil subuh.
Kugosokkan kedua telapak tanganku hingga panas, lalu kuusapkan perlahan ke tengkuk dan pergelangan kakiku. Namun, rasa hangat itu tak kunjung sanggup menembus getaran aneh yang berdenyut di bawah tulang rusuk kiriku. Perempuan tua seumuranku tidak lagi mudah ditipu oleh firasat ragawi. Ketika sendi ngilu, kita tahu musim hujan akan tiba atau angin malam bertiup terlalu kencang. Tetapi ketika dada berdesir dingin tanpa ada angin yang menampar jendela, itu bukan urusan urat atau darah; itu adalah getaran batin yang dipicu oleh sesuatu yang tak kasat mata.
Di pangkuanku, untaian tasbih kayu cendana tua berisi sembilan puluh sembilan butir terbaring diam. Kayunya sudah begitu licin karena ribuan putaran zikir yang kupintal semenjak griya ini masih dipenuhi tawa anak-anakku hingga kini mereka terpencar ke kota-kota yang jauh, menyisakan aku dan cucu perempuanku, Ghalia Tarifa. Jemariku menggulirkan satu demi satu butir cendana itu secara otomatis, mencari ketenangan yang mendadak terasa sukar direngkuh.
Dari balik kerai bambu yang sedikit berderit disentak angin pagi, kudengar suara burung jalak suren di dahan rambutan tiba-tiba bungkam. Alam di pekarangan belakang ini seolah menahan napas. Musim kemarau kali ini telah memasuki bulan ketiga tanpa setetes pun air yang turun membasuh genting. Tanah pelataran mulai merekah menyerupai sisik ular raksasa, dan sumur timba tua di dekat rumpun pisang sudah mengeluarkan bau lumpur dasar yang pekat. Aku tahu, kemarau yang terlalu panjang selalu menuntut korban—jika bukan tanaman yang mengering, maka hati manusia yang layu oleh hawa nafsu yang tak terpuaskan.
Dan pagi ini, kekhawatiranku bukan tertuju pada sumur yang surut atau genting yang berdebu. Pikiranku sepenuhnya tersangkut pada anak dara yang semalam kulihat pulang dengan langkah melayang dan mata yang menyimpan api asmara yang terlalu berkilau.
--------------------------------------------------
Bagian II: Langkah Riang Ghalia dan Kilau yang Menyilaukan
✍️
Suara derit selop kain di lorong penghubung sayap tengah dan sayap belakang terdengar memecah keheningan. Langkah itu ringan, berirama cepat, dan melompat-lompat kecil seperti burung kedasih yang baru belajar mengepakkan sayap di pucuk cemara. Hatiku bergetar pelan. Hanya ada satu orang di griya ini yang melangkah dengan irama seringan itu: cucu kesayanganku, Ghalia.
Pintu jati berukir sulur melati itu berderit pelan saat didorong terbuka. Wajah Ghalia menyembul dari balik daun pintu, diiringi senyuman yang merekah begitu lebar hingga matanya menyipit menjadi dua garis bulan sabit yang memikat. Di tangannya, ia menatang sebuah nampan kuningan berukir kuno. Di atasnya terletak secangkir teh melati panas yang masih mengepulkan uap putih harum, didampingi dua butir kapulaga kering yang mengapung di permukaan air sewarna tembaga.
“Nenek sudah bangun rupanya,” sapanya riang, suaranya jernih dan manis seperti air pancuran pegunungan di pagi hari. Ia melangkah masuk, membiarkan aroma teh melati dan sedikit kapulaga beradu dengan tajamnya minyak kayu putih yang masih menguar dari tubuhku. “Aku tadi sengaja memetik melati segar yang baru mekar di dekat pancuran wudhu. Wanginya pekat sekali, Nek. Pikirku, ini teh yang paling tepat untuk menghangatkan persendian Nenek sebelum matahari naik sepenggalah.”
“Duduklah di sini, Nduk,” bisikku seraya menepuk bangku kayu jati berukir rendah di samping kursi goyangku. Suaraku parau, tertahan oleh keringnya tenggorokan dan beratnya beban batin yang belum sempat kucurahkan.
Ghalia meletakkan cangkir porselen kembang seruni itu di atas meja kecil berkaki tiga, lalu dengan kelincahan khas anak muda ia duduk bersimpuh di lantai terakota, tepat di sebelah lututku. Tanpa ragu, ia melingkarkan kedua lengannya yang ramping di atas pangkuanku, menyandarkan pipinya yang halus pada kain panjang bermotif truntum yang kukenakan. Dari jarak sedekat ini, aku bisa mencium aroma sabun mandi melati, keringat muda yang segar, dan aroma bunga cempaka yang ia selipkan di balik sanggul kecilnya yang agak berantakan.
Kuelus puncak kepalanya yang berambut lebat dan hitam legam. Rambut itu mewarisi kelembutan mendiang ibunya—anak perempuanku yang telah pergi mendahuluiku menghadap Sang Pencipta belasan tahun silam. Setiap kali memandang Ghalia, aku selalu merasa sedang memegang sebutir pualam rapuh yang diamanatkan langit kepadaku. Aku telah bersumpah di hadapan pusara ibunya untuk menjaganya dari duri dan beling dunia fana ini.
Tetapi pagi ini, saat kupandangi wajahnya yang mendongak menatapku, ada sesuatu yang membuat dadaku tercekat. Pipinya merona merah dadu, bukan karena hawa panas tungku dapur, melainkan oleh bara darah asmara yang mendidih bahagia. Binar di kedua bola matanya begitu gemerlap, berkilauan tanpa cela. Bagi orang kebanyakan, binar itu adalah tanda kebahagiaan paripurna. Namun bagi mata seorang nenek tua yang telah kenyang mengecap getirnya hidup, kilau itu terlalu menyilaukan—seperti kilau pedang bermata dua yang baru dicabut dari sarungnya.
“Nenek kenapa memandangiku seperti itu?” tanya Ghalia manja. Tangannya yang hangat meraih telapak tanganku yang kasar dan dingin, menggenggamnya erat seolah ingin membagikan luapan energi mudanya ke dalam tubuh tuaku. “Apakah wajahku belepotan arang dapur? Atau selendangku miring?”
“Tidak ada arang di wajahmu, Nduk,” jawabku perlahan, membiarkan jemariku menyusuri lekuk pipinya yang ranum. “Wajahmu bersih. Terlalu bersih, sampai-sampai Nenek bisa melihat apa yang sedang berkobar di dalam dadamu tanpa perlu kau ceritakan.”
Ghalia tersipu. Ia menundukkan kepala sejenak, namun senyum kemenangan di sudut bibirnya tak sanggup ia sembunyikan. “Dia datang menemuiku kemarin petang di gerbang batas desa, Nek. Dia berjanji... dia bersumpah demi langit dan bumi bahwa apa pun yang dikatakan orang-orang pasar tentang dirinya tidaklah benar. Katanya, semua gunjingan itu hanyalah iri hati para pedagang yang tersisih. Matanya saat mengucapkannya begitu sungguh-sungguh. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang jujur. Tak ada kepalsuan di sana, Nek. Sedikit pun tidak ada.”
Kata-katanya meluncur deras seperti air bendungan yang jebol. Ia berbicara dengan kecepatan orang yang sedang mabuk oleh keyakinannya sendiri, tidak memberi ruang bagi keraguan, tidak menyisakan celah bagi pertimbangan akal sehat.
Mendengar pembelaan yang begitu menggebu itu, batinku menjerit tertahan. Di satu sisi, bagian hatiku yang paling rapuh ingin ikut bersuka cita; siapa yang tidak ingin melihat cucu semata wayangnya tersenyum sebahagia bidadari? Namun, pengalaman sepuhku segera menyalakan tanda bahaya yang berdentang keras. Orang yang sedang mabuk anggur masih bisa disadarkan dengan basuhan air dingin; tetapi orang yang mabuk oleh angan-angan cintanya sendiri akan menganggap jurang terdalam sebagai padang rumput tempat bermain.
---------------------------------------------------
Bagian III: Gugurnya Ranting Kenanga Tua di Luar Musim
✍️
“Ulurkan tanganmu, Nduk. Buka sedikit kerai bambu itu,” titahku pelan, mengalihkan sejenak tatapanku dari matanya yang menyala.
Ghalia menurut tanpa banyak tanya. Ia bangkit setengah berdiri, menjangkau tali penarik kerai bambu wulung, lalu menariknya sejengkal ke atas dan mengikatkan talinya pada pasak kayu di kusen. Seketika itu juga, pemandangan pelataran sayap belakang griya terbentang di hadapan kami.
Di sana, tepat di tengah halaman yang berpagar batu bata merah berlumut, berdiri sebatang pohon kenanga tua. Batangnya sebesar pelukan dua orang dewasa, dengan kulit kayu yang bersisik kasar dan kelabu kelam. Pohon itu ditanam oleh mendiang suamiku pada hari kelahiran anak sulung kami, lebih dari empat dasawarsa yang lalu. Kenanga itu telah melewati puluhan kemarau panjang, puluhan musim hujan dengan banjir bandang yang merendam akarnya, namun ia selalu berdiri kokoh, berdaun rimbun, dan menebarkan wangi manis yang menenteramkan seluruh penjuru griya pada setiap rembang petang.
Musim kemarau ini memang terik, tetapi pohon kenanga bukanlah jenis pohon randu atau jati yang menggugurkan daunnya demi bertahan hidup. Daun-daunnya yang hijau tua mengilat selalu setia menempel pada dahan-dahannya, bahkan di pucuk-pucuk rantingnya masih tergantung kuncup-kuncup bunga kehijauan yang belum sempat mekar sempurna.
Tiba-tiba, tanpa aba-aba, sekelebat angin berhembus melintasi pekarangan. Angin itu tidak kencang, tidak pula bergemuruh layaknya puting beliung. Itu hanyalah hembusan angin kemarau yang kering dan berhawa hangat gersang. Namun, apa yang terjadi berikutnya membuat napasku tercekat di tenggorokan.
Begitu angin itu menyentuh mahkota pohon kenanga, ranting-ranting tua itu bergetar hebat dengan gemeresik yang tajam—suara seperti sobekan kain kafan yang digunting tergesa. Dan sebelum mata kami sempat berkedip, ribuan daun hijau tua yang masih basah oleh sari kehidupan terlepas secara serentak dari tangkainya. Daun-daun itu tidak melayang perlahan seperti dedaunan kering di musim gugur; mereka jatuh berhamburan laksana hujan anak panah yang ditembakkan dari langit, menghunjam tanah pelataran dengan dentingan ranting-ranting kecil yang patah seketika.
Hanya dalam hitungan belasan tarikan napas, dahan-dahan pohon kenanga tua itu menjadi gundul mengerikan, menyisakan kerangka kayu yang mencakar langit pagi yang pucat. Sementara di bawahnya, tanah merah pelataran yang merekah tertutup rapat oleh hamparan daun hijau yang berserakan kusut, bercampur bunga-bunga muda yang gugur sebelum sempat menebar wangi.