Bunga di Taman jiwa

Amrullah Ibrahim
Chapter #20

Dilema Sang Arsitek

BAGIAN I: TITIK BEKU DI LANTAI TIGA PULUH DUA

✍️

Suhu di dalam ruangan itu terkunci pada delapan belas derajat Celsius, tetapi rasa dingin yang menusuk tulang rusukku bukan berasal dari kisi-kisi pendingin udara yang mendesing di plafon gipsum berukir. Rasa dingin itu adalah racun purba yang menjalar di pembuluh darahku, membekukan persendian hingga jemariku yang menggenggam gulungan kalkir bergetar tanpa sanggup kutahan.

Aku berdiri tiga langkah di depan pintu ganda berlapis kulit sapi Italia yang baru saja terkatup rapat dengan denting magnetis kedap. Di hadapanku terbentang ruang kerja seluas seratus dua puluh meter persegi—menara gading pribadi milik Ghafar Syarif. Lantainya dilapisi marmer Nero Marquina hitam dengan urat-urat putih menyerupai petir yang membeku di bawah sol sepatuku. Di balik bentangan kaca monolitik setinggi empat meter, langit Jakarta di ambang senja tampak seperti kanvas kelabu yang membusuk.

Gumpalan awan mendung berwarna jelaga merayap dari utara, menelan pucuk-pucuk pencakar langit Sudirman satu demi satu. Tiada bias keemasan mentari sore ini; yang tersisa hanyalah bayangan kelabu raksasa yang menindas kota dalam keremangan ganjil. Di pantulan kaca raksasa itu, aku melihat siluet diriku: seorang arsitek muda berjas abu-abu yang mendadak tampak ringkih, seolah sehelai embusan angin kencang sanggup meruntuhkan seluruh kebanggaan yang kupupuk selama sepuluh tahun.

Detak jantungku serasa berhenti di tenggorokan. Udara yang kuhirup terasa tipis dan kering, berbau minyak lilin poles kayu jati, berkas kertas tebal, serta aroma cerutu Cohiba di asbak kristal meja konsol. Setiap tarikan napas menggores kerongkonganku laksana serpihan kaca.

Di tengah ruangan bertahta meja kerja raksasa yang dipahat dari sebatang kayu jati purba berusia dua ratus tahun berpelitur pekat bagai tar. Di balik meja itu, duduk bersandar seorang pria paruh baya berambut kelabu klimis, berompi kasmir hitam di atas kemeja putih berselubung manset emas. Pamanku. Kakak kandung ibuku yang selama belasan tahun kujadikan kiblat dalam meniti dunia rancang bangun modern.

Ghafar Syarif tidak langsung mengangkat kepala. Jemari tangannya yang berhias cincin giok hijau membolak-balik lembaran laporan kuartal, sementara ujung bolpoin Montblanc-nya mengetuk meja: *tok... tok... tok...* Ketukan yang berpadu dengan detak jarum jam antik dinding barat, menghujam pelipisku bagai paku tempa.

"Kaututup pintunya rapat-rapat, Fardan?" suaranya terdengar datar dan tenang, seolah sedang menyapa keponakannya yang baru pulang kuliah dari Delft. "Angin di luar sedang buruk. BMKG baru merilis peringatan badai petir untuk Jabodetabek. Jakarta selalu rapuh jika diguyur hujan lebih dari dua jam."

Aku tidak menjawab. Lidahku kelu, menempel di langit-langit mulut yang kering. Keringat dingin merembas di telapak tanganku, merusak tepi kertas kalkir biru yang kuremas erat. Dokumen itu—lembaran neraka yang kutemukan di brankas arsip subkontraktor dua jam lalu—terasa membakar kulitku seperti lempengan besi pijar.

---------------------------------------------------

BAGIAN II: JEBAKAN LEMBAR BIRU & KONFRONTASI KLAUSUL 14B

✍️

Aku melangkah maju. Derit sepatuku di atas marmer hitam terdengar asing—derap langkah seorang terdakwa mendekati tiang gantungan. Aku berhenti di sisi meja jati raksasa itu, lalu dengan satu sentakan kemarahan yang membuncah, kuhempaskan gulungan cetak biru dan berkas adendum bersampul biru tua itu ke atas meja.

*Brak!*

Hantaman berkas tebal itu memecah kesenyian steril ruangan. Gelas kristal di sisi kiri meja berguncang, menimbulkan riak melingkar di permukaan airnya. Ghafar meletakkan bolpoinnya. Ia mengangkat pandangan perlahan, menatap tumpukan kertas itu, lalu beralih ke wajahku dengan alis terangkat samar—sebuah keterkejutan palsu yang dipoles sedemikian rapi oleh pengalaman puluhan tahun di meja perundingan berdarah dingin.

"Apa maksud dari semua ini, Om Ghafar?" suaraku bergetar parau, terbakar amarah yang menggelegak. "Tolong jelaskan padaku sebelum aku kehilangan akal sehat di ruangan ini!"

Ghafar menyandarkan punggungnya ke kursi kulit ergonomis rancangan desainer ternama, melipat tangan di atas perut, lalu menatapku bagai guru memandangi murid merajuk. "Duduklah dulu, Fardan. Napasmu memburu seperti orang menaiki tiga puluh dua lantai tangga darurat. Di mana sopan santunmu? Sejak kapan prinsipal arsitek menggebrak meja direksi seperti juru lelang pasar ikan?"

"Aku tidak butuh duduk!" potongku tajam. Telunjukku gemetar menuding lembar adendum nomor lampiran tujuh yang terbuka di halaman tiga puluh empat. Di bawah kop resmi proyek *Nirwana Ecocity — Pengembangan Koridor Timur*, tercantum pasal berfon sembilan poin yang disamarkan dalam bahasa hukum berbelit: *Klausul 14B — Pengosongan dan Terminasi Hak Kelola Kawasan Konservasi Hayati Lembah Kenanga.*

"Klausul ini..." aku menelan ludah yang getir bagai empedu, "klausul ini menyatakan bahwa Lembah Kenanga—sembilan puluh hektare kebun pembibitan langka, mata air alami, sawah terasering, dan seratus empat puluh rumah panggung keluarga perajin lokal—akan diratakan buldoser minggu depan! Seluruhnya dialihfungsikan menjadi resor privat bintang enam lengkap dengan lapangan golf dan helipad!"

Ghafar hanya melirik berkas itu sekilas, tanpa sedikit pun riak bersalah.

"Dan yang lebih menjijikkan lagi," suaraku meninggi, memantul di kaca jendela yang merefleksikan mendung kelabu, "di lembar persetujuan akhir... di atas meterai sepuluh ribu rupiah... ada tanda tanganku! Tanda tangan lisensi Arsitek Utama Pratama milikku, lengkap dengan nomor registrasi Ikatan Arsitek Indonesia! Kapan aku menandatangani persetujuan penggusuran ini, Om? Kapan?!"

Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Di luar, kilat pertama membelah awan tanpa suara, menerangi siluet wajah Ghafar selama sepersekian detik dengan kilau keperakan yang dingin.

Tiga tahun hidupku kupertaruhkan untuk proyek *Nirwana Ecocity*. Aku begadang ratusan malam merancang ventilasi pasif bambu laminasi, memastikan tiada sebatang pohon kenanga pun ditebang, dan mendesain agar warga desa tetap menjadi pemilik sah tanah leluhur lewat pariwisata komunitas. Di forum arsitektur Singapura dan Venesia, aku membanggakannya sebagai mahakarya etika arsitektur Nusantara.

Kini semua keagungan itu runtuh menjadi lelucon keji. Desain humanisku hanyalah topeng kosmetik yang dipasang di atas moncong traktor dan rantai buldoser.

----------------------------------------------------

BAGIAN III: KEBOHONGAN YANG DIRAYAKAN: SINDIKASI BANK

✍️

Ghafar menghela napas panjang—bukan napas penyesalan, melainkan napas orang yang jengah meladeni kepolosan yang dianggapnya dungu. Ia meraih botol kristal di baki perak, menuang wiski malt tunggal ke dalam gelas rendah, lalu memasukkan dua butir es bulat. Dentang benturan es dan kristal itu berbunyi *kliting... kliting...*—begitu tajam laksana pisau bedah yang menyayat saraf kesadaranku.

Ia menyesap minumannya seteguk, membiarkan aroma gambut dan alkohol menguar sebelum kembali meletakkan gelasnya.

"Kau terlalu naif untuk ukuran peraih gelar master dari Delft, Fardan," ucapnya datar dan dingin. "Kau pikir gedung pencakar langit di kota ini didirikan dengan puisi? Kau pikir tiang pancang baja berdiameter dua meter dan semen pratekan bisa dibeli dengan jargon keberlanjutan serta senyuman petani kebun kenanga?"

"Jangan berkelit, Om!" sergahku, mencengkeram tepi meja jati hingga kuku-kukuku memutih. "Kau memalsukan tanda tanganku! Itu tindak pidana pemalsuan dokumen autentik dengan ancaman delapan tahun penjara!"

Ghafar tertawa kecil. Tawa hampa yang membuat tengkukku dingin. Matanya menyipit menatap lurus ke dalam pupil mataku.

"Ya. Memang aku yang memerintahkan tim legal kantor ini untuk menyalin tanda tangan dan stempel digitalmu," akunya tanpa ragu, seringan mengakui memesan kopi tanpa gula. "Dan tahukah kau mengapa aku melakukannya, keponakanku yang天才?"

Ia mencondongkan badannya ke depan, menopang dagu dengan tangan yang tertaut di atas tumpukan dokumen yang kulempar. Aura kuasanya menekan seperti air bah.

"Dua bulan lalu, konsorsium empat bank BUMN dan dua bank investasi Singapura mengancam menarik pinjaman sindikasi senilai empat koma delapan triliun rupiah," bisik Ghafar tajam. "Empat koma delapan triliun, Fardan! Jika pinjaman itu batal, Syarif Megacipta Holding akan gagal bayar obligasi dalam enam puluh hari. Sepuluh proyek kita mangkrak. Tiga ribu buruh dan staf kantor ini di-PHK massal. Dan imperium yang dibangun almarhum kakekmu akan disita kurator pengadilan!"

"Lalu kau mengorbankan Lembah Kenanga?!" seruku getir. "Kau menipu bank dengan mencatut namaku?!"

"Sindikasi bank itu mensyaratkan satu hal mutlak: *zero-risk land clearance*," balas Ghafar dingin. "Mereka tidak sudi ada tanah adat berstatus abu-abu di tengah kawasan komersial. Mereka butuh sertifikat hak guna bangunan murni, tanpa ada seratus empat puluh kepala keluarga yang sewaktu-waktu bisa memblokir jalan masuk dengan cangkul. Dan mereka butuh jaminan bahwa arsitek peraih penghargaan internasional—Fardan Fauzan, ikon arsitektur hijau negeri ini—telah menyetujui pengosongan itu secara teknis dan legal!"

Lihat selengkapnya